September 30, 2017

IOSCO Principles: Upaya Menciptakan Pasar Modal Yang Lebih Efektif, Efisien dan Aman

Beberapa waktu lalu, saya mendapatkan kesempatan mengikuti workshop tentang International Organization of Securities Commissions (IOSCO) Principles di Jakarta. Pembawa materi adalah senior commissioner dari Australian Securities and Investments Commission (ASIC). ASIC adalah otoritas independen yang bertugas mengatur dan mengawasi sektor jasa keuangan bidang pasar modal di Australia. Tugas yang dimiliki ASIC serupa dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) namun bedanya OJK mengatur dan mengawasi seluruh sektor jasa keuangan di Indonesia.

Memang setiap negara memiliki karakteristik industri pasar modal yang tidak sama, salah satunya disebabkan adanya kebijakan yang dibuat. Sekedar contoh the U.S Securities Exchange and Commission (SEC) selaku otoritas pengawas pasar modal di Amerika Serikat memiliki kewenangan yang lebih luas dalam penanganan tindak pidana dibandingkan dengan otoritas pengawas lain. Dalam beberapa kasus seperti: insider trading, SEC berwenang untuk menerapkan hukum sipil terhadap kejahatan pasar modal. Saat ini ASIC, OJK dan SEC tergabung dalam IOSCO. 

IOSCO adalah organisasi internasional para regulator pasar modal di dunia yang didirikan pada tahun 1983 dan berkantor di Madrid, Spanyol. Pada waktu pendirian IOSCO pertama kali baru ada 11 negara yang menjadi anggotanya. Cikal bakal IOSCO berawal dari Inter American Regional Association yang didirikan pada tahun 1974 sebagai wadah asosiasi regulator pasar modal di kawasan Amerika.  Tujuan objektif dari IOSCO adalah pertama: melindungi kepentingan investor, kedua: memastikan pasar yang efisien, efektif dan transparan serta ketiga: menguransi risiko sistemik. Bagi negara-negara yang tergabung dalam IOSCO memiliki benefit karena merupakan forum regulator lintas negara.

Keanggotan IOSCO terdiri dari:
1.Ordinary Member: Anggotanya adalah otoritas regulator pengawasan pasar modal dan derivative. Saat ini beranggotakan 125 anggota di dunia. Indonesia mulai bergabung dengan IOSCO pada tahun 1984 melalui Kementerian Keuangan sebagai kementerian yang membawahi Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam). Pada saat itu Undang-Undang Pasar Modal (UU PM) belum disusun dan barulah pada tahun 1995, Dewan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah mensyahkan UU PM. Dengan berdirinya OJK sebagai otoritas independen di luar Pemerintah, OJK mencatatkan diri sebagai anggota IOSCO ke-100 pada 24 Januari 2014.

2.Associate Member: Anggota-anggotanya merupakan badan yang berasal dari Pemerintah, badan dibawah kementerian yang masih menjadi bagian dari pemerintah atau badan yang memiliki yurisdiksi lebih dari 1. Saat ini terdiri dari 18 anggota di seluruh dunia.

3.Affiliate Member: Anggota-anggotanya dapat berbentuk Self Regulatory Organizations (SROs) dan pasar modal di dunia. Saat ini memiliki 64 anggota. Di Indonesia saat ini setidaknya terdapat 3 SROs yaitu: PT Bursa Efek Indonesia, PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia dan PT Kustodian Sentrak Efek Indonesia.

IOSCO dan OJK
IOSCO terus bekerja secara mendalam dalam upaya meningkatkan standar akuntansi agar perusahaan memperoleh modal secara efisien melalui pasar global surat berharga. Hal ini bertujuan untuk membangun jembatan yang dapat digunakan para penerbit efek. Oleh karena itu IOSCO terus mengalami transformasi, terutama dalam kebijakan yang memberi dampak kepada menciptakan pasar modal yang efektif dan efisien serta kegiatan penanggulangan kejahatan pasar modal. Kasus-kasus kejahatan pasar modal yang masif seperti kasus Enron, Worldcom, Parmalat dan Vivendi telah menyebabkan kerugian besar bagi investor. Untuk itu pada tahun 2002 IOSCO membuat kebijakan bagi anggota-anggotanya untuk memfasilitasi penegakan dan pertukaran informasi secara cross border. Anggota-anggota IOSCO memiliki tanggung jawab mengatur lebih dari 90% pasar sekuritas global, untuk itu IOSCO adalah asosiasi strategis yang diharapkan dapat terus memantau dinamika yang terjadi. Sebut saja beberapa tantangan yang dimiliki bidang Pasar Modal adalah kejahatan cyber, pencucian uang dan pendanaan terorisme. IOSCO menjadi garda terdepan yang memimpin otoritas regulator pasar modal di dunia. Untuk itu IOSCO menerbitkan suatu "prinsip" yang menjadi pedoman bagi para pelaku di industri Pasar Modal agar memiliki rambu-rambu dalam menjalan kegiatannya.

IOSCO Principles terdiri:
1.  Prinsip terkait Regulator;
2.  Prinsip terkait Self Regulatory;
3.  Prinsip Penegakan Hukum;
4.  Prinsip Kerja sama antar Lembaga;
5.  Prinsip untuk Penerbit;
6.  Prinsip untuk Auditor, Credit Rating Agency dan informasi lain;
7.  Prinsip Kontrak Investasi Kolektif;
8.  Prinsip Perantara Pasar;
9.  Prinsip Pasar Sekunder;
10.Prinsip terkait Kliring dan Penyelesaian.

Tidak semua negara anggota IOSCO menerapkan IOSCO Principles secara utuh, mengingat setiap negara memiliki sistem dan kebijakan yang berbeda. Dengan demikian anggota IOSCO memiliki tanggung jawab sendiri atas kebijakan. Saat ini IOSCO Principles sudah diadopsi oleh negara-negara G20, dimana Indonesia termasuk juga menjadi anggotanya.

Profil IOSCO:
  • Alamat: Oquendo 12, 28006, Madrid, Spanyol
  • Sekretaris Umum: Paul P. Andrews
  • Phone: +34 (91) 5559368
  • Website IOSCO: IOSCO 38 Principles

No comments:

Post a Comment