Situs ini memiliki 3 bagian:

October 23, 2017

Sekilas Tentang Indeks Saham Bursa Efek Indonesia: Cara Menghitung Indeks Saham

sumber: bisnis.com
Salah satu indikator untuk mengetahui kinerja dari saham-saham yang diperdagangkan di bursa saham adalah indeks saham. Dengan mengetahui posisi indeks saham, kita juga mengetahui apakah investasi saham yang kita lakukan mengalahkan atau malah dikalahkan oleh pasar (baca outperform dan underperform). Salah satu indeks tertua yang sampai sekarang masih digunakan adalah Dow Jones Industrial Average (DJIA) di New York Stock Exchange (NYSE). DJIA digunakan pertama kali pada 26 Mei 1896 dan dikembangkan oleh Charles H. Dow, seorang jurnalis di Wall Street Journal, dan Edward Jones, seorang ahli statistik. DJIA adalah indeks dari 30 saham perusahaan terkemuka di Amerika Serikat.

Untuk indeks composite NYSE dikenal dengan nama NYSE Composite Index yang dikembangkan pertama kali menggunakan harga penutupan pada 31 Desember 1965. Setelah itu NYSE Composite Index mengalami pengembangan model dan akhirnya pada tahun 2003 NYSE Composite Index diluncurkan kembali. Setidaknya saat ini NYSE terdiri lebih dari 1.600 saham perusahaan Amerika Serikat dan 360 perusahaan asing (non Amerika). Di Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga memiliki indeks sendiri yaitu indeks harga saham gabungan atau biasa disebut dengan IHSG (dalam hal ini, DJIA bisa disamakan dengan LQ45 dan NYSE Composite Index dengan IHSG). IHSG diperkenalkan pertama kali pada tanggal 1 April 1983 dan sebagai dasar kalkulasi perhitungan IHSG menggunakan tanggal 10 Agustus 1982 sebagai hari dasar untuk perhitungan IHSG. Pada tanggal 10 Agustus 1982, IHSG ditetapkan dengan nilai dasar 100. Rumus perhitungan IHSG:
(Total Harga Penutupan Pasar Reguler x 100) / Nilai Dasar

Ketika tulisan ini dibuat, indeks harga saham gabungan (IHSG) sedang berada di level 5.900-an menuju ke 6.000. Jika IHSG benar-benar mencapai 6.000 itu menjadi level tertinggi sepanjang sejarah IHSG. Saat ini IHSG terdiri sekitar 564 saham perusahaan yang dikelompokkan ke dalam kelompok sektor yang ditetapkan oleh BEI dan disebut sebagai JASICA (jakarta stock exchange industrial classification). 
Kelompok sektor tersebut adalah:
  • Pertanian
  • Pertambangan
  • Industri Dasar dan Kimia
  • Aneka Industri
  • Industri Barang Konsumsi
  • Properti, Real Estat dan Konstruksi Bangunan
  • Infrastruktur, Utilitas dan Transportasi
  • Keuangan
  • Perdagangan, Jasa dan Investasi
Karena IHSG meliputi semua saham yang terdapat di BEI, ada yang merasa IHSG terlalu umum sehingga tidak menggambarkan kondisi dalam suatu sektor/industri. Sebagai contoh ketika suku bunga rendah saham-saham di sektor keuangan cenderung meningkat karena pertumbuhan kredit bertambah. Namun suku bunga rendah dapat membuat rupiah melemah terhadap dollar yang mempengaruhi saham perusahaan orientasi ekspor, seperti perusahaan sektor pertambangan dan indusri. Dengan demikian bagi orang yang membutuhkan hanya indeks saham pertambangan tidak cocok jika menggunakan IHSG untuk menggambarkan kinerja saham-saham pertambangan, oleh sebab itu terdapat juga indeks per sektor yang lebih spesifik. 
Beberapa indeks lain di BEI:
  • Indonesia Sharia Stock Index: Indeks yang terdiri dari perusahaan-perusahaan syariah di BEI. Saat ini berjumlah 347 saham.Indeks LQ45: Indeks yang terdiri 45 saham perusahaan likuid, fundamental baik dan bertumbuh serta masuk dalam 60 perusahaan dengan kapitalisasi pasar tertinggi dalam 12 bulan terakhir.
  • Indeks IDX30: Indeks yang terdiri dari 30 saham perusahaan yang terdapat di indeks LQ45.
  • Jakarta Islamic Index: Indeks yang terdiri dari 30 saham perusahaan syariah yang likuid, fundamental baik dan bertumbuh.
  • Indeks Kompas100: Indeks yang terdiri dari 100 saham perusahaan likuid, fundamental baik dan bertumbuh yang dikembangkan oleh koran Kompas.
  • Indeks Bisnis27: Indeks yang terdiri dari 27 saham perusahaan likuid, fundamental baik dan bertumbuh yang dikembangkan oleh koran Bisnis Indonesia.
  • Indeks Pefindo25: Indeks yang terdiri dari 25 saham perusahaan likuid, fundamental baik dan bertumbuh yang dikembangkan oleh PT Pefindo.
  • Indeks Investor33: Indeks yang terdiri dari 33 saham perusahaan likuid, fundamental baik dan bertumbuh yang dikembangkan oleh koran Investor (Berita Satu Media Holding).
Beberapa metode penghitungan index adalah:
1.Price Weighted Index: Index yang menggunakan rata-rata aritmatika dari harga saham dalam indeks. Indeks ini mengasumsikan dengan membeli satu saham dari tiap saham yang terdapat dalam indeks. Rumus Price Weighted Index:
Total Harga Seluruh Saham / Jumlah Saham Setelah Penyesuaian

Contoh: Indeks Opra terdiri dari 4 saham, pada hari-1 indeks berada di level 212,50. Pada hari-2 harga saham A naik dan B naik masing-masing Rp10 sedangkan saham C turun Rp20 dan D turun Rp10. Lalu pada hari-3 saham A melakukan stock split dengan perbandingan 2:1 (210 menjadi 105) dimana kemudian saham ditutup diharga 120, saham B dan C naik Rp10, sedangkan D naik Rp20.
-Indeks Opra hari-1 = (200 + 150 + 200 + 300) / 4 = 212,50
-Indeks Opra hari-2 = (210 + 160 + 180 + 290) / 4 = 210,00
Hari 3, Indeks Opra hari-3 terjadi stock split saham A:
-Indeks Opra tanpa penyesuaian = (120 + 170 + 190 + 310) / 4 = 197,50
-Jumlah saham setelah stock split 2:1 = (105 + 160 + 180 + 290) / 210 = 3,5
-Indeks Opra hari-3 = (120 + 170 + 190 + 310) / 3,5 = 225,71


2.Market Value Weighted Index: Indeks yang menggunakan jumlah total market value (harga pasar dikali jumlah saham beredar) dari saham yang ada di indeks dibagi market value dasar dikali indeks pada awal. Rumus Market Value Index:
(Total Nilai Pasar Terkini / Total Nilai Pasar Dasar) x Nilai Indeks Awal

Contoh: Indeks Opra menggunakan basis dasar tanggal 1 Desember 2016 sebagai dasar perhitungan dengan nilai indeks adalah 100.
-Indeks Opra 1 Desember 2016 = 100
-Indeks Opra 1 September 2017 = (13.500 / 11.000) x 100 = 122,73



Saat ini perlu diketahui bahwa dalam menghitung IHSG menggunakan market value index dan Dow Jones menggunakan price weighted index. Menurut saya indeks market value lebih simpel digunakan dibandingkan price weighted karena tidak perlu menghitung jumlah saham ketika terjadi stocksplit, reverse stock, right issue, dll. Bagi para fund manager di industri pengelolaan dana investasi, indeks sangat penting sebab ketika reksa dana yang mereka kelola dapat mengalahkan indeks, mereka dianggap telah memiiliki portofolio yang tepat. Selain itu, kinerja dari reksa dana yang mengalahkan indeks dapat "dijual" kepada masyarakat, walaupun tidak ada jaminan bahwa reksa dana itu akan mengalahkan indeks di tahun-tahun berikutnya. Oleh karenanya fund manager akan melakukan evaluasi portofolio yang dimiliki secara rutin. Untuk melihat kinerja dari fund manager kita bisa melihat dari fund fact sheetnya. Fund fact sheet wajib diperbaharui oleh manajer investasi setiap bulan sehingga masyarakat mendapatkan informasi terkini.

Anda dapat juga membaca tulisan terkait formula matematika dalam keuangan dan investasi di Matematika: Suatu Keindahan Dalam Dunia Keuangan dan Investasi.

No comments: