October 19, 2017

Discounted Cash Flow: Template Gratis Menghitung DCF Untuk Valuasi Saham

Metode discounted cash flow (DCF)  adalah metode analisa fundamental yang paling sering digunakan oleh analis dalam melakukan valuasi saham. Konon Warren Buffet juga menggunakan metode DCF untuk melakukan valuasi saham.  Walaupun sebagian besar orang menggunakan metode DCF, namun tidaklah mudah untuk menggunakannya. DCF memerlukan asumsi-asumsi yang valid pada proyeksinya. Metodenya dengan melihat arus kas dari sebuah perusahaan kemudian dilakukan proyeksi untuk beberapa tahun ke depan. Nilai yang diperoleh di masa depan tersebut lalu didiskon dengan rate yang diharapkan (required rate of return) sehingga diperoleh nilai kas saat ini. DCF diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi arus kas terdiskon.

sumber: safaribookonline
DCF sering digunakan dalam valuasi investasi, valuasi real estate serta valuasi hak paten. Beberapa ahli mengatakan bahwa filosofi dasar DCF sudah digunakan sejak zaman Mesir dan Babilonia kuno. Namun penggunaan DCF mulai dikenal ketika terjadi krisis great depression tahun 1929 di Amerika Serikat. Saat itu Irving Fisher (penulis The Theory of Interest) dan John Burr Williams (penulis The Theory of Investment Value) dalam buku karya mereka mendorong untuk menggunakan DCF dalam valuasi investasi. Fisher dan Williams adalah investor yang handal pada zamannya dan formula investasinya masih diakui dalam investasi zaman ini.  Untuk memproyeksikan arus kas kedepan biasanya dilihat pertumbuhan dari pendapatan, laba bersih dan deviden perusahaan. Metode valuasi DCF cocok bila dipakai untuk menghitung nilai wajar suatu perusahaan yang pemasukan laba/cash flow nya stabil, sehingga kestabilan pemasukan dan pertumbuhannya menjadi lebih bisa diprediksi.

Tulisan ini akan membahas metode DCF menggunakan laba bersih perusahaan. Setiap perusahaan yang beroperasi akan mencari laba, tanpa laba maka perusahaan tidak memiliki kestabilan dan keberlanjutan usaha di masa depan. Umumnya waktu untuk melakukan proyeksi laba menggunakan kurun waktu data 5 s.d. 10 tahun. Sebaiknya jangan kurang dari 5 s.d. 10 tahun karena data-data dapat menjadi kurang valid. Maka dari itu banyak investor konservatif yang tidak berani investasi pada perusahaan yang baru berdiri. Apa yang saya biasa lakukan adalah mencari nilai buku dari perusahaan tersebut kemudian diproyeksi arus kas dengan menggunakan pertumbuhan laba perusahaan setiap tahun. Setelah diperoleh nilai terminal (terminal value) dan EPS proyeksi, kemudian semua nilai itu kita buat menjadi nilai masa kini (present value) dengan membaginya dengan required rate of return. Nah untuk menghitung required rate of return tidak mudah, ada yang menggunakan BI repo (risk free date), ada memakai Capital Aset Pricing Model (CAPM), dan juga ada yang menggunakan Weighted Average Cost of Capital (WACC). Semua tergantung analis dan jenis perusahaan yang dievaluasi dan asumsi yang digunakan. Sekali lagi DCF dapat menimbulkan gangguan jika asumsi-asumsi yang digunakan tidak tepat/berubah. Pengalaman saya melakukan valuasi saham tetap menggunakan DCF namun dikombinasikan dengan metode valuasi lain. Selain itu perlu diingat untuk menggunakan margin of safety sebelum melakukan investasi. Dengan demikian kita memiliki pengaman dalam melakukan investasi.

Contoh: XYZ memiliki data-data keuangan tahun 2016:
  • Total aset = Rp.120 miliar
  • Total utang = Rp.70 miliar
  • Total ekuitas = Rp.50 miliar
  • Laba bersih = Rp.5 miliar
  • BI repo = 4%
  • Pertumbuhan laba bersih (5 tahun) = 12% per tahun
  • Saham beredar = 1 miliar saham
  • Harga pasar saham = Rp.62
Nilai buku sebesar Rp.50 miliar dibagi dengan 1 miliar saham yaitu Rp.50 per saham. Earning per Share (EPS) sebesar Rp.5 miliar dibagi 1 miliar yaitu Rp.5. Artinya setiap 1 lembar saham XYZ memiliki laba sebesar Rp.5. Dan kita ketahui bahwa pertumbuhan laba bersih sebesar 1,12 per tahun (1 + 0,12) sehingga pada tahun 2017 diharapkan EPS menjadi Rp.5,6 (5 dikali 1,12). Lalu pada tahun 2018 sebesar 6,72 (5 kali (1,12)^2) begitu selanjutnya. Sehingga pada tahun 2020 (tahun ke-5) EPS yang diharapkan sebesar Rp.8,81 per saham. Selanjutnya kita mencari nilai terminal (terminal value) XYZ. Ada beberapa cara untuk mencarinya, ada yang menggunakan proyeksi cash flow atau juga proyeksi free cash flow. Disini kita menggunakan nilai buku ditambah dengan pertumbuhan laba bersih untuk 5 tahun adalah Rp.88,12 (Rp.50 kali (1,12)^5). Dan jika Rp.88,12 di present value menjadi 72,43 (88,12 (1,04)^5).

Sehingga valuasi saham XYZ adalah Rp.72,43 + Rp.7,24 = Rp.79,67. Dengan demikian saham XYZ adalah saham yang undervalued karena nilai intrinsik saham Rp.79,67 berada di atas harga pasar Rp.62. Berdasarkan metode DCF, saham XYZ layak dikoleksi. Perhitungan yang digunakan menggunakan perhitungan yang sederhana, dengan asumsi-asumsi yang mudah dan data pertumbuhan statis. Pada prakteknya untuk menghitung DCF tidaklah mudah, asumsi/variabel yang digunakan bersifat dinamis dan lebih banyak variabel yang digunakan. Saya pernah menghitung suatu harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) jika menggunakan perhitungan DCF sederhana maka nilai bukunya rendah, tetapi prakteknya saham tersebut diperdagangkan 6 kali nilai bukunya (PBV 6 kali). Di BEI sendiri terdapat beberapa saham yang harganya naik lebih dari 2 kali lipat dalam setahun, dimana kenaikan tersebut memang berbanding lurus dengan kenaikan ekuitasnya. Jika harga naik tanpa dibarengi kenaikan ekuitas maka PBV akan naik, namun jika harga saham naik dan ekuitas juga naik maka PBV cenderung tetap. Inilah saham-saham yang secara fundamental sangat layak untuk dikoleksi, apalagi jika PBV-nya wajar (dibawah 3 kali).

Saya pribadi tidak menggunakan DCF secara murni dengan alasan tidak mudah untuk mengukur besarnya asumsi yang digunakan dalam DCF seperti arus kas dalam tahun pertama, tahun kedua dan selanjutnya. Yang saya gunakan adalah DCF yang lebih simpel yang sudah dimodifikasi berdasarkan faktor-faktor keuangan yang menurut saya penting seperti: net income, total equity, book value, beta dan lain-lain. Dengan menggunakan faktor dan asumsi ini, saya lebih mudah untuk menggunakan data-data dalam melakukan valuasi harga saham, hal ini tentu lebih baik daripada saya menggunakan DCF dengan asumsi yang complex (njelimet) yang saya sendiri tidak bisa menghitungnya. Contohnya saya sudah melihat permodelan DCF yang dibangun oleh dosen keuangan pengajar kelas MBA dan finance dari New York University, Aswath Damodaran, bagi saya terlalu sulit untuk menggunakannya. Apa yang saya lakukan mengkombinasikan DCF model saya, dengan book value rata-rata dan harga berdasarkan ramalan regresi. Bagi saya ini lebih efektif menggabungkan fundamental dan tehnikal analisis untuk valuasi saham. Dalam beberapa hal, menurut saya, valuasi saham tidak harus menggunakan formula yang rumit dan panjang. Kalau anda bisa menggunakan formula yang rumit dan panjang silahkan saja, namun yang penting adalah konsistensi dalam melakukan valuasi anda. Dalam hal ini saya melihat kepada Lo Kheng Hong (LKH) dalam melakukan analisa dan valuasi saham. Bagi saya apa yang dilakukan pria kelahiran Jakarta tahun 1959 ini cukup sederhana, melihat potensi pendapatan perusahaan setiap tahun lalu dibandingkan dengan besarnya biaya perusahaan. Setelah dia melihat prospek positif dari suatu saham, lalu lakukan eksekusi dan selanjutnya biarkan waktu yang membuat saham itu bergerak naik. Nah kebanyakan investasi yang ada kurang maksimal (tidak berhasil) bukan karena faktor salah valuasi melainkan faktor waktu (baca kesabaran) yang belum terwujud. Hal inilah yang ditunjukkan oleh LKH dalam melakukan investasinya, time is gold. Dan saya kira tidak banyak orang yang memiliki kemampuan untuk mengelola waktu menjadi suatu hal yang menguntungkan bagi investasinya. DCF memang formula valuasi yang penting tapi bukanlah yang terpenting. 
Template gratis DCF disini.

No comments:

Post a Comment