Situs ini memiliki 3 bagian:

September 1, 2017

Wakil Manajer Investasi: Sang Pengelola Dana Investor

Sertifikat WMI
Peter Lynch dari Fidelity Investment adalah seorang legenda dan fenomena di dunia fund manager (Baca juga: Peter Lynch Fund Manager Terbaik: Tips Metode GARP). Lynch dikenal karena memiliki keahlian dan kemampuan di atas rata-rata sebab mampu mengelola dana investasi mencapai miliaran dollar dengan imbal hasil rata-rata sebesar 29% per tahun. Imbal hasil 29% per tahun bukanlah angka yang kecil, maka wajarlah jika ada wakil manajer investasi (WMI) yang menjadikan Lynch sebagai panutan dalam mengelola dana investor. Tulisan ini akan membahas tentang WMI (fund manager).

Definisi ringkas mengenai WMI adalah orang yang memiliki keahlian investasi (dibuktikan dengan lulus ujian kecakapan WMI) dan sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk mengelola dana investor yang dikelola manajer investasi (MI). Hal yang harus dicatat, seseorang yang bekerja di MI dan belum memiliki izin WMI tidak diperbolehkan untuk mengelola dana investor. Idealnya seorang WMI bekerja di MI, namun demikian ada beberapa perusahaan di luar MI yang juga mempekerjakan pegawai yang memiliki izin WMI. Biasanya perusahaan tersebut memerlukan keahlian WMI untuk kegiatan investasi perusahaan.

Awalnya seorang WMI hanya diizinkan untuk bekerja di perusahaan efek (perusahaan perantara pedagang efek, penjamin emisi efek dan MI), namun sejak tahun 2014 OJK melakukan relaksasi peraturan yang memperbolehkan WMI dapat bekerja di luar perusahaan efek. Dengan demikian membuka kesempatan WMI untuk berkarir di luar perusahaan efek. Dalam dunia pengelolaan dana investasi, investor yang sudah memilih berinvestasi melalui MI, tidak perlu memiliki keahlian dan waktu khusus untuk melakukan analisa portofolio efek secara komprehensif sebab tugas utama mereka sudah diambil alih oleh WMI. Seorang WMI bertugas mengelola dana, melakukan analisa efek dan berinvestasi pada portofolio efek menurut kaidah peraturan pasar modal yang berlaku. Artinya walaupun sang WMI menginvestasikan dana nasabah di portofolio efek dan memberikan imbal hasil yang tinggi, namun jika melanggar kaidah peraturan pasar modal, seorang WMI dapat dianggap lalai dalam menjalankan tugasnya.

Bagi yang ingin mendapatkan izin WMI, ada 2 tahapan yang harus dilalui:
  1. Lulus ujian yang diselenggarakan oleh Panitia Standar Profesi Pasar Modal atau mengikuti pelatihan di The Indonesia Capital Market Institute
  2. Mengajukan izin WMI ke OJK untuk mendapatkan surat keputusan.
Adapun materi-materi yang perlu dikuasai dalam ujian kecakapan WMI adalah Hukum dan Etika WMI, Perekonomian, Analisa Kuantitatif, Analisa Laporan Keuangan, Analisa Efek Ekuitas, Analisa Efek Pendapatan Tetap dan Manajemen Portofolio. Untuk soal ujian kecakapan WMI adalah soal pilihan berganda berbahasa Indonesia yang terdiri dari 100 soal dengan waktu pengerjaan selama 2 jam. Peserta yang mendapatkan nilai minimal 60 dinyatakan lulus ujian kecakapan WMI. Untuk biaya ujian WMI melalui Panitia Standar Profesi sebesar Rp750 ribu sedangkan melalui TICMI bervariasi dari Rp3,5 juta dan Rp15 juta.

Selanjutnya jika sudah memiliki izin WMI, maka seorang pemegang izin WMI diwajibkan untuk mengikuti Pendidikan Profesi Berkelanjutan (PPL) setiap 2 tahun sekali yang diselenggarakan oleh asosiasi WMI (saat ini asosiasi WMI yang ada adalah Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia - PWMII). Di dalam kegiatan PPL, pemegang izin WMI mendapatkan pendalaman dan pengkinian terkait kondisi industri pengelolaan dana. Jika pemegang izin WMI tidak mengikuti PPL maka izin WMI yang bersangkutan dipertimbangkan untuk dibekukan oleh OJK. Seorang WMI handal biasanya akan dilihat dari berapa lama mengelola dana, besarnya dana yang dikelola serta reputasi yang dimiliki. Sampai saat ini terdapat lebih dari 850 orang pemegang izin WMI yang bekerja di MI dan jumlah mereka setiap tahun terus bertambah. Mereka tersebar bekerja di 85 MI yang ada di Indonesia.

Setiap WMI sejatinya akan berkompetisi secara positif dengan WMI lain untuk memberikan imbal hasil tertinggi bagi nasabahnya. Semakin baik kinerja dan besar dana kelolaan seorang pemegang izin WMI, maka semakin besar fee yang akan diperoleh. Dengan adanya PWMII, WMI memiliki tempat untuk berdiskusi dan juga memiliki perwakilan suara ketika membahas suatu rancangan peraturan atau sedang membahas isu hangat. PWMII saat ini berkantor di gedung Artha Graha kawasan bisnis Sudirman (SCB). Untuk diketahui saat ini jumlah pemegang izin WMI yang aktif sudah berjumlah lebih dari 1.800 WMI. Pada ukuran Asia Tenggara, pasar modal di Indonesia memang belum semaju dan sebesar pasar modal di Singapura. Namun OJK beserta Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berupaya untuk mengembangkan industri pasar modal Indonesia. Salah satu contoh usaha tersebut adalah sudah terdapat produk bernama dana investasi real estat (disingkat DIRE. Di Singapura disebut real estate investment trust - REIT) yang bertujuan untuk mengakomodasi perusahaaan pengembang perumahan di Indonesia untuk mencatatkan aset properti mereka di BEI. Sekadar informasi, ada sebuah grup properti besar di Indonesia yang mencatatkan REIT di Singapura dengan nilai lebih dari Rp30 triliun, seandainya dapat dicatatkan dalam bentuk DIRE maka akan lebih banyak investor Indonesia yang merasakan manfaatnya.

Produk-produk pengelolaan dana yang sophisticated, seperti DIRE, tidak bisa dihalangi akan bermunculan di Indonesia. Dengan banyaknya varian investasi, tentu bagi penerbit akan memiliki beragam produk yang ditawarkan sesuai dengan kebutuhan investor mereka yang beragam. Selain itu bagi investor mereka memiliki pilihan yang bervariasi yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan mereka. Katakanlah perusahaan dana pensiun biasanya memiliki karakter investasi yang panjang namun stabil. Jika ditaruh pada instrumen investasi seperti obligasi pemerintah, kurang disukai karena memberikan yield yang rendah. Sedangkan jika ditaruh pada obligasi perusahaan swasta memang memberikan yield yang lebih tinggi, namun disertai dengan risiko yang tinggi karena kemungkinan default. Untuk itu ada beberapa dana pensiun yang menyukai produk derivatif seperti DIRE yang mengandalkan pada arus income yang lebih tinggi dari yield obligasi pemerintah namun relatif lebih aman dari obligasi perusahaan swasta. Sebagai contoh dana pensiun dari Jepang kabarnya banyak berinvestasi pada DIRE di Singapura karena investasi properti di Singapura terus mengalami kenaikan secara rerata dari tahun ke tahun dibandingkan dengan investasi properti di Jepang.

Adanya produk-produk pengelolaan dana investasi baru yang dibuat oleh MI secara langsung berpengaruh pada kebutuhan terhadap pemegang izin WMI yang akan terus bertambah. Dan menurut saya saat ini industri pengelolaan dana di Indonesia masih membutuhkan banyak pemegang izin WMI. Sekedar hitung-hitungan kasar, saat ini jumlah reksa dana konvesional di Indonesia kurang lebih berjumlah 1.600 reksa dana konvensional (jika ditambah dengan exchange traded fund, efek beragun aset, kontrak pengelolaan dana dan dana investasi real estat maka jumlahnya lebih banyak lagi). Sehingga rasio reksa dana konvesional per pemegang izin WMI adalah 2 banding 1. Artinya 1 orang pemegang izin WMI mengelola 2 reksa dana konvensional. Peran WMI selain memiliki keahlian dalam portofolio pengelolaan dana investasi harus juga memiliki integritas yang baik. Integritas salah satunya memiliki kepatuhan dan etika dalam menjalankan tugas. Ada aturan-aturan yang memang tertulis di peraturan yang melarang/membolehkan WMI tetapi mungkin juga ada beberapa kaidah aturan yang tidak tertulis dalam peraturan. Aturan-aturan ini akan membuat industri pengelolaan dana investasi tetap terjaga pada jalurnya dan tentunya diharapkan dapat membuat industri dapat bertambah maju.

Beberapa waktu lalu terdapat laporan dari masyarakat tentang dana investasi miliknya yang tidak dapat ditarik. Modusnya sang WMI "menjual" izin WMI yang dimiliki dan membujuk masyarakat untuk menaruh dana kepadanya dengan mengiming-imingi imbal hasil rate tetap per tahun, yang tentu lebih tinggi dari imbal hasil di pasar. Setelah menandatangani kontrak dan memberi kuasa kepada WMI, dana tersebut ditaruh pada beberapa instrumen yang masyarakat sendiri belum tentu tahu ditaruh di instrumen apa. Kira-kira masyarakat tinggal terima beres saja, semua ditangani oleh sang WMI. Namun setelah beberapa lama berjalan kinerja portofolio menurun sehingga imbal hasil yang biasanya diterima menjadi berkurang dan ketika membutuhkan dananya, dana tersebut tidak dapat ditarik.

Beberapa catatan yang perlu diketahui: 
  • Pemegang izin WMI tidak boleh menerima/mengambil dana dari nasabahnya lalu ditempatkan di rekening pribadi WMI. Investor dapat mentransfer dana investasi kepada MI atau agen penjual resmi yang mendapatkan izin OJK. 
  • Pemegang izin WMI tidak boleh mengelola dana investasi masyarakat menggunakan kapasitasnya sebagai pemegang izin WMI namun dikelola secara pribadi. Dana investasi dikelola oleh tim investasi yang terdiri dari beberapa orang yang bekerja di perusahaan investasi yang telah mendapatkan izin usaha operasional dari OJK. 
  • Pemegang izin WMI tidak boleh menjanjikan imbal hasil pasti dengan rate tertentu kepada nasabahnya. Investasi memiliki risiko karena adanya fluktuasi nilai atas aset yang terdapat dalam portofolio. 
  • Dana nasabah yang berinvestasi di MI disimpan oleh bank kustodian (BK) yang bertugas sebagai kustodi. Dengan demikian MI hanya sebagai pengelola dana saja. 
  • BK/MI wajib menyampaikan informasi posisi nilai investasi kepada nasabahnya secara rutin. 
  • Nasabah dapat menarik dana investasinya sewaktu-waktu dibutuhkan. 

Yang jelas saat ini dibutuhkan lebih banyak WMI untuk mengembangkan industri pengelolaan dana investasi, apalagi jika WMI tersebut pernah memiliki pengalaman dalam pengelolaan dana investasi di luar negeri. Dengan makin berkembangnya produk-produk pengelolaan dana investasi tentunya akan memberi manfaat kepada investor karena mereka memiliki banyak pilihan investasi. Akhir kata semoga suatu saat nanti ada WMI yang memiliki keahlian dan kemampuan seperti Peter Lynch.

Info WMI: