Situs ini memiliki 3 bagian:

October 28, 2017

Wakil dan Agen Penjual Efek Reksa Dana: Tugas Edukasi dan Penjualan Produk Reksa Dana

Pernahkah anda ketika sedang berada di bank ditawarkan produk-produk non perbankan seperti: obligasi ritel indonesia (ORI), sukuk retail (SUKRI), saving bond retail (SBR) atau reksa dana? Jika pernah dan anda merasa bingung, saat ini bank selain menjual produk perbankan juga menjual produk pasar modal (baca produk yang bukan dimilikinya). Di sini bank merangkap menjadi agen penjual. Salah satu alasan mengapa produk-produk pasar modal dijual melalui perbankan disebabkan perbankan memiliki saluran dan jaringan pemasar yang lebih luas daripada perusahaan perantara pedagang efek (PPE). Hampir semua bank, terutama bank di BUKU 4 memiliki kantor cabang di daerah. Hal ini berbeda dengan PPE yang belum tentu ada di setiap ibukota propinsi. Dengan menjadi agen penjual, bank memperoleh fee penjualan dari produk-produk pasar modal.

Nah untuk menjadi agen penjual produk pasar modal ada syarat-syarat administrasi yang harus dipenuhi oleh sebuah bank dan PPE. Untuk menjadi agen penjual ORI, SUKRI dan SBR, bank dan PPE harus mengajukan permohonan ke Kementerian Keuangan. Biasanya mekanisme dilanjutkan dengan kegiatan lelang agen penjual. Bagi yang belum mengetahui ORI, SBR dan SUKRI adalah produk pasar modal yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan, sedangkan reksa dana adalah produk dari manajer investasi (MI). PPE dan MI termasuk dalam perusahaan efek, namun fungsi yang dijalankan berbeda. PPE berfungsi menjadi perantara penjualan surat berharga (saham, reksa dana, ORI, dll), sedangkan MI berfungsi sebagai pengelola dana investor untuk kegiatan investasi. Tulisan ini akan mendiskusikan tentang peranan agen penjual reksa dana. Agar dapat menjual reksa dana, maka perseroan harus mengajukan izin menjadi agen penjual efek reksa dana (APERD) yang ditujukan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Berdasarkan peraturan OJK, perusahaan yang dapat menjadi APERD adalah sebagai berikut: 
  • Perseroan yang telah memperoleh izin usaha dari OJK sebagai perusahaan efek melakukan kegiatan usaha sebagai penjamin emisi efek dan/atau perantara pedagang efek 
  • Bank umum, perusahaan yang menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang pos dan giro, perusahaan pergadaian, perusahaan perasuransian, perusahaan pembiayaan, dana pensiun, dan perusahaan penjaminan sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan dan telah memperoleh Surat Tanda Terdaftar dari OJK sebagai APERD sesuai dengan peraturan perundang-undangan; 
  • Perusahaan efek yang melakukan kegiatan usaha sebagai perantara pedagang efek yang khusus didirikan untuk memasarkan efek reksa dana, yang telah memperoleh izin usaha dari OJK, berdasarkan kontrak kerja sama dengan MI pengelola reksa dana. 

Prospek pertumbuhan investor reksa dana masih besar mengingat rasio antara investor reksa dana dengan jumlah penduduk usia sangat produktif (15-49 tahun) saat ini masih dibawah 1,5%. Jangkauan reksa dana masih dapat diperdalam agar mencapai lebih banyak investor. Beberapa penyebab jumlah investor reksa dana masih sedikit adalah kendala luasnya wilayah Indonesia yang terdiri dari banyak kepulauan. Beberapa cara solutif untuk mengatasi hal ini adalah memperbanyak jumlah APERD dan meningkat peran tehnologi dengan transaksi reksa dana melalui online. Setiap APERD memiliki strategi yang berbeda. Dengan semakin banyak APERD diharapkan dapat menciptakan kompetisi yang sehat antar APERD kemudian akan menciptakan sistem distribusi serta edukasi reksa dana bagi investor. 

Saat ini tercatat ada 49 perseroan yang terdaftar menjadi APERD: 
  • Perusahaan pedagang efek: 15 
  • Bank umum: 29 
  • Perusahaan pedagang efek khusus: 5 

Satu hal lagi yang penting dalam distribusi dan edukasi reksa dana adalah wakil agen penjual efek reksa dana (WAPERD). WAPERD adalah orang perseorangan yang mendapatkan izin WAPERD dari OJK untuk bertindak sebagai penjual efek reksa dana. Seorang WAPERD diperlukan untuk memberikan informasi terkait reksa dana dan membantu calon investor/investor yang akan membeli reksa dana. WAPERD adalah perpanjangan tangan dari APERD, dengan demikian WAPERD bekerja di APERD. Tugas WAPERD juga menjaga (membina) hubungan baik antara APERD dengan investor. Ada kalanya existing investor melakukan pembelian tambahan karena tambahan pendapatan ataupun pindah/tambah reksa dana. Terkadang hubungan baik ini juga menimbulkan ikatan emosional yang kuat antara WAPERD dengan investor. Begitu kuatnya sehingga WAPERD yang pindah bekerja ke APERD lain juga dapat membawa investor dan dananya dari APERD yang lama.

Untuk mendapatkan izin WAPERD seseorang harus lulus ujian WAPERD yang diselenggarakan oleh Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) dengan biaya ujian WAPERD sebesar Rp550 ribu. Materi ujian WAPERD biasanya terkait dengan pengetahuan produk-produk reksa dana, perizinan WAPERD, prinsip mengenal nasabah (PMN) dll. Adapun soal ujian WAPERD adalah pilihan ganda yang terdiri dari 100 soal dengan nilai kelulusan minimal 70. Untuk memudahkan peserta dalam ujian WAPERD, saat ini juga tersedia lembaga yang menyediakan persiapan ujian WAPERD. Setelah seseorang lulus ujian WAPERD maka akan menerima sertifikat WAPERD kemudian dapat mengajukan izin WAPERD kepada OJK. Biasanya bagi pegawai bank yang akan mengambil ujian WAPERD akan dikoordinir oleh pejabat penanggung jawab (PPJ) yang mengurus penjualan produk reksa dana dan agen reksa dana. Begitupun untuk biaya ujian WAPERD umumnya juga dibebankan kepada bank yang memiliki WAPERD. Untuk terus menjaga dan meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya, seorang WAPERD wajib mengikuti program pendidikan berkelanjutan (PPL) setiap 2 tahun sekali. Penyelenggara PPL juga dilakukan oleh APRDI dan umumnya dalam bentuk in house. Tujuan diadakannya ujian dan PPL WAPERD agar setiap WAPERD dimanapun dia bekerja dan berada memiliki pemahaman yang merata akan produk-produk reksa dana dan penanganan konsumen. Saat ini jumlah pemegang izin WAPERD yang telah dikeluarkan sekitar 24 ribu WAPERD. Jumlah 24 ribu WAPERD jika dibandingkan dengan jumlah 140 juta usia produktif di Indonesia adalah 0,017%, rasio ini masih rendah. Selanjutnya jika dibandingkan jumlah WAPERD dengan jumlah reksa dana, sekitar 1.600 reksa dana, maka rasionya adalah 15, artinya 1 WAPERD menawarkan 15 reksa dana.

Tidak mudah menjadi seorang WAPERD yang memiliki target penjualan serta fungsi edukasi reksa dana kepada masyarakat. WAPERD bersentuhan langsung dengan lapisan masyarakat, sehingga sejatinya WAPERD menjadi perpanjangan tangan dari APERD dan OJK. Tentunya segala hal yang berkaitan untuk meningkatkan literasi keuangan kepada investor akan terus didukung. WAPERD menjadi ujung tombak yang fungsinya sangat signifikan bagi kemajuan industri reksa dana Indonesia.

Info APERD dan WAPERD:

No comments: