October 25, 2017

Saham Imbal Hasil Tinggi 7 Tahun Terakhir: Tips Kombinasi Trading dan Investing

Saya memiliki seorang sahabat dari SMA yang saat ini bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Sekitar akhir tahun 2013 dia berkata memiliki sejumlah uang yang menganggur yang dapat digunakan untuk investasi. Singkatnya dia meminta saran agar uang tersebut dapat dimanfaatkan supaya berkembang. Saya menyarankan dia untuk berinvestasi di saham. Awalnya dia tidak begitu setuju karena tidak paham dengan investasi saham, namun setelah sedikit demi sedikit saya jelaskan akhirnya dia menyetujui untuk menginvestasikan dananya di saham. 

Beberapa hari yang lalu saya bertemu kembali dengan dia. Tidak lama kemudian dia bercerita sambil menunjukkan portofolio investasi saham yang saat ini dimilikinya. Betapa terkejutnya saya bahwa portofolio investasinya yang terdiri dari 4 saham, 1 saham mengalami kenaikan sebesar 1.200%. Saya terkejut karena baru kali ini melihat secara langsung kenaikan saham dalam portofolio sampai 1.200%. Ternyata dia membeli saham yang bergerak di bidang pertambangan tersebut di tahun 2016 pada harga Rp.180. Dan saat ini (Oktober 2017) harganya sudah Rp.2.200. Selain itu yang juga membuat saya terkejut bahwa alasan dia melakukan investasi didasarkan pada informasi di group WhatsApp (WA) dan feeling saja. Namun sayangnya dia hanya punya saham tersebut sebanyak 6 lot saja. Dia lalu bercerita bahwa dia sendiri tidak menyangka bahwa bisa memiliki saham dengan kenaikan yang sangat besar dalam waktu kurang dari 2 tahun. Yang dia lakukan hanya membeli saham perusahaan yang murah dari segi nominal, yaitu yang dibawah Rp.500 dan bukan dari segi analisa fundamental/tehnikal. Karena dia sendiri tidak begitu paham akan analisa fundamental/tehnikal. Diakuinya, ketika memiliki saham tersebut ada perasaan emosional yang tinggi. Saat saham tersebut sudah naik lebih dari 200%, dia tetap memegang padahal kebanyakan orang sudah merealisasikan keuntungannya. Pencapaian ini mungkin tidak akan terjadi jika dia memiliki saham itu dalam jumlah lebih besar. Perasaan nothing to lose dengan uang sebesar Rp.108.000 (Rp.180 x 600) ketika dia membeli saham tersebut tentu beda jika  dia punya dana Rp.108 juta (Baca: Kisah Seorang Investor Pemula Dengan Return Tinggi: Analisa Singkat INDY, BUMI, MLBI dan SILO 2018). 

Kematangan emosi adalah salah faktor keberhasilan seorang investor. Sebelumnya saya pernah sharing tentang perilaku investor yang dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi (Baca: Pendekatan Behavioral Finance: Sukses Dengan Membeli Saham Roller Coaster vs Bisnis Saham). Mungkin saat ini ada beberapa orang yang sedang mempertimbangkan untuk fokus 100% di bisnis saham, meninggalkan pekerjaan/bisnis yang sedang dijalaninya. Saya yakin jika kita fokus akan suatu hal, maka hasilnya akan lebih maksimal dan waktu yang dicapai bisa lebih cepat. Apakah investasi saham bisa dijadikan penghasilan utama? Tentu saja bisa. Sudah banyak contoh orang-orang yang berhasil dalam bisnis saham. Namun sama seperti bisnis lain, bisnis saham juga memerlukan proses. Dan dalam proses perlu waktu. Berikut daftar saham pencetak capital gain dalam 7 tahun terakhir:

*shares dalam jutaan
Tabel diatas berasal dari data 4 Januari 2010 s.d. 24 Oktober 2017. Jika kita menaruh investasi di reksa dana indeks yang mengacu kepada IHSG, maka imbal hasil yang kita peroleh selama 7 tahun lebih 9 bulan sebesar 131%. Tapi jika anda menaruh dana anda langsung di saham yang tepat maka hasilnya berbeda. Selain itu saham-saham yang mengalami pertumbuhan yang signifikan adalah saham-saham yang memiliki bobot tidak terlalu besar. Dari tabel dapat kita lihat kenaikan saham tertinggi adalah: PT Rimo International Lestari Tbk. (RIMO) dengan kenaikan 3.397%. 

Tips mengkombinasikan antara trading dan investing portofolio saham:
1.Seleksi Portofolio: Pilih 15 saham yang memiliki fundamental baik, dari 15 saham tersebut pilih 10 saham saja yang anda anggap berfundamental paling baik. Lalu diurutkan dari 10 saham berfundamental paling baik tertinggi sampai dengan terendah. Metode untuk mencari saham berfundamental sudah pernah dibahas (Baca: DCF: Template Gratis Menghitung DCF Untuk Valuasi Saham). Untuk penempatan dana, misalkan anda mempunyai dana sekitar Rp.10 juta simpan 30% sebagai dana cadangan (investment saving), sedangkan 70% untuk investasi. Dengan demikian dana sebesar 7 juta dibelikan minimal 5 saham dan maksimal 10 saham.

2.Kelola Portofolio: Evaluasi portofolio bisnis saham anda setiap 3 bulan. Jika 1 saham terlihat masih perform anda bisa menambah dengan cara menjual menjual saham yang kurang perform. Beberapa orang memiliki strategi masuk dan keluar pada saham yang sama. Seperti diketahui bahwa volatilitas saham disebabkan adanya penjualan dan pembelian saham.

3.Peraturan Investasi: Anda harus memiliki aturan dalam menentukan batas kenaikan dan kerugian yang anda bisa terima. Misalkan anda menerima batas kenaikan sebesar 25%-30% dan penurunan sebesar 10%-15%, misalkan 1 saham anda sudah naik sebesar 26%, maka anda dapat merealisasikan keuntungan untuk sementara waktu. Hasil penjualan saham tersebut dapat diinvestasikan ke dalam saham lain yang berada diurutan terbaik dari atas. Namun demikian jangan langsung jual semua saham, sisakan 10%-25% saham tersebut. Begitu juga sebalikanya, ketika anda mengalami penurunan investasi (Baca: Matematika: Suatu Keindahan Dalam Dunia Keuangan dan Investasi).

Penting untuk melihat jumlah saham beredar yang dikeluarkan oleh perusahaan serta berapa persen jumlah saham publiknya. Dapat saja saham tersebut bergerak naik karena sedang "dimainkan" oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Alih-alih mau mendapatkan keuntungan malahan kerugian yang diperoleh. Sebenarnya tidak semua saham tersebut memiliki fundamental yang cukup baik. Dengan demikian keahlian saja tidak cukup, pengalaman juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan bisnis saham.

Anda dapat membuat aturan sendiri, namun yang paling penting adalah disiplin terhadap aturan yang telah anda buat karena keberhasilan seorang investor lebih ditentukan kepada disiplin investasi dibandingkan dengan kepintaran yang dimiliki. Itulah indah investasi, anda tidak harus memiliki gelar akademis yang tinggi untuk berhasil (walaupun tetap saja pendidikan formal adalah hal yang penting). Banyak kisah keberhasilan investor yang diangkat oleh BEI: ada yang seorang satpam dan supir taksi. Salah satu keberhasilan investasi adalah berpihak kepada orang yang rendah hati dan mau terus belajar dari orang lain yang lebih dahulu sukses. Selamat bisnis saham!!!

No comments:

Post a Comment