November 14, 2015

Barings Bank: Kasus Manajemen Risiko Perbankan

sumber: Bank Indonesia
Sewaktu saya masih menempuh pendidikan sarjana, saya sering menjemput ibu yang bekerja sebagai pengawas  perbankan Indonesia. Biasanya  tiap harinya beliau pulang sekitar jam 6 sore. Namun kondisi pada bulan November 1997 sedikit berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, ibu sering rapat hingga malam hari karena  membahas kondisi perbankan yang sedang limbung. Saat itu yang saya ingat ibu hanya mengatakan bahwa kondisi perbankan Indonesia sedang genting, media-media juga menambah suasana serasa mencekam karena pada akhirnya ada 16 bank yang ditutup. Penutupan bank atau sering disebut juga likuidasi bank dilakukan karena bank-bank tersebut tidak mampu lagi menjalankan kegiatan operasionalnya. Walaupun saat itu sedang terjadi krisis moneter di Indonesia serta Asia Tenggara, adanya likuidasi 16 bank juga membuka mata dampak akibat Paket Oktober 1988 terkait liberalisasi dan manajemen risiko perbankan. Waktu itu dengan modal Rp.1 miliar sudah dapat mendirikan bank baru.

Sebelumnya pada tahun 1995, Barings Bank yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu bank komersial tertua di dunia mengalami kolaps. Barings Bank didirikan pada tahun 1762 oleh Sir Francis Baring dan berkantor pusat di London. Kasus Barings Bank adalah salah satu kasus terbesar terkait manajemen risiko perbankan. Barings Bank mengalami kolaps karena kasus trading yang dilakukan pegawainya yang bernama Nicholas William Leeson atau biasa dipanggil Nick Leeson. Leeson mulai bergabung di Barings Bank pada tahun 1989. Pada tahun 1993, Leeson ditunjuk sebagai general manager dari cabang Barings Bank Futures di Singapura. Tugas Leeson adalah mengeksploitasi kesempatan-kesempatan yang hanya bersifat arbitrase dan berisiko rendah yang dapat meningkatkan perbedaan harga dari instrumen derivative ekuitas yang sama pada Singapore Money Exchange (SIMEX) dan Osaka Exchange (OSE). Namun kenyataannya, Leeson malah mengambil posisi yang lebih berisiko dengan membeli dan menjual sejumlah kontrak yang berbeda-beda di antara kedua stock exchange dimaksud atau jual beli kontrak yang bervariasi jenisnya. Leeson ternyata juga diberikan control terhadap fungsi trading dan back office.

Dengan kapasitas Leeson sebagai general manager, dia dapat menyembunyikan kegiatan trading yang tidak diotorisasi selama satu tahun karena dia mengelola fungsi trading dan back office. Senior management di Barings Bank tidak mengetahui karena mereka umumnya berlatar-belakang bank komersial dan minim pengetahuan mengenai trading. Seharusnya senior management dapat mencium adanya risiko, karena Leeson mencatatkan keuntungan besar yang cenderung tidak wajar. Mereka tetap mempercayai bahwa Leeson memiliki posisi yang ”match” antara SIMEX dan OSE, sehingga dengan demikian risikonya menjadi rendah. Pada kenyataannya Leeson melakukan trading kontrak derivative pada kedua exchange tersebut yang saling berbeda jenis dan seringkali posisi-nya ’mismatch’. Sebagai contoh, Leeson menggunakan strategi trading yang dikenal sebagai straddle dengan tujuan memperoleh keuntungan dengan menjual option put dan call dengan underlying instrumen yang sama, dalam hal ini indeks Nikkei 225. Posisi straddle pada umumnya akan menghasilkan keuntungan pada kondisi yang stabil namun akan menjadi kerugian yang besar ketika pasar menjadi volatile. Strategi straddle adalah berspekulasi pada stabilitas harga pasar. Strategi straddle sangat menguntungkan sepanjang Nikkei 225 diperdagangkan pada harga strike pada saat jatuh tempo karena baik opsi call dan opsi put menjadi tidak ada nilainya. Artinya, penjual opsi menerima premi penuh dan tidak membayar kewajiban. Jika indeks Nikkei berada di dekat harga strike saat jatuh tempo, Leeson masih untung karena premi yang diterima lebih besar dari kewajiban yang dialami baik jika opsi call (jika indeks naik) atau opsi put (jika indeks turun).

Leeson meningkatkan ukuran posisi terbukanya walaupun kerugiannya meningkat karena peningkatan volatilitas di pasar. Ketika gempa di Jepang menghancurkan nilai indeks ekuitas Nikkei 225 ke titik terendah, posisi trading Leeson yang tidak diotorisasi dimaksud menderita kerugian yang sangat besar dan kegiatannya tersebut diketahui namun telah terlambat. Leeson menciptakan suatu akun palsu bernomor 88888, yang umum disebut “five-eights account”, sebagai rekening penampungan untuk setiap premium dan kerugian yang ia buat. Leeson mengklaim bahwa dia membuka rekening dimaksud pada awalnya untuk menampung kerugian atas transaksi tunggal sebesar £.20.000 yang terjadi atas kesalahan akunting sampai dia dapat menyelesaikan kerugian dimaksud melalui transaksi trading. Sedangkan akun bernomor 92000 yang disebut akun switching (atas nama Barings Securities Japan, BSJ), akun bernomor ‘98007’ (atas nama Barings London) dan akun bernomor 98008 (atas nama Barings London untuk transaksi arbitrase Euroyen). Setelah mengeksekusi cross-trade, Leeson memerintahkan staf di bagian settlement merinci semua kontrak ke dalam beberapa transaksi dan mengubah harga transaksi sehingga hasil akhirnya menjadi sangat berbeda. Transaksi yang rugi bisa jadi untung dan sebaliknya. Leeson membukukan keuntungan di akun switching dan membukukan kerugian di akun 88888. Maka jika cross trade di bursa asli terjadi, pembukuan dan catatan Barings Bank berbeda dengan yang ada di bursa. Perubahan harga perlu dilakukan untuk mengelabuhi BSJ bahwa laba yang tercatat di akun 92000 adalah hasil aktivitas arbitrage yang sah. Dampak dari manipulasi ini adalah penggelembungan laba di akun 92000 atas biaya kerugian di akun 88888, yang juga menanggung kerugian besar dari transaksi gelap yang diambil Leeson.

Selain melakukan cross trade di SIMEX antara akun 88888 dan akun switching, Leeson juga melakukan transaksi fiktif antar akun tersebut yang sebenarnya tidak terjadi di bursa. Dampak dari transaksi di luar bursa ini, yang dilarang di SIMEX, sekali lagi menghasilkan laba di akun switching tetapi rugi di akun 88888. Intinya, dalam cross-trade ini Barings Bank melakukan transaksi dengan diri sendiri. Barings Bank tidak melakukan arbitrase untuk memanfaatkan perbedaan harga di SIMEX dan OSE, tetapi mengambil posisi terbuka yang nilainya sangat besar dan disimpan di akun 88888. Pernyataan laba dan rugi dari akun 88888 inilah yang sebenarnya mencerminkan dengan benar apakah posisi Leeson laba atau rugi. Hebatnya, detil akun ini tidak dikirim ke kantor treasury atau risk control yang terletak di London. Posisi Leeson di OSE diketahui publik karena memang OSE mengumumkannya setiap minggu. Namun transaksi di OSE hanya mencerminkan setengah transaksi yang dilakukan Leeson. Jika ia ambil posisi long di OSE, dia harus short dua kali lipat jumlah kontrak di SIMEX agar posisinya netral. Ini mengingat strategi perdagangan Leeson adalah arbritage untuk ambil keuntungan dari perbedaan harga antara SIMEX and kontrak Nikkei 225 di OSE. Transaksi arbitrage ini, yang disebut ‘switching’ oleh Barings Bank, mensyaratkan Leeson membeli kontrak yang lebih murah dan menjual sekaligus pada harga tinggi di pasar yang lain. Aktivitas arbitrage ini berisiko kecil karena posisi akhirnya selalu matched.

Masalahnya, Leeson tidak melakukan short di SIMEX sebagaimana seharusnya. Sebaliknya, ia juga mengambil posisi long dengan nilai yang sama di SIMEX. Ada transaksi gelap yang dia sembunyikan di apa yang disebut akun error bernomor 88888. Dia belakangan juga diketahui menggunakan akun ini untuk mengeksekusi transaksi gelap lain di kontrak berjangka obligasi pemerintah Jepang (Japanese Government Bond/JGB) dan transaksi opsi indeks Nikkei 225. Transaksi-transaksi tersebut begitu besar sehingga akhirnya menghancurkan Barings. Tidak itu saja, Leeson juga melakukan transaksi gelap lain yang tidak kalah berisiko. Pada akhir Januari 1994, Leeson mulai menjual opsi put dan call di Nikkei 225 equity index. Pada November dan Desember 1994 dia menjual 37.000 kontrak opsi opsi put dan opsi call pada harga strike dan tenor yang sama. Sebagai penjual opsi Leeson menerima pembayaran yang disebut premi opsi. Dia membukukan premi penjualan opsi di akun error bernomor 88888. Harga strike straddle yang diambil Leeson berkisar dari 18.500 ke 20.000. Maka dia berharap bahwa indeks Nikkei 225 terus berkisar di kisaran 19,000 – 20,000 agar nilai premi lebih besar dari kewajiban yang harus dibayarkan kepada pembeli premi. Tetapi gempa bumi Kobe menghancurkan strategi opsi Leeson. Pada hari gempa terjadi, 17 January 1995, indeks Nikkei 225 ditutup pada 19.350 poin. Seminggu kemudian indeks turun menjadi 18.950 sehingga posisi straddle Leeson mulai guncang. Opsi call yang dijual Leeson mulai menurun nilainya sehingga opsi tidak ada nilainya, dan ini berarti keuntungan bagi Leeson. Tetapi opsi put yang dia jual menjadi sangat bernilai bagi pembelinya. Apalagi ketika Nikkei terus turun. Kerugian Leeson di opsi put ini menjadi tidak terbatas, dan sepenuhnya bergantung pada level Nikkei saat jatuh tempo. Sebaliknya, laba dari opsi call terbatas pada nilai premi yang diterima.

Ketika Nikkei turun 1.000 poin menjadi 17.950 pada 23 Januari 1995, Leeson mencatatkan kerugian dari posisinya di kontrak berjangka dan berpotensi merugi besar dari menjual opsi put. Tak bisa balik lagi, Leeson, mencoba secara sendirian membalik arah sentimen negatif Pada 20 Januari 1995, tiga hari setelah gempa bumi, Leeson membeli 10.814 kontrak berjangka yang akan jatuh tempo Maret 1995. Tak ada yang tahu apakah dia membeli kontrak tersebut karena dia mengira pasar telah bereaksi berlebihan atas gemba bumi Kobe atau karena dia ingin mendongkrak Nikkei untuk melindungi posisi long di dalam strategi straddle. (Leeson tidak melakukan hedge atas posisi opsinya sebelum gempa bumi. Pembelian kontrak berjangka indeks Nikkei 225 setelah gempa tidak dapat ditafsirkan sebagai bagian dari program hedging karena kalau hedging dia akan menjual kontrak berjangka bukan membeli). 
Dewan Pengawasan Bank yang dibentuk oleh Bank of England untuk melakukan investigasi hancurnya Barings Bank percaya bahwa alat yang digunakan Leeson adalah cross trade. Cross trade adalah transaksi jual beli efek atau kontrak derivatif yang dilakukan di lantai bursa oleh satu pihak saja. Transaksi ini bisa dan boleh dilakukan jika satu anggota bursa (AB) menerima order beberapa nasabah untuk membeli dan menjual efek atau kontrak yang sama pada harga yang sama. Syaratnya, AB tersebut telah memasang harga bid dan offer secara terbuka dan tidak ada anggota bursa lain yang mengambil harga tersebut. Di SIMEX, AB harus memasang bid dan offer price tiga kali sebelum melakukan cross trade dan harus dieksekusi pada harga pasar.

Di bulan Februari 1995, auditor Barings Bank akhirnya menemukan penipuan yang dilakukan Leeson ketika Leeson ke Kuala Lumpur. Bank of England pada akhir pekan itu mencoba mem-bailout Barings Bank tetapi tidak berhasil. Barings Bank dinyatakan insolvent pada 26 Februari 1995 dan administrator yang ditunjuk mulai mengambil alih kendali Barings Group dan anak perusahaanya. Setelah dikalkulasi, aktivitas Leeson mengakibatkan kerugian sebesar $.1,4 miliar. Hal ini tidak memungkinkan Barings Bank untuk tetap bertahan, sehingga pada bulan Maret 1995 Barings Bank dibeli oleh ING Bank hanya dengan nilai £.1. Kesepakatannya adalah ING Bank juga akan menanggung utang yang dimiliki oleh Barings Bank. Pada tahun 2001, ING menjual operasi ING Baring ke ABN Amro seharga $.275 juta dan menjadikan ING Barings sisanya menjadi divisi perbankan Eropa sehingga hanya tersisa divisi manajemen aset saja, yakni Baring Asset Management (BAM). Pada Maret 2005, BAM dipecah dan dijual oleh ING ke MassMutual, yang membeli aktivitas manajemen investasi BAM dan hak menggunakan nama Baring Asset Management dan ke Northern Trust.

Pengelolaan manajemen risiko di perbankan Indonesia mengacu pada Basel Committee on Banking Supervision, dimana setidaknya ada 8 risiko yang wajib dikelola oleh bank. Untuk diingat bahwa risiko tidak dapat dihindari, yang dapat kita lakukan adalah mengurangi dampaknya.

Risiko-risiko dalam perbankan adalah:
  • Risiko Kredit: risiko kewajiban dari debitur/pihak lain
  • Risiko Pasar: risiko akibat kondisi ekonomi/pasar
  • Risiko Likuiditas: risiko kewajiban bank memenuhi kewajiban bank
  • Risiko Operasional: risiko pada kegiatan operasi seperti sistem dan manusia
  • Risiko Hukum: risiko tuntutan hukum
  • Risiko Strategik: risiko akibat kebijakan yang tidak tepat
  • Risiko Reputasi: risiko menurunnya kredibiltas bank
  • Risiko Kepatuhan: risiko tidak memenuhi peraturan yang berlaku
Ketika perbankan Indonesia mengalami gangguan/kolaps, Bank Indonesia memberikan pinjaman agar bank tidak ambruk. Tujuannya agar bank dapat melakukan kegiatan bisnis bagi bank-bank yang kesulitan likuiditas. Ini sejalan dengan tugas Bank Indonesia sebagai lender of last resort (LOLR). Hal ini biasa biasanya ditujukan kepada bank yang memiliki dana pihak ketiga besar karena dikhawatirkan akan menciptakan efek domino di industri perbankan. Sehingga ketika kepercayaan masyarakat kepada perbankan turun, maka masyarakat akan menarik dananya di bank. Peristiwa krisis keuangan tahun 1997-1998, dimana bank papan atas saat itu mengalami rush money (penarikan dana) oleh nasabahnya. Ketika itu nasabah kuatir bahwa dana tabungan mereka tidak dapat diambil menyebabkan sebagian besar dana pihak ketiga di bank berkurang. Hal ini berdampak bank kekurangan likuiditas yang menyebabkan bank harus mencari dana pinjaman ke bank lain. Saat itu likuiditas di pasar terbatas dan pun bunga yang ditawarkan agak tinggi, membuat bank-bank mengarah bangkrut. Pada akhirnya bank-bank tersebut mendapatkan bantuan likuiditas bank indonesia (BLBI). Namun sayangnya beberapa pemilik bank menyelewangkan BLBI untuk membayar hutang atau digunakan untuk investasi spekulasi dengan harapan dapat menghasilkan uang lebih banyak. Kenyataannya harapan tidak seindah kenyataannya. Hasilnya peristiwa yang terjadi pada tahun 1997/1998 ini menjadi kontroversi dan komoditas politis yang belum selesai.

No comments:

Post a Comment