September 19, 2017

Kapitalisme: Sekilas Pasar Modal dan Bursa Efek Indonesia

Dalam ilmu ekonomi setidaknya ada 2 mazhab ekonomi yang memiliki perbedaan yang tajam. Bahkan sepertinya kedua mazhab tersebut membangun blok-blok antar negara yang membawa permusuhan panjang dengan “klaim” mazhab mereka adalah yang terbaik. Mazhab tersebut adalah mazhab klasik dan mazhab sosialis. Tokoh mazhab klasik adalah JB Say, David Ricardo dan Adam Smith, yang juga dikenal sebagai bapak kapitalisme sedangkan tokoh mazhab sosialis adalah Saint Simon, Robert Owen dan Karl Marx. Intinya adalah Mazhab Klasik berpendapat peranan Pemerintah dalam kegiatan ekonomi sebaiknya tidak besar (baca diserahkan ke pasar/swasta) sebaliknya mazhab sosialis justru menghendaki peran pemerintah yang signifikan. Pada zaman "perang dingin" Amerika Serikat menjadi pemimpin dari negara-negara yang sepakat dengan pendekatan kapitalisme sedangkan Uni Soviet pendekatan sosialis.

Perekonomian Indonesia ada di Mazhab yang mana? Masa-masa awal kemerdekaan negara kita, perekonomian era orde lama cenderung kepada sosialis. Kita membangun segala sesuatu dengan kebersamaan dan kerjasama. Maka dari itu kita mengenal yang namanya ekonomi kerakyatan (pemikiran dari Bung Hatta dan digaungkan oleh Profesor Mubyarto dari Universitas Gadjah Mada) serta koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Saat era orde baru memimpin, perekonomian Indonesia mulai berganti pendulum mengarah ke kapitalisme. Yang terjadi pada zaman ini kecenderungan negara-negara di dunia mengikuti Amerika Serikat dimana kapital menjadi kekuatan untuk mendorong perekonomian suatu negara. Dan karena itu sekarang kita mengenal yang namanya pasar modal dan bursa efek (Baca: Market Size Pasar Modal Indonesia). Lepas dari segala pro-kontra sejarah, secara defacto setidaknya usia bursa saham dunia sudah berumur lebih 250 tahun. Banyak hal dapat terjadi dalam kurun waktu tersebut. Perkembangan sistem di bursa efek dunia berkembang pesat. Bayangkan tempo dulu untuk bertransaksi saham menggunakan papan pencatat dan lembaran saham yang berlapis-lapis. Kini zaman telah mengubahnya menjadi automated trading system dan scripless. Inilah manfaat tehnologi yang memberikan kontribusi dengan mempermudah dan mempermurah sesuatunya.

Pada tanggal 13 Agustus 2017, saya mengikuti kegiatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam rangka Ulang Tahun Pasar Modal ke-40 tahun. Sebagaimana ulang tahun pada umumnya, pada Ulang Tahun Pasar Modal ke-40 juga terdapat selebrasi dan hadiah-hadiah. Dan inilah salah satu momen yang ditunggu-tunggu. Acara dimulai dengan kegiatan fun walk yang diikuti oleh undangan terdiri dari regulator, kementerian, emiten dan masyarakat umum. Awalnya acara akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo, namun didelegasikan kepada Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan. Setiap berada di BEI, saya selalu merasakan suatu antusiasme. Saya berkunjung pertama kali ke BEI pada tahun 2001. Sepanjang tahun 2001 sampai dengan tahun 2017 terjadi banyak perubahan. Jika pembaca adalah seseorang yang sudah lama berkecimpung di pasar modal pasti mengetahui perkembangan di BEI. Salah satu perkembangan tersebut adalah trading floor (tempat transaksi saham).

Tempo dulu terdapat banyak komputer dan orang-orang dari perusahaan perantara pedagang efek (PPE), disebut juga broker, sekarang semua itu sudah tidak terlihat lagi. Sebelum BEI berkantor di kawasan bisnis Sudirman, BEI sempat berpindah-pindah tempat. Salah-satunya di gedung Kementerian BUMN, jalan Medan Merdeka Selatan. Kegiatan perdagangan saham pada waktu itu masih didominasi secara manual. Kebetulan saya pernah mendengar secara langsung pengalaman dari seseorang pelaku sejarah dalam kegiatan bursa efek, saat itu bursa efek bernama Bursa Efek Jakarta. Sejarah BEI telah mengalami perjalanan pasang surut. Didirikan  tahun 1912 oleh pemerintah Hindia Belanda, tidak lama bursa efek ditutup akibat Perang Dunia I. Setelah itu Bursa Efek kembali dibuka kemudian tidak lama ditutup kembali akibat Perang Dunia II. Akhirnya Bursa Efek diresmikan kembali pada tanggal 10 Agustus 1977 oleh Presiden Soeharto. Dan tanggal tersebut lah yang dirayakan sampai hari ini, dimana saat itu perusahaan yang melakukan go public adalah PT Semen Cibinong sebagai emiten pertama. Jika anda investor pasar modal dan memiliki waktu luang, cobalah untuk mampir ke BEI. Di sana anda dapat masuk ke Galeri Sejarah BEI (GSB) untuk melihat sejarah perjalanan pasar modal Indonesia. Berbeda dengan Galeri Sejarah yang banyak menampilkan barang-barang bersejarah, GSB mengusung konsep digital. Anda tidak perlu takut masalah biaya, karena tidak ada biaya sama sekali untuk masuk ke dalam GSB. Selain itu jam buka adalah Senin s.d. Jumat dari 10.00-11.00 WIB dan 14.00-16.00 WIB.

Banteng Wulung 
Kembali ke cerita Ulang Tahun Pasar Modal ke-40 di atas, pada momen tersebut BEI meluncurkan ikon bernama “Banteng Wulung” sebagai harapan pasar yang kuat. Ikon Banteng ini begitu spesial karena terbuat dari fosil kayu berusia jutaan tahun dengan berat mencapai 7 ton. Ketika memberikan kata sambutan peluncurannya, Tito Sulistio (Direktur Utama BEI) mengatakan bahwa diperlukan bantuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara yang menggunakan pesawat angkut dan helikopter untuk mengangkut Banteng Wulung. BEI adalah perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (d/h Bapepam-LK) untuk menyelenggarakan kegiatan usaha. Perlu diketahui bahwa BEI adalah self regulatory organization (SRO) yang artinya lembaga yang diberi kewenangan oleh Undang-Undang untuk mengatur anggotanya. Anggota-anggota dari BEI adalah PPE. Bagi investor yang ingin melakukan kegiatan transaksi Efek tidak bisa langsung ke BEI, namun harus menggunakan jasa PPE.

Saat ini terdapat kurang lebih 120 PPE di Indonesia. Selanjutnya di BEI juga terdapat emiten dan perusahaan publik, yaitu perusahaan yang melakukan penawaran umum dan/atau perusahaan mencatatkan sahamnya di Bursa. Selain BEI, SRO lain yang terdapat di Indonesia adalah PT Kustodian Sentral Efek Indonesia dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia. Pengalaman pribadi saya setidaknya pernah mengunjungi 3 bursa efek di dunia, yaitu: BEI, Bursa Efek Frankfurt dan Bursa Efek Stuttgart. Ketiga bursa tersebut sangat identik dalam artian tidak terdapat orang di trading floor. Hal ini berbeda dengan trading floor di bursa New York Stock Exchange (NYSE) Amerika Serikat, yang terlihat lebih padat dan sibuk. Sejauh yang saya tahu kegiatan transaksi efek di NYSE yang hiruk pikuk ini memang sengaja dipelihara.

Akhir kata, saat ini sedang ramai diberitakan rencana divestasi saham PT Freeport Indonesia melalui BEI. Tujuannya agar masyarakat Indonesia dapat juga merasakan manfaat ekonomiSetelah puluhan tahun kekayaan sumber daya alam kita di Papua dikuasai Freeport McMoran Inc. Amerika, akhirnya mereka bersedia untuk melepas sebagian besar sahamnya. Freeport McMoran Inc. sendiri tercatat sebagai perusahaan terbuka di NYSE. Adanya rencana divestasi ini di satu sisi menggembirakan. Masyarakat Indonesia dapat merasakan benefit dari salah satu tambang emas dan tembaga terbesar di dunia. Sekedar informasi, tambang Grasberg di Papua sebelumnya berbentuk pegunungan dan saat ini telah menjadi cekung dengan kedalaman lebih dari 1.000 meter. Selain itu tambang Grasberg memberikan kontribusi besar bagi pendapatan Freeport McMoran Inc. Walaupun begitu euforia ini harus dijawab dengan kemampuan kita untuk membeli saham yang akan dilepas tersebut. Mengingat nominalnya tidak kecil. Itulah sedikit cerita seluk beluk Pasar Modal dan Bursa Efek Indonesia. Selamat ulang tahun yang ke-40.

Info peraturan Bursa Efek:

2 comments: