Situs ini memiliki 3 bagian:

October 8, 2018

Aksi Korporasi Perseroan: Contoh dan Keuntungan Dalam Investasi Saham

Aksi korporasi (corporate action) merupakan kegiatan yang lazim dilakukan oleh perseroan dalam upaya ekspansi bisnis. Biasanya kegiatan aksi korporasi akan berdampak langsung kepada struktur formasi pemegang saham perseroan. Aksi korporasi lazim dilakukan oleh perseroan dengan cara menerbitkan surat utang dan/atau saham, untuk mendapatkan pendanaan dari investor. Dalam kegiatan aksi korporasi, suatu perseroan melakukan daya ungkit finansial. Perseroan dapat saja mendapatkan pinjaman dari bank atau pihak ketiga untuk ekspansi bisnisnya, namun kegiatan tersebut tidak dapat disebut sebagai aksi korporasi . Tidak semua aksi korporasi terkait kebutuhan dana perseroan untuk melakukan ekspansi bisnis, adakalanya perseroan melakukan aksi korporasi untuk melakukan refinancing utang ataupun merubah existing pemegang saham.

Aksi korporasi perseroan bisa dianalogikan seperti toko pakaian dan pemilik toko pakaian. Selama ini pemilik toko pakaian hanya mengandalkan penghasilan dari penjualan pakaian. Ketika dia ingin mengembangkan bisnisnya dia memilih untuk menjalin kerjasama dengan rekannya daripada meminjam uang di bank. Kerjasama menyepakati bahwa keuntungan akan dibagi rata diantara mereka. Namun dalam perjalanan bisnis mereka, rekannya tidak mau lagi melanjutkan bisnis dan memberikan kepemilikan atas sebagian toko pakaian kepada 2 temannya dengan imbalan mendapatkan uang tunai. Dengan demikian toko pakaian tersebut saat ini memiliki 3 orang pemilik.

Berikut Aksi Korporasi:
1.Penerbitan Saham Baru melalui Convertible Bond: Convertible bond adalah surat utang yang dapat dikonversi menjadi saham. Ketika dikonversi menjadi saham, maka akan mengubah modal disetor, agio saham, ekuitas dan jumlah saham beredar. Ketika investor membeli convertible terdapat pernyataan bahwa pelunasan obligasi dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu: pelunasan dengan tunai dan dikonversi dengan saham pada harga tertentu.

Contoh: Convertible bond senilai Rp10 juta dapat ditukar dengan 500 saham ABC. Dengan demikian harga obligasi setara dengan Rp20.000 per lembar saham. Ketika harga ABC berada di Rp25.000, maka sebaiknya investor mengeksekusi obligasi tersebut menjadi saham dengan keuntungan sebesar Rp2.500.000 (Rp25.000 - Rp20.000) x 500 saham.

2.Penerbitan Saham Baru melalui Right Issue: Right issue adalah kegiatan menerbitkan saham kembali yang ditawarkan kepada pemegang saham lama (existing) sebelum ditawarkan kepada masyarakat umum. Pemegang saham lama yang mendapatkan hak untuk membeli saham baru terlebih dahulu disebut dengan preemptive right. Right lazimnya diberikan secara gratis kepada pemegang saham lama dan nantinya hanya membayar sebesar harga pelunasan (strike price) jika mau mengeksekusi right tersebut. Right dapat dijual jika pemegang saham lama tidak mau memegang right. Right issue akan meningkatkan modal disetor, ekuitas dan jumlah saham beredar.

Contoh: ABC memiliki data sebagai berikut:
  • Modal disetor = 1 juta saham@ nominal saham Rp100 = Rp100 juta
  • Agio saham = Rp50 juta
  • Saham baru = 1 juta saham@ nominal saham Rp100 = Rp100 juta
  • Strike price = Rp200
Maka:
  • Strike price = Rp200
  • Nominal saham = Rp100
  • Agio saham = Rp100
Ilustrasi Right Issue

3.Penerbitan Saham Baru melalui Waran: Waran hampir serupa dengan right issue, namun perbedaan antara waran dan right issue adalah sebagai berikut:
Waran vs Right Issue
Pemegang saham lama tidak akan menukarkan waran dengan saham jika harga pasar saham berada di bawah strike price. Waran juga dapat diperjual belikan seperti right. (Untuk melihat jatuh tempo waran di BEI bisa dilihat di web.ksei.co.id/registered_securities/warrant).

4.Penambahan Jumlah Saham melalui Stock Split: Stock split dilakukan dilakukan ketika manajemen perseroan melihat bahwa harga sahamnya sudah terlalu tinggi sehingga sulit dijangkau oleh investor retail. Dengan melakukan stock split maka harga saham akan turun dan secara otomatis jumlah saham beredar akan bertambah. Jika saham perseroan tidak likuid, jumlah sahamnya sedikit, dengan melakukan stock split akan bertambah jumlah sahamnya. Stock split 1:2 artinya satu saham lama akan digantikan dengan 2 saham baru.

Contoh: ABC melakukan stock split 1:2
  • Jumlah saham beredar = 1 juta saham 
  • Harga pasar = Rp500
  • Kapitalisasi pasar = Rp500 juta (Rp500 dikali 1 juta saham)
Setelah stock split:
  • Jumlah saham beredar = 2 juta saham
  • Harga pasar = Rp250
  • Kapitalisasi pasar = Rp500 juta (Rp250 dikali 2 juta saham)

5.Pengurangan Jumlah Saham melalui Reverse Stock: Reverse stock adalah kebalikan dari stock split yang bertujuan untuk menurunkan jumlah saham beredar dan meningkatkan harga saham. Salah satu alasan perseroan melakukannya untuk menciptakan nilai karena sahamnya akan lebih tinggi. Perlu diingat bahwa stock split dan reverse stock tidak berpengaruh pada modal disetor dan ekuitas perseroan.

Contoh: DEF melakukan reverse stock 5:1
  • Jumlah saham beredar = 1 juta saham 
  • Harga pasar = Rp500
  • Kapitalisasi pasar = Rp500 juta (Rp500 dikali 1 juta saham)
Setelah reverse stock:
  • Jumlah saham beredar = 200 ribu saham
  • Harga pasar = Rp2.500
  • Kapitalisasi pasar = Rp500 juta (Rp2.500 dikali 200 ribu saham)

6.Penambahan Jumlah Saham melalui Saham Bonus: Saham bonus merupakan saham yang berasal dari kapitalisasi agio saham. Agio saham merupakan selisih harga nominal dan harga jual ketika menawarkan saham. Saham bonus diberikan kepada pemegang saham lama secara gratis. Rasio 1:2 artinya setiap pemegang 1 saham lama akan mendapatkan 2 saham baru. Dengan adanya saham bonus maka modal disetor juga akan bertambah dan agio saham berkurang, namun ekuitas perseroan jumlahnya tetap.

Contoh: ABC mengeluarkan saham bonus 2:1
  • Jumlah saham beredar = 1 juta saham 
  • Modal disetor = 1 juta saham @ nominal saham Rp100 = Rp100 juta
  • Agio saham = Rp50 juta
  • Harga nominal = Rp100
Setelah saham bonus:
Ilustrasi Saham Bonus
Adanya saham bonus menambah jumlah saham beredar saat ini sebanyak 1 juta saham ditambah 500 ribu saham bonus. Modal disetor bertambah Rp50 juta = Rp100 (harga nominal) dikali 500 ribu saham (jumlah saham bonus). Harga saham bonus adalah Rp50 juta = Rp100 (harga nominal) dikali 500 ribu saham (jumlah saham bonus). Dengan demikian agio saham menjadi Rp0 = Rp50 juta (agio saham sebelum saham bonus) – Rp50 juta (penerbitan saham bonus).

7.Penambahan Jumlah Saham melalui Dividen Saham: Dividen saham berasal dari kapitalisasi laba ditahan. Dividen saham memiliki nominal yang sama dengan harga pasar saham yang ada, tetapi dikonversi dengan harga pasar. Pengeluaran dividen saham akan menaikkan jumlah saham beredar dan modal disetor, namun jumlah ekuitas tetap. Dividen saham umumnya dilakukan sebagai pengganti dari dividen tunai. Daripada membagikan dana tunai yang dibutuhkan, perseroan mengeluarkan dividen saham walaupun nanti jumlah saham bertambah (dilusi). Dividen saham 2:1 artinya setiap pemilik lama yang mempunyai 2 saham akan menerima 1 dividen saham.

Contoh: DEF mengeluarkan dividen saham 1:1
  • Jumlah saham beredar = 1 juta saham 
  • Modal disetor = 1 juta saham @ nominal saham Rp100 = Rp100 juta
  • Agio saham = Rp50 juta
  • Harga nominal = Rp100
  • Laba ditahan = Rp150 juta
Setelah dividen saham:
Ilustrasi Dividen
Adanya dividen saham menambah jumlah saham beredar. Modal disetor bertambah Rp100 juta = 1 juta saham (penerbitan dividen saham) dikali Rp100 (harga nominal). Dana dividen saham adalah Rp100 juta = 1 juta saham (penerbitan dividen saham) dikali Rp100 (harga nominal). Saldo laba ditahan menjadi Rp50 juta = Rp150 juta (laba ditahan) – Rp100 juta (dividen saham).

Kegiatan aksi korporasi dapat mengubah: 
  • Jumlah saham beredar berubah ketika right issue, waran, convertible bond, stock split, reverse stock, saham bonus dan dividen saham 
  • Ekuitas berubah ketika right issue, waran dan convertible bond 
  • Semua kegiatan aksi korporat secara teoritis akan mengakibatkan turunnya harga saham, kecuali reverse stock yang membuat harga saham naik.
Perseroan yang berkembang akan lebih sering melakukan aksi korporasi. Walaupun tidak berarti perseroan yang tidak melakukan aksi korporasi tidak akan berkembang. Prosedur perseroan yang akan melakukan kegiatan aksi korporasi harus meminta izin ke OJK dan BEI. Karena aksi korporasi merupakan transaksi yang bersifat material bagi perseroan yang dapat mempengaruhi proporsi kepemilikan saham investor. Persyaratan mengenai aksi korporasi diatur dalam Peraturan OJK dimana emiten/perseroan publik harus menyampaikan pengajuan dan dokumen terkait (yang jumlahnya tidak sedikit) itu dipelajari oleh OJK. Saat ini OJK sedang melakukan penyederhanaan pengajuan dan dokumen aksi korporasi yang dilakukan dengan cara elektronik (Baca juga: Laba Usaha Perusahaan Dibagikan: Dividen).

Info POJK:
Rancangan POJK Pengajuan Aksi Korporasi Secara Elektronik