Situs ini memiliki 3 bagian:

October 14, 2017

Jesse Livermore Kisah Investor Tragis: Ciri-Ciri Investasi Salah Kaprah

Sebelumnya saya pernah membahas tentang Warren Buffett sebagai salah satu investor paling berhasil di dunia (Baca juga: Warren Buffett dan Prinsip MENTAL). Dalam dunia investasi sebenarnya tidak sedikit orang yang telah berhasil dalam berinvestasi sehingga menjadi seorang investor sukses. Beberapa nama investor tersebut, seperti: Sir John Templeton, Philip Fisher dan Peter Lynch (Baca juga: Catatan Piala Dunia dan Investor Kelas Dunia: Proses, Krisis dan Sukses). Jika kita ketik nama mereka di mesin pencarian google, akan tersedia banyak informasi terkait mereka apakah itu tentang biografi, strategi investasi, dll. Dan kita sebagai generasi yang lebih muda dapat belajar dari mereka. Namun tulisan ini tidak membahas tentang mereka, melainkan seorang pelaku investasi yang kisah hidupnya bertolak belakang dari mereka. Namanya adalah Jesse Livermore.


aodith adikusuma, opra-invest, jesse livermore, investasi tragis, kesalahan investasi
Nama lengkapnya adalah Jesse Lauriston Livermore yang dilahirkan pada tanggal 26 Juli 1877 di Shrewsbury, Massachusetts, Amerika Serikat. Tadinya dia diharapkan menjadi seorang petani oleh ayahnya dan meneruskan pertanian miliknya. Namun dia tidak sepakat, kemudian atas restu ibunya dia melarikan diri dari rumah. Dia memulai karir trading pada perusahaan broker Paine Webber di Boston pada usia 14 tahun. Saat itu Livermore bekerja sambil juga melakukan analisa sendiri menilai harga komoditas berjangka (future). Dia menemukan suatu strategi/valuasi yang cukup akurat sehingga ketika berusia 15 tahun, Livermore sudah memiliki dana lebih dari $1.000 (sekitar Rp350 juta pada masa kini). Dan sejak itu pundi-pundi kekayaannya terus bertambah. Setelah merasa cukup sukses, Livermore pindah ke New York City. Di sana Livermore mencurahkan energi dan waktu untuk mengasah kemampuannya untuk mendapat lebih banyak uang.

Livermore terkadang tidak hanya menggunakan analisa dalam membeli/menjual saham, tapi juga firasatnya. Salah satu firasatnya yang benar adalah ketika dia menjual Union Pacific, sebuah perusahaan jalur kereta api, tepat sebelum terjadinya gempa di San Fransisco pada tahun 1906. Livermore sering juga dianggap sebagai seorang pragmatis yang tidak segan-segan untuk bergeser dari aturan strategi yang dibuatnya, inilah salah satu penyebab Livermore pada akhirnya mengalami kerugian yang besar. Livermore mengalami naik turun dalam investasi, kadang dia untung besar namun juga bisa rugi besar di waktu berikutnya. Pada krisis tahun 1907, Livermore mengalami kerugian besar, sehingga kekayaannya berkurang menjadi $3 juta (sekitar Rp1 triliun pada masa kini). Namun dia tetap berupaya bangkit. Setelah krisis 1907 berlalu, pasar saham di Amerika mengalami masa emas pada tahun 1920an. Di saat itu Livermore mulai mendapatkan sukses investasinya dan ketika akhirnya pasar mulai mendekati krisis kembali di tahun 1929, Livermore sudah dapat membacanya. Dia merasa kondisi pada tahun 1929 mirip dengan yang terjadi pada tahun 1907.

Saat itu banyak orang yang mengalami kerugian, namun Livermore berhasil menjual asetnya sebelum krisis sehingga kekayaan menjadi $100 juta (sekitar Rp32 triliun pada masa kini). Namun sepertinya Livermore tidak puas dan ingin lebih lagi. Karena mengalami kerugian terus, Livermore sampai berutang untuk meng-offset (menutupi) kerugian. Sejak tahun 1929 Livermore mengalami kegagalan dalam investasi. Sampai akhirnya pada tahun 1934, Livermore dilarang untuk melakukan trading oleh Chicago Board of Trade karena bangkrut. Pada akhir tahun 1939, anak Livermore menyarankannya untuk menulis buku tentang pengalaman dan tehnik dalam trading saham dan komoditas. Livermore pun mengikuti saran itu hingga akhirnya terbitlah buku karyanya yang berjudul “How To Trade In Stocks”. Buku tersebut diluncurkan pada Maret 1940, namun sayang tidak memiliki penjualan yang bagus karena bersamaan dengan perang dunia ke-II dan metode yang dia gunakan dianggap kontroversial oleh masyarakat. Tidak mudah untuk memahami cara investasi Livermore yang kadang berubah-ubah.

Beberapa strategi Livermore:
  • Trading ketika trend, beli ketika pasar menguat dan jual ketika pasar melemah; 
  • Jangan melakukan trading ketika tidak mempunyai peluang; 
  • Trading menggunakan pivotal point; 
  • Tunggu sampai pasar memberikan konfirmasi kemudian masuk/keluar pasar; 
  • Trading saham-saham yang leading di tiap sektor. 

Sepanjang hidupnya Livermore menikah sebanyak 3 kali. Livermore menikah pertama kali saat berusia 23 tahun. Istri pertamanya bernama Netit Jordan yang kemudian bercerai pada tahun 1917. Tahun 1918, dia menikah dengan Dorothea Fox Wendt dan memiliki dua anak darinya namun pernikahan mereka berakhir pada tahun 1932. Livermore menikah untuk yang terakhir kalinya dengan Harriet Metz Noble pada tahun 1933. Dan ketika utangnya semakin bertambah banyak, Livermore mengakhiri hidupnya pada tanggal 28 November 1940. 

Berikut ciri-ciri investasi saham yang salah kaprah: 
-Tidak Punya Rencana: Jelas dalam setiap kegiatan kita harus memiliki rencana. Mau berlibur saja kita sudah punya rencana dari tiba sampai pulang. Rencana investasi/trading juga perlu diperlukan. Setidaknya buat rencana untuk jangka pendek dan menengah, misalkan dalam jangka pendek kita memiliki rencana untuk membeli rumah, maka jangan taruh seluruh dana kita untuk investasi saham. Dalam jangka pendek disarankan untuk berinvestasi pada instrumen yang kurang berisiko seperti reksa dana pasar uang.

-Berpikir Cepat Untung: Sayangnya tidak ada sekolah yang memiliki kurikulum mampu menahan emosi tidak rakus saat untung dan tidak minder saat rugi. Pengalaman dan karakter seseorang lah yang lebih menentukan ketika kita menghadapi situasi tersebut. Perlu diingat bahwa investasi memiliki siklus sendiri, ada saat pasar akan naik terus kemudian kondisi pasar turun dalam. Ini sudah menjadi seperti hukum tidak tertulis.

-Tidak Melakukan Mitigasi Risiko: Ketika menghadapi situasi sulit, seseorang akan kelihatan apakah dia seorang investor handal atau bukan. Sama seperti emas akan terlihat indah setelah ditempa dalam api panas. Salah satu cara untuk bersiap menghadapi situasi sulit adalah dengan melakukan mitigasi risiko. Jangan taruh seluruh dana pada satu jenis intrumen investasi dan sisakan 30% dana untuk simpanan.

-Tidak Mau Belajar: Setiap hal akan mengalami perubahan, begitu juga strategi/pilihan investasi. Penting untuk membaca suatu kondisi di masa depan karena masa akan selalu dinamis. Sediakan waktu untuk membaca dan belajar kepada orang yang ahli. Pada zamannya, Kodak adalah penguasa bisnis kamera film. Ketika mulai muncul tehnologi kamera digital tanpa film, bisnis Kodak mulai tergerus. Kodak terlambat mengantisipasi kemajuan tehnologi hingga akhirnya bangkrut pada tahun 2012.

-Terlalu Percaya Diri: Tidak ada salahnya kita memiliki kepercayaan diri, karena seorang investor mutlak memerlukannya apalagi ketika dalam menghadapi situasi sulit. Maksud percaya diri berlebihan adalah jika kita mengganggap diri lebih hebat dan mampu mengalahkan indeks sehingga terkadang tidak mau melakukan evaluasi ulang terhadap investasi yang kita lakukan. Ingat kita bisa melakukan kesalahan dalam melakukan valuasi investasi oleh karena itu lakukan evaluasi minimal 3 bulan sekali.

Dalam berinvestasi saham, dapat ditemukan orang-orang yang terlalu percaya diri, terlalu rendah diri, terlalu berani, terlalu takut, dll. Sepanjang pengalaman saya, semua hal itu akan selalu ada. Saya percaya bahwa itu bagian dalam pembelajaran dalam berinvestasi, ada orang yang harus melaluinya tapi ada juga yang tidak. Selalu ingat untuk terus belajar, belajar dan belajar.

No comments: