October 13, 2017

Gojek Bisnis Masa Kini: Tips Memulai Bisnis Start-Up

Aplikasi Gojek
Dalam keseharian saya menuju kantor dan kembali ke rumah, saya menggunakan sarana tranportasi umum. Berangkat dari rumah menggunakan motor ke stasiun kereta Jurang Mangu dilanjutkan dengan naik kereta listrik menuju stasiun Tanah Abang. Setibanya di stasiun Tanah Abang, sudah ada transportasi lain yang saya gunakan menuju kantor yaitu: transportasi online by Gojek ride. Setiap pagi bagi pengguna transportasi online di kawasan stasiun Tanah Abang sudah punya tempat khusus untuk penjemputan, sebabnya transportasi online tidak boleh menjemput di dekat pintu stasiun. Bagi pengguna jasa transportasi lain, di dekat pintu keluar sudah tersedia ojek pangkalan (opang), bajaj dan angkutan kota. Bagi pekerja di Jakarta yang setiap hari menggunakan sarana transportasi umum, berangkat/pulang kantor memerlukan perjuangan ekstra, naik kereta listrik sudah berdesak-desakan dengan penumpang lain, belum nantinya di jalan terkena kemacetan dan polusi. Inilah perjuangan hidup bekerja di Jakarta namun tinggal di pinggir Jakarta. 

Saat ini setidaknya ada 3 perusahaan transportasi online di Jakarta dan sekitarnya, yaitu: Gojek, Grab dan Uber. Kompetisi diantara ketiganya terlihat makin intens. Mereka tidak segan untuk memberikan harga promo/spesial kepada penumpang setiap harinya demi mendapatkan pelanggan setia. Sebagai gambaran dari stasiun Tanah Abang menuju kantor saya berjarak sekitar 5 km, jika menggunakan ojek dan bajaj biayanya Rp.25 ribu dengan cash. Pada transportasi online, metode pembayaran menggunakan 2 cara, yaitu: cash dan electronic. Jika menggunakan electronic, kita mendapatkan harga promo sehingga membayar lebih murah daripada cash. Untuk range harga transportasi motor online, harga yang saya bayarkan berkisar dari Rp.6 ribu sampai dengan Rp.10 ribu. Perubahan harga bergantung kepada jam ketika kita melakukan pemesanan. Jika memesan sebelum dan setelah jam sibuk maka bisa mendapatkan harga lebih murah. Dengan perbedaan harga dan kemudahan dalam melakukan pesanan antara transportasi motor online dan tranportasi konvensional (ojek, angkutan umum dan bajaj), banyak orang mulai berpindah ke transportasi online. Menggunakan tranportasi online setidaknya saya merasakan 2 manfaat, yaitu: hemat dan simpel.

Tulisan ini khusus membahas tentang Gojek karena merupakan aplikasi transportasi online Indonesia yang sedang marak dibicarakan. Gojek adalah brand dari PT Gojek Indonesia yang didirikan pada tahun 2010 oleh Nadiem Makarim dan Michaelangelo Moran. Awal mula bisnis Gojek, Makarim dan Moran melihat adanya peluang dari opang yang menunggu lama untuk mendapatkan penumpang. Dengan menunggu lama di pangkalan, waktu opang ini menjadi tidak efektif. Makarim dan Moran memikirkan kemudahan melalui order dari penumpang ke operator lalu diteruskan ke opang. Keuntungan bagi opang hal ini membuat waktu mereka efektif tidak harus menunggu lama untuk mendapat pesanan, bagi pelanggan kemudahan layanan antar dan tidak perlu proses tawar-menawar serta bagi Gojek ini mendapatkan revenue sharing dari opang dengan skema 80:20. Awal mulanya pemesanan Gojek dilakukan menggunakan telepon, saat ini Gojek sudah menggunakan pemesanan melalui aplikasi Android dan iOS. Di usianya yang ke-7, Gojek sudah makin berkembang dari yang tadinya hanya layanan antar penumpang menggunakan motor (Go-ride), sekarang memiliki beberapa layanan lain. 
Layanan selain Go-ride:
  • Go-car layanan antar penumpang dengan mobil
  • Go-food layanan beli dan antar makanan dengan motor
  • Go-send layanan antar barang dengan motor
  • Go-pulsa layanan top-up pulsa online
  • Go-shop layanan beli dan antar barang dengan motor
  • Go-mart layanan belanja online dan antar dengan motor
  • Go-tix layanan beli tiket ke bioskop dengan motor
  • Go-box layanan antar barang dengan mobil
  • Go-massage layanan pijat
  • Go-clean layanan membersihkan rumah
  • Go-glam layanan dandan/make up
  • Go-auto layanan perawatan mobil
  • Go-med layanan antar obat dengan motor
  • Go-bluebird suatu kerjasama dengan taxi Blue Bird 
Bisnis yang dimiliki Gojek termasuk dalam inovasi disruptif, yang artinya suatu inovasi bisnis yang menciptakan pasar baru, menganggu pasar yang sudah ada dan penggunaan tehnologi maju. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk/jasa dengan cara advanced sehingga mengakibatkan terganggunya bisnis konvensional. Sekarang bisa kita lihat di beberapa tempat di kota-kota Indonesia banyak terjadi bentrokan antara tranportasi online dengan transportasi konvensional memperebutkan pelanggan Sebut saja bajaj, opang, taksi, angkutan bus besar/kecil dll, mengeluhkan penurunan pendapatan yang signifikan. Apa yang dilakukan Gojek merupakan antitesis dari teori bisnis yang kita kenal yaitu mendapatkan untung dalam waktu relatif pendek. Sampai tahun ke-7 Gojek, perusahaan ini belum menghasilkan keuntungan. Dan ini memang strategi mereka. Namun demikian perusahaan-perusahaan private equity, tehnologi informasi, dll masih tertarik untuk menginjeksi Gojek dengan dana segar. Di zaman tehnologi informasi saat ini, model bisnis mulai berubah yaitu bisnis tidak harus dengan memiliki aset tapi dengan revenue sharing dengan pemilik aset, tehnologi informasi mulai menggantikan fungsi manusia dan memiliki basis data serta pelanggan setia sebagai aset berharga. Bayangkan Gojek menyediakan banyak layanan di aplikasi mereka, jika para pelanggan secara kontinu menggunakan aplikasi Gojek maka semakin banyak data dan aliran kas yang dimiliki Gojek. Jika saya lihat, Gojek sampai dengan tahun 2019 belum akan memperoleh keuntungan. Karena sampai saat ini gap antara yang dibayarkan penumpang dengan yang diterima oleh mitra-mitra Gojek cukup besar dan ini masih ditanggung oleh Gojek, artinya Gojek memberikan subsidi. Ekstremnya pelanggan Gojek saat ini sedang diberikan “permen” untuk tetap menggunakan Gojek. Mungkin manajemen dan pemegang saham Gojek akan menunggu waktu ketika pelanggan mereka sudah sangat loyal dan Gojek mulai menjadi market leader, lalu keuntungan datang dengan sendirinya.

Setidaknya ada 3 sumber pendapatan dari Gojek selain dari pemegang sahamnya:
  1. Semakin banyak yang mengunduh (download) aplikasi Gojek melalui Android/iOS dimana jumlahnya mencapai lebih dari 10 juta unduhan dan ini membuat pemasang iklan semakin tertarik mengiklankan produk mereka ke Gojek
  2. Kerjasama dengan operator seluler, Telkomsel, yang mensuplai kartu bagi mitra Gojek. Jika semakin banyak mitra Gojek yang menjadi pelanggan Telkomsel akan menyebabkan traffic data semakin tinggi dan tentunya ini membawa keuntungan untuk Telkomsel. Saat ini saja setidaknya jumlah mitra Gojek sudah mencapai lebih dari 200 ribu mitra pengemudi motor dan mobil, 35 ribu mitra Go-food dan 3 ribu mitra on demand services di seluruh Indonesia dan 
  3. Kerjasama Gojek dengan restoran/cafe atas layanan Go-food menimbulkan adanya peluang mendapatkan keuntungan sebab pelanggan yang memesan melalui layanan Go-food akan membayar lebih mahal. Ini disebabkan tidak semua restoran/cafe memiliki jasa layanan antar. Hal ini berlaku juga untuk Go-mart, Go-tix, dll. Di masa awal-awal Gojek mendapatkan pendanaan dari Northstar Group, sebuah perusahaan private equity milik Patrick Walujo. Walujo dikenal memiliki insting bisnis yang tajam dalam mencari dan mendanai perusahaan-perusahaan start-up. Walujo juga memiliki jaringan yang luas di luar negeri, salah satunya dengan Texas Pacific Group yang adalah salah satu perusahaan private equity terbesar di dunia dan berkantor pusat di Amerika Serikat. Dengan adanya pendanaan yang masuk dari luar akan membuat langkah Gojek dalam melakukan pengembangan bisnis lebih lincah. Hal ini perlu karena sedikit demi sedikit Gojek mulai menguasai/merebut lahan bisnis diluar bisnis intinya. Contoh nyata dengan adanya layanan pembayaran elektronik go-pulsa, “menghantam” kios penjual pulsa yang ada. Dengan hanya menggunakan handphone secara otomatis pulsa akan terisi ke nomor handphone kita tanpa perlu datang ke kios penjual.
Baru-baru ini Gojek mendapatkan lagi pendanaan dari konsorsium KKR&Co dan Warburg Pincus sebesar $.550 juta (Rp.7,2 triliun) setelah itu kabarnya akan masuk lagi dana dari Tencent Group. Dengan demikian valuasi Gojek diperkirakan senilai Rp.40 triliun.  Para investor melihat bahwa pasar Indonesia merupakan pasar yang menarik dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 250 juta orang. Selain itu jumlah pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia relatif tinggi dibandingkan dengan negara lain di dunia. Tentu para investor sudah melihat pasar Indonesia sebagai potensi untuk beberapa puluh tahun ke depan dimana Indonesia juga akan mengalami bonus demografi yang diperkirakan berlangsung sampai dengan tahun 2030. Bonus demografi adalah suatu kondisi dimana masyarakat usia produktif (15-64 tahun) mendominasi sebesar 60%-70% dibandingkan dengan usia non-produktif. Kabar terbaru Gojek mendapatkan investasi besar dari konsorsium yang terdiri dari Astra Grup, Djarum Group dan Alphabet (Google). Nampaknya Gojek akan melakukan ekspansi besar ke Indonesia bagian timur. 

Bagi pembaca yang juga tertarik membangun bisnis start-up, sebenarnya sangat tepat untuk melakukannya sekarang. Kita mempunyai pasar yang besar ditambah lagi pemerintah sedang hangat-hangatnya mendorong munculnya wirausahawan-wirausahawan baru yang diharapkan dapat membuka lapangan kerja dan menambah pemasukan pajak.

Berikut beberapa tips untuk membangun start-up:
-Ide: Merupakan modal yang paling mahal dari semua hal yang dibutuhkan. Ide bisa didapat dari melihat adanya peluang atas suatu hambatan (seperti Gojek peluang dari order dari pelanggan ke pengemudi opang) namun bisa juga dari hal-hal yang berhubungan dengan anda, seperti: hobi, pekerjaan, keluarga, teman dll. Jika masih belum dapat ide, anda juga bisa meniru produk/jasa yang sudah ada namun diberikan nilai tambah. Hampir semua bisnis yang sekarang besar dimulai dari hal yang sederhana. Ide pembuatan Google dimulai dari garasi mobil dan Facebook dari kamar asrama.

-Unik: Pastikan bahwa produk/jasa yang kita miliki berbeda dengan yang ada di pasar. Berbeda bisa dari segi kualitas produk/jasa, kemasan, tampilan, harga, distribusi dll. Syukur-syukur jika sebelumnya produk/jasa tersebut belum ada sehingga kita menjadi pioneer. Namun menjadi pioneer pun tidak menjadi jaminan dalam keberhasilan suatu bisnis. Ingat friendster.com dan yahoo.com pada awal tahun 2000an mereka cukup berjaya, namun pesaing-pesaing mereka yang muncul kemudian saat ini menggantikan mereka.

-Partner: Semua orang membutuhkan orang lain. Walaupun semua ide dan tujuan adalah milik anda, namun tetap kita memerlukan bantuan/saran/upaya dari orang lain. Suatu pekerjaan berat tentunya akan lebih mudah jika dikerjakan bersama-sama. Namun tetap sebagai pemilik ide kita harus memiliki otoritas atas setiap strategi bisnis yang dilakukan. Mark Zuckberg ketika mulai membangun Facebook juga bersama teman-temannya. Masing-masing memiliki porsi saham mereka sendiri. Partner juga meliputi masalah pendanaan. Setidaknya ada 2 cara mendapatkan pendanaan melalui pinjaman atau penyertaan modal. Biasanya pilihan yang terakhir banyak digunakan bagi bisnis start-up, memerlukan biaya besar namun pendapatan masih kecil.

-Fokus: Akan selalu ada hambatan, entah itu terkait regulasi, pajak, lingkungan dll. Tapi seorang yang fokus perlahan akan bisa mengatasi hambatan menjadi peluang. Terus untuk mencari cara atas setiap hambatan, buat beberapa skenario jika rencana A tidak berjalan gunakan rencana B, begitu selanjutnya. Semua wirausahawan pada saat membangun bisnis juga akan mengalami kesulitan dari internal juga eksternal. Selain itu jangan serahkan bisnis kepada orang lain, walau itu orang kepercayaan. Sesibuk dan sesulit apapun harus dapat menghadapi sendiri semuga hambatan, dengan begitu kita menjadi teruji dalam situasi sulit.

-Layanan Prima: Semua ingin diperlakukan dengan baik, begitu juga dengan nasabah. Jika mereka kecewa segera berikan solusi dan insentif agar mereka tetap menggunakan produk/jasa kita. Pada masa-masa awal bisnis mungkin kita akan menerima banyak keluhan, hal ini wajar karena kita juga sedang mencoba pola yang tepat untuk bisnis kita. Tetap memiliki sikap tahan uji dan meminta maaf kepada pelanggan, karena bagaimana pun juga pelanggan adalah raja.

Sebagai pengguna aplikasi online, seorang konsumen sangat sensitif terhadap harga yang ditawarkan. Umumnya mereka akan membandingkan biaya transportasi antara Uber, Gojek dan Grab sebelum melakukan pemesanan. Artinya konsumen belum memiliki loyalty yang tinggi. Selama pesaing memberikan harga yang relatif lebih murah maka itulah yang akan dipilih oleh konsumen. Investor yang telah menaruh dananya di Gojek tentu mengharapkan mendapatkan imbal hasil dari investasi. Padahal sampai saat ini, Gojek masih belum mendapatkan keuntungan karena memberikan subsidi atas selisih yang dibayarkan konsumen Gojek dengan yang diterima mitra Gojek. Menarik untuk mengamati persaingan antara Gojek, Grab dan Uber beberapa tahun ke depan apakah akan ada lagi pesaing yang muncul atau malah akan ada yang tumbang.

No comments:

Post a Comment