October 12, 2017

Pendekatan Behavioral Finance: Sukses Saham Roller Coaster vs Bisnis Saham

Seorang teman pernah bertanya, pertanyaannya seperti ini: “Mengapa harga suatu saham dapat naik dengan cepat, namun tidak lama dapat juga turun drastis dalam jangka pendek?” Ukuran waktu pendek di sini, bisa harian, mingguan atau bulanan. Adapun yang menjadi dasar pertanyaannya sebab dia melihat ada plan grafik saham yang bergerak bagaikan roller-coaster, naik-turun-naik-turun sehingga membuat pusing bagi yang memiliki saham tersebut. Untuk menjawab hal ini memang ada beberapa faktor yang harus dilihat: kondisi fundamental perusahaan, rencana aksi korporasi dan/atau kondisi ekonomi. Jika kondisi fundamental perusahaan tidak berubah, tidak ada rencana aksi korporasi perusahaan serta kondisi ekonomi stabil, maka kita perlu bersikap kritis sebelum ikut terlibat investasi/trading saham tersebut.

Untuk diketahui bahwa proses pembentukan harga saham adalah bertemunya permintaaan dari pembeli dan penawaran dari penjual. Pelaku bursa saham dapat terdiri dari institusi (perusahaan umum, perusahaan efek, bank, asuransi dll) dan retail serta bandar yang berusaha untuk “membentuk” harga yang dapat menguntungkan mereka. Semuanya bercampur aduk dengan kepentingan masing-masing yang berbeda-beda. Ada yang memiliki horizon investasi dalam jangka panjang, menengah, tahunan, bulanan ataupun mingguan. Semua sah-sah saja, mengingat setiap orang berbeda tujuan dan kebutuhannya. Namun perlu diingat jika tidak punya cukup nyali sebaiknya jangan menjadi pelaku bursa saham karena saham memiliki risiko besar. Sebab bisa saja nanti malah menjadi pelaku “jigobur” alias orang yang untung/rugi sebesar jigo (Rp.25) langsung kabur. Semua orang punya kebutuhan dan hampir sebagian besar kebutuhan dapat dinilai dengan uang/rupiah. Itu sebabnya kita bekerja/berbisnis/berkarya agar dapat menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Bagi sebagian orang kebutuhan yang banyak itu berbanding terbalik dengan kemampuannya. Dalam istilah peribahasa: “lebih besar pasak, daripada tiang”. Maka tidak mengherankan perilaku manusia ada yang menjadi tidak rasional lagi untuk mendapatkan uang.

Beberapa waktu yang lalu, ada sebuah video yang viral yang mendapatkan respon tinggi dari masyarakat. Di dalam video itu, seorang bernama Kanjeng Dimas menunjukkan tumpukan uang yang banyak. Dia dan kelompoknya “mengklaim” dapat menggandakan uang dalam jumlah banyak. Pro dan kontra timbul dalam masyarakat, ada yang percaya dan juga yang tidak. Pada waktu itu, berita di media gencar memberitakan tentang fenomena ini karena Kanjeng Dimas memiliki pengikut yang jumlahnya tidak sedikit. Bahkan sebagian besar dari pengikutnya telah menyerahkan investasi dana kepada kanjeng Dimas dengan harapan duit mereka dapat digandakan. Penampilan dan pesona kanjeng Dimas yang tidak banyak bicara dengan sorot mata tajam mampu meyakinkan pengikutnya. Selain itu dia terlihat memiliki hubungan baik dengan beberapa pejabat tinggi Indonesia melalui foto-foto yang dimiliki kanjeng Dimas. Orang pun makin dibuat yakin akan kemampuannya karena kanjeng Dimas didukung juga oleh seorang tokoh wanita Indonesia yang memiliki gelar doktor dari Amerika Serikat yang mengakui kehebatan kanjeng Dimas. Singkat cerita tidak lama setelah video itu menjadi viral, polisi menindaklanjuti laporan dari masyarakat yang merasa ditipu oleh kanjeng Dimas.

Sebagian besar orang cenderung ingin cepat kaya namun sayangnya ada beberapa orang melakukannya tidak didasarkan kepada perilaku logis/kritis. Dalam dunia investasi pun demikian. Ada para investor/trader yang ingin cepat untung/kaya dengan melakukan investasi serampangan tidak didasarkan kalkulasi benar dan matang, sekedar didasarkan pada perasaan/emosi. Dalam manajemen keuangan dan investasi, ilmu yang membahas tentang hal ini bernama behavioral finance
sumber: Jean P. Rodrigue

Prinsipnya behavioral finance adalah teori yang dibangun dengan landasan psikologi kognitif untuk melihat alasan dalam membeli dan/atau menjual aset/efek. Dalam  berinvestasi di efek saham, menurut para ahli
behavioral finance, keputusan pelaku dalam membeli dan menjual saham dipengaruhi oleh bias psikologis yang melibatkan emosi, harapan dan norma sosial. Ciri-cirinya adalah ingin cepat untung/terlalu takut rugi, percaya diri berlebihan merasa dapat mengalahkan pasar (indeks), nyaman dengan saham tertentu dll. Selain itu perilaku ikut-ikutan (herd behaviour) juga berperan dalam diri seorang investor/trader bursa saham dimana seseorang cenderung untuk mengikuti perilaku kelompok tertentu karena merasa keputusan kelompok adalah yang paling baik/benar. 
Perilaku yang tidak rasional ini dapat menyebabkan financial bubble yang suatu waktu dapat meledak. Ini yang terjadi pada peristiwa dotcom bubble di tahun 1997 sampai 2002 dimana saham Cisco turun sampai 86%, bahkan pets.com dan webvan menjadi bangkrut. Diperkirakan kejatuhan harga saham yang terjadi secara total telah meraibkan uang sebesar $.5 triliun. Saat itu memang harga saham perusahaan-perusahaan tehnologi informasi naik cepat dan tinggi disebabkan harapan besar investor/trader. Tidak lama setelah krisis dotcom terjadi peristiwa lain yaitu housing bubble pada tahun 2008 yang menyebabkan krisis global, termasuk di Indonesia.

Pepatah yang terdapat di dalam bursa saham adalah “pasar dikuasai oleh ketakukan dan kerakusan.” Sebetulnya pepatah ini tidaklah sama sekali mengerikan, karena Warren Buffet pernah mengatakan: ”Jadilah rakus ketika pasar sedang dalam kondisi takut, namun jadilah takut ketika pasar dalam kondisi rakus.” (Baca: Warrent Buffet dan Prinsip MENTAL). Tetapi jika keputusan beli dan jual saham hanya didasarkan pada ketakutan dan kerakusan tanpa melakukan analisa secara mendalam itu baru dapat dikatakan salah. Ada banyak investor/trader saham yang melakukan pembelian/penjualan dengan alasan yang tidak benar dan waktu yang tidak tepat.

Beberapa ciri saham perusahaan:
  • Rasio utang terhadap ekuitas tinggi; 
  • Jumlah saham beredar terbatas (dibawah 1 miliar lembar); 
  • Market capitalization (kapitalisasi pasar) rendah (dibawah Rp.2 triliun); 
  • Saham publik jumlahnya kecil (dibawah 10%); 
  • Manajemen tidak dikenal dan memiliki catatan tidak baik.
”Apakah saham roller coaster baik untuk dikoleksi?" Jika anda seorang yang masih berusia muda, punya banyak waktu luang untuk monitoring trading saham, tidak menggunakan uang pinjaman dan memiliki nyali seperti Rambo, silahkan saja. Walau saya tidak menyarankan hal ini alasan saya cukup sederhana saja, bahwa saya belum pernah mendengar/melihat orang terkaya/tersukses di dunia karena melakukan trading saham.

“Saya ingin seperti investor terkaya/tersukses”. Untuk memulainya kita harus menjadikan saham sebagai sebuah bisnis. Saya menyebutnya sebagai bisnis saham. Jika kita memulai dengan cara yang tepat maka akan menghasilkan sesuatu yang tepat juga. Lakukan analisa terhadap perusahaan dan sahamnya. Jika anda seorang fundamentalis yang dicermati adalah laporan keuangan dan bisnis dari perusahaan. Harapan saya anda bisa menjadi investor sekelas Warren Buffet. Namun kalaupun tidak, setidaknya ada orang Indonesia yang mempunyai strategi yang mirip dengan Buffet dan telah membuktikan keberhasilannya yaitu Lo Kheng Hong. Saya percaya jika anda mau menginvestasikan waktu untuk belajar, mencoba dan mengevaluasi ketika melakukan bisnis saham, maka anda akan menjadi investor yang baik dan handal. Seseorang bisa saja memiliki kepintaran di atas rata-rata dan menciptakan metode/sistem valuasi saham, namun penting juga untuk memiliki kematangan emosi.

Saya percaya bahwa kesabaran berinvestasi akan menghasilkan imbal hasil yang lebih maksimal. Hal ini memang debatable, untuk kondisi seperti apa dan bagaimana. Namun secara umum investasi atas perusahaan yang baik dalam jangka panjang lebih membawa manfaat daripada mudarat. Seperti seorang ibu yang sedang mengandung bayinya, sesenang-senangnya sang ibu atas anaknya yang akan dilahirkan itu, sang ibu tetap perlu waktu selama 9 bulan untuk mengandungnya. Si ibu tahu jika sang anak lahir prematur maka akan membahayakan kondisinya, oleh karena itu menunggu sampai waktu yang tepat adalah suatu sukacita yang tertunda. Tidak ada tehnologi canggih yang dapat membuat sang ibu melahirkan bayi kurang dari 9 bulan menjadi hanya 3 bulan. Tetap manusia punya keterbatasan yang dimiliki. 

Suatu kisah nyata perusahaan bernama Long Term Capital Management adalah sebuah perusahaan hedge fund yang  mengelola milliaran dollar dana nasabahnya.  Yang menjadi direktur investasi adalah Myron Scholes dan Robert Merton, pemenang Nobel Ekonomi tahun 1997. Singkat cerita mereka melakukan kegiatan trading atas derivatif surat utang berdasarkan proyeksi surat utang pemerintah tanpa melakukan margin of safety yang cukup sehingga ketika mereka kalah dalam trading, mereka tidak memiliki dana lain untuk meng-offset kerugian. Tidak menunggu waktu lama kemudian perusahaan itu bangkrut. Inti pesannya adalah tetap berhati-hati dalam berinvestasi, karena tidak ada seorangpun yang dapat meramalkan masa depan. Selamat bisnis saham!!!

No comments:

Post a Comment