September 20, 2017

Market Size Pasar Modal: Market Capitalization Saham dan Total Outstanding Obligasi

Dalam teori manajemen keuangan diajarkan cara menghitung size (besaran) suatu perusahaan. Beberapa cara diantaranya adalah dengan mengetahui market capitalization saham (kapitalisasi pasar) dan outstanding obligasi. Cara mengukurnya sangat mudah: 
  • Market Cap. = Harga Saham per lembar x Jumlah Saham Beredar 
  • Total Out. Obligasi = Besarnya Nilai Emisi Obligasi Yang Belum Jatuh Tempo 
Tulisan ini hendak membahas tentang market size pasar modal Indonesia. Seperti diketahui, industri pasar modal terdiri dari 2 jenis yaitu efek ekuitas (saham) dan efek surat utang (obligasi). Keduanya memiliki karakteristik yang berbeda. Saham adalah bukti kepemilikan sehingga tidak ada kewajiban pelunasan sedangkan obligasi adalah utang yang ketika jatuh tempo harus dilunasi. Perusahaan-perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki kapitalisasi pasar yang berbeda-beda. Semakin besar nilai kapitalisasi pasar perusahaan, semakin mahal perusahaan tersebut dihargai oleh investor. 

Contoh: ABC harga sahamnya Rp.500/lembar dan jumlah saham beredarnya sebanyak 100 juta lembar saham, sedangkan XYZ harga saham Rp.5.000/lembar dengan jumlah saham beredar 1 juta lembar saham. 
Manakah perusahaan yang dihargai lebih baik oleh investor?
  • Kapitalisasi saham ABC = Rp.500 x 100 juta saham = Rp.50 miliar
  • Kapitalisasi saham XYZ = Rp.5.000 x 1 juta saham = Rp.5 Miliar
Dari perbandingan di atas ABC dihargai lebih tinggi dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp.50 miliar, walaupun harga saham ABC hanya sebesar Rp.500/lembar. 

Banyak orang yang secara psikologis terkecoh dengan harga saham yang kecil dianggap lebih murah daripada saham dengan harga lebih tinggi. Memang dengan harga lebih rendah, jumlah saham yang kita dapatkan bisa lebih banyak namun jika terkait saham tersebut undervalued atau overvalued (murah/mahal), maka perlu dilakukan analisis fundamental. Syukur-syukur kita bisa mendapatkan saham dengan harga rendah dan undervalued. Mengambil contoh di atas jika kita punya uang Rp.50 juta maka perhitungan:
  • Jumlah saham ABC dibeli = Rp.50 juta : Rp.500 = 100.000 lembar saham
  • Jumlah saham XYZ dibeli = Rp.50 juta : Rp.5.000 = 10.000 lembar saham 
Harga saham dapat berubah setiap saat, tergantung dari harga penutupan pada hari tertentu. Kalau kapitalisasi pasar suatu saham tidak banyak berubah dalam kurun waktu tertentu, biasanya saham tersebut termasuk saham tidak likuid (tidak aktif diperdagangkan). Selain itu jumlah saham yang beredar juga dapat berubah jika perusahaan melakukan aksi korporat seperti: buyback, right issue, stocksplit, reverse stock dll. Penting juga untuk membandingkan antara kapitalisasi pasar dengan nilai ekuitas perusahaan. Perusahaan yang baik memiliki kapitalisasi pasar di atas nilai ekuitasnya. 

Contoh: ABC memiliki neraca:
-Total asset = Rp.100 miliar
-Total utang = Rp.60 miliar
-Total ekuitas = Rp.40 miliar
Melihat contoh ini maka kapitalisasi pasar ABC lebih tinggi dari nilai ekuitas dengan selisih Rp.10 miliar (Rp.50 miliar – Rp.40 miliar). Selain itu dengan membandingkan antara kapitalisasi pasar dengan nilai ekuitas maka akan didapatkan Price to Book Value (PBV). Dalam contoh ABC maka PBVnya adalah 1,25 (Rp.50 miliar/Rp.40 miliar). PBV yang murah adalah PBV yang mendekati 0, yang artinya tidak terdapat selisih besar antara kapitalisasi pasarnya dengan nilai ekuitasnya. Umumnya PBV yang dianggap murah adalah PBV yang berada di antara 0 sampai dengan 3.

Mengetahui kapitalisasi pasar dan outstanding obligasi dari suatu negara menjadi salah satu faktor penting dalam mengukur ekonomi makro. Keduanya memberikan gambaran bagaimana tingkat investasi di suatu negara. Logika sederhananya semakin besar kapitalisasi pasar suatu negara perekonomian semakin baik, tetapi semakin besar nilai outstanding obligasi adalah semakin buruk. 

*dalam triliun Rupiah
Pada tabel di atas bisa kita lihat besaran market size dari pasar modal Indonesia dari tahun 2012 sampai dengan Agustus 2017. Untuk kapitalisasi pasar trend 2012 sampai 2014 naik kemudian terjadi penurunan pada tahun 2015. Setelah itu sejak 2016 kembali naik. Sebaliknya outstanding obligasi (total utang pemerintah dan utang swasta) sejak tahun 2012 sampai dengan Agustus 2017 cenderung bertambah. Saat ini kapitalisasi pasar dari pasar modal Indonesia di kawasan Asia Tenggara berada di urutan ketiga dengan $.484,32 miliar. Urutan pertama diduduki oleh Singapura dengan $.551,75 miliar dan urutan kedua Thailand sebesar $.488,80 miliar. Berada dibawah Indonesia adalah Malaysia ($.422,19 miliar), Filipina ($.274,74 miliar) dan Vietnam ($.118,91 miliar). Dilihat dari sisi outstanding debt, urutan pertama adalah Thailand ($.345,07), diikuti Malaysia ($.332,33) Singapura ($.325,67), Indonesia ($.289,05), Filipina ($.142,23) dan Vietnam ($.48,37).

Singapura masih merajai pasar modal di Asia Tenggara, dengan jumlah perusahaan yang mencatatkan saham di bursa efek lebih dari 700 perusahaan, sedangkan di Indonesia baru lebih dari 550 perusahaan. Namun tidak perlu berkecil hati karena utang Indonesia lebih sedikit dibandingkan dengan Thailand, Malaysia dan Singapura. Apalagi saat ini sedang hangat berita tentang pemerintah kita yang dianggap tidak bisa mengelola utang negara. Saya yakin jika utang digunakan untuk suatu yang produktif, seperti pengerjaan infrastruktur, makan kita bisa menyamai Singapura. Memang tidak mudah untuk bersaing dengan Singapura, bisa kita lihat Singapura memiliki sistem/sarana yang lebih baik di kawasan Asia Tenggara. Bahkan sebagian besar perusahaan multi nasional company mempunyai kantor regional di Singapura. Tapi tidak ada yang mustahil jika kita mau terus berusaha.

No comments:

Post a Comment