Situs ini memiliki 3 bagian:

October 18, 2017

Peter Lynch Fund Manager Terbaik: Tips Metode Growth At Reasonable Price (GARP)

Peter Lynch
Lynch dikenal sebagai seorang maestro dalam industri pengelolaan dana investasi karena selama 13 tahun karirnya mengelola dana nasabah berhasil memperoleh imbal hasil melampaui indeks S&P500 selama 11 tahun. Artinya hanya 15% saja performa dana yang dikelolanya tidak perform. Prestasi lainnya adalah dia mampu memberikan rata-rata imbal hasil sebesar 29,2% per tahun (jauh di atas S&P500 yang hanya 11% per tahun). Prestasi lainnya, fund (reksa dana) yang dikelola oleh Peter Lynch memiliki dana kelolaan mencapai miliaran dollar. Profesi Peter Lynch adalah seorang fund manager (Baca juga: Wakil Manajer Investasi Sang Pengelola Dana Investor). Agak sedikit berbeda bias antara pengertian fund manager di Amerika Serikat yang berarti orang yang mengelola dana, jika diterjemahkan harafiah ke bahasa Indonesia menjadi manajer investasi, artinya adalah perusahaan pengelola dana.

Peter Lynch dilahirkan pada tanggal 19 Januari 1944 di Newton, Massachusetts, Amerika Serikat. Di usianya yang ke-10, ayahnya meninggal dunia karena sakit kanker sehingga ibunya harus bekerja untuk menghidupi Lynch. Sejak saat itu Lynch terbiasa bekerja dan hidup hemat untuk mengurangi beban ibunya. Di tahun 1965 Lynch berhasil memperoleh gelar sarjana bidang sejarah, psikologi dan filosofi dari Boston College. Tidak lama setelah itu, Lynch magang di Fidelity Investments sambil melanjutkan studi MBA di Wharton School Universitas Pennsylvania. Kabarnya Lynch bisa magang di Fidelity karena menjadi caddy golf bagi George Sullivan, pimpinan Fidelity. Kemudian pada tahun 1968, Lynch lulus dari program MBA. Sejak saat itu karir Lynch terus meningkat hingga pada tahun 1977, saat itu Lynch berusia 33 tahun, dia dipercaya untuk mengelola reksa dana Magellan senilai $18 juta.

Lynch terus menunjukan kemampuannya dalam mengelola reksa dana. Strategi yang dilakukan Lynch adalah melihat perusahaan yang bertumbuh sampai jauh ke depan tapi dihargai dengan harga yang wajar. Istilah ini disebut dengan Growth at Reasonable Price (GARP). GARP adalah tehnik yang menggabungkan metode mencari saham yang bertumbuh (growth investing) dengan saham yang memiliki nilai bagus (value investing). Dan hasilnya sejak tahun 1977 sampai dengan 1990, dana kelolaan reksa dana Magellan naik menjadi $14 miliar dengan diversifikasi pada lebih dari 1.000 saham. Beberapa saham yang dikoleksi oleh Lynch antara lain: Fannie Mae, Ford, Philip Morris, MCI, Volvo, General Electric, dll.

Peter Lynch adalah juga seorang penulis buku produktif dengan 3 buku:
1.One Up on Wall Street: Buku ini terjual lebih dari 1 juta kopi di seluruh dunia. Isi buku berisi esensi dan teori investasi dari Peter Lynch dimana dia menyarankan pentingnya melihat kondisi cyclical, turn-around dan fast-growing perusahaan.
2.Beating the Street: Jika buku sebelumnya lebih berisi tentang esensi dan teori, maka buku ini berisi aplikasi dalam investasi Lynch. Menurutnya penting untuk memiliki pengetahuan dan pengalaman yang baik dalam melakukan riset atas perusahaan dengan demikian kita dapat mencari kelebihan suatu produk.
3.Learn to Earn: Buku ini lebih ditujukan kepada investor pemula, terutama investor remaja. Lynch mengatakan bahwa memilh perusahaan tidak harus rumit, kadang berdekatan kehidupan kita. Bisa kita lihat perusahaan seperti: Nike, Reebok, McDonald dll, yang memiliki banyak pembeli/nasabah.

Lynch memutuskan pensiun sebagai fund manager reksa dana pada usia 44 tahun, dimana dia masih bisa berkarya lebih banyak lagi. Banyak orang yang merasa kehilangan/menyayangkan atas keputusan yang diambilnya. Tetapi yang jelas Lynch pensiun ketika dia berada di puncak karirnya dengan prestasi yang brilian. Setelah pensiun dia bekerja paruh waktu sebagai vice chairman dari Fidelity Management & Research, sebuah badan penasihat investasi yang memberikan waktu untuk membimbing analis-analis muda. Selain itu kegiatan yang dilakukan oleh Lynch adalah philanthropy melalui yayasan The Lynch Foundation yang dibentuknya. Setidaknya sampai tahun 2013, yayasan ini telah mendonasikan/hibah sebesar $80 juta sejak dibentuknya yayasan tersebut. Yayasan ini mendukung pendidikan, organisasi keagamaan, organisasi budaya dan sejarah, rumah sakit dan kesehatan. 

Berikut adalah metode GARP:
-Produknya Dibutuhkan: Carilah perusahaan yang produknya dibutuhkan sehari-hari dimana kita bisa lihat produk yang dibutuhkan oleh masyarakat. Hanes adalah perusahaan yang memproduksi apparel laki-laki dan wanita. Saat itu Hanes melakukan terobosan dengan mencoba menjual stoking wanita dengan brand “L’eggs” di dekat kasir supermarket. Lazimnya stoking dijual di department store, namun riset menemukan bahwa wanita 12 kali lebih sering ke supermarket daripada ke department store.
-Price/Earning Ratio (PER): Rasio yang membandingkan antara harga saham dengan laba per sahamnya. PER yang rendah dapat berarti harga saham perusahaan murah atau laba per sahamnya tinggi. Umumnya PER rendah adalah yang berada dibawah 15.
-Earning Per Share (EPS) Growth Ratio: Rasio ini melihat pertumbuhan dari laba per saham suatu perusahaan dalam kurun waktu. Umunya periode waktu yang digunakan 5 tahun-10 tahun, namun jika belum ada data yang tersedia minimal pertumbuhan selama 3 tahun. Perusahaan yang bagus memiliki pertumbuhan minimal 12%-15% per tahun untuk perusahaan produksi/manufaktur sedangkan perusahaan bidang jasa sekitar 17%-20% per tahun.
-Price/Earning to Growth Ratio (PEG Ratio): Rasio ini membandingkan PER perusahaan dengan EPS growth nya. Menurut Lynch perusahaan dengan PER rendah tidak berarti bahwa sahamnya undervalued, begitu juga sebaliknya PER tinggi tidak berarti mahal dibandingkan dengan growth nya. PEG yang mendekati 0 artinya undervalued. Biasanya PEG yang ideal berada di range 0 s.d 1.

Contoh:
Dilihat dari tahun 2012 - 2016, XYZ secara historis memiliki PEG yang lebih menarik sebesar 0,85. Namun jika hanya ingin mengetahui PEG pada tahun 2016: XYZ = 14,65 / 16,40 = 0,89 dan ZYX = 7,52 / 6,83 = 1,10. Berdasarkan dengan hal di atas, pada tahun 2016 XYZ tetap lebih menarik dengan PEG sebesar 0,89 dibandingkan dengan ZYX sebesar 1,10. Ekspektasi EPS bisa dihitung dari data pertumbuhan EPS yang datanya bisa diperoleh di idx.co.id.

Berdasarkan catatan yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang tercatat di BEI selama 5 tahun terakhir, perusahaan yang memiliki PEG Ratio yang rendah: 
  • PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (0,11) 
  • PT London Sumatra Indonesia Tbk. (0,29) 
  • PT Bukit Asam Tbk. (0,30) 
  • PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (0,39) 
  • PT Astra International Indonesia Tbk. (0,43) 
  • PT United Tractors Tbk. (0,44) 
  • PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk. (0,53) 
  • PT Bumi Serpong Damai Tbk. (0,63) (sumber: Lukas Setia Atmaja)

No comments: