November 6, 2017

Laba Usaha Perusahaan Dibagikan: Dividen dan Buyback Saham

Ketika membeli saham suatu perusahaan, kita mempunyai harapan bahwa harga saham yang kita beli akan naik dan dapat dijual lebih tinggi dari yang kita bayarkan. Ini disebut dengan capital gain. Selain harapan untuk memperoleh capital gain, seorang investor saham akan berharap mendapatkan laba perusahaan yang dibagikan. Perusahaan dapat mendistribusikan laba perusahaan kepada investor melalui 2 cara: pertama membagikan cash dalam bentuk dividen dan kedua membeli saham beredar dari investor. Memiliki saham berarti memiliki perusahaan, walaupun secara proporsi jumlah saham yang dimiliki tidak mayoritas namun tetap pemilik saham memiliki hak atas keuntungan yang dimiliki oleh perusahaan. Oleh karena itu dalam berbagai kesempatan yang ada, saya senantiasa menganjurkan seseorang yang tertarik dengan saham untuk menjadikannya sebagai bisnis (baca investasi jangka panjang) dibandingkan menjadi spekulasi (baca trading jangka pendek).

sumber: veristrat.com
Macam-macam pembagian laba perusahaan:
1.Dividen: Adanya pembagian dividen saham di satu sisi menarik karena investor memperoleh tambahan dana, namun di sisi lain dapat memberatkan keuangan perusahaan. Suatu perusahaan yang membagikan dividen kepada pemegang sahamnya akan dinilai sebagai perusahaan yang sehat dibandingkan dengan yang tidak membagikan. Keputusan suatu perusahaan mengenai besaran dana yang akan dibagikan terkadang tercampur baur dengan keputusan financing dan investasi perusahaan seperti: membeli tanah, membangun pabrik, akuisisi perusahaan, dll. Dividen perusahaan diatur dan ditentukan oleh dewan direksi. Pengumuman terkait pembagian dividen akan diberikan kepada investor yang tercatat sebagai pemegang saham pada tanggal tertentu.
Contoh: PT ABC Tbk mengumumkan hendak melakukan pembayaran dividen dengan jadual sebagai berikut:
-Tanggal cum-date: 2 Oktober 2017
-Tanggal ex-date: 3 Oktober 2017
-Tanggal recording-date: 6 Oktober 2017
-Tanggal distribution-date: 19 Oktober 2017
Penjelasan:
  • Cum-date: Tanggal 2 Oktober 2017 merupakan batas terakhir transaksi saham dan penentuan investor yang berhak mendapatkan dividen. Bagi investor yang memiliki saham ABC dan tidak menjualnya di tanggal cum-date, investor itu berhak untuk menerima dividen. Jika investor menjual saham ABC ketika tanggal cum-date maka investor tidak mendapatkan dividen. 
  • Ex-date: Tanggal 3 Oktober 2017 investor sudah memiliki hak untuk memperoleh dividen. Bagi investor ABC yang menjual sahamnya di tanggal ex-date, maka dia masih memperoleh dividen.
  • Recording-date: Tanggal 6 Oktober 2017 merupakan tanggal terakhir pencatatan kepemilikan saham PT ABC dalam rekening efek yang dicatat oleh biro administrasi efek.
  • Distribution-date: Tanggal 19 Oktober 2017 adalah tanggal pembagian dividen.
Perusahaan tidak bebas dalam mengumumkan adanya dividen mengingat keterbatasan yang diberikan oleh kreditur apabila perusahaan memiliki utang. Hal ini disebabkan kreditur lebih concern agar perusahaan mampu melunasi utangnya dibandingkan membayar dividen. Di Amerika Serikat ada suatu mekanisme investasi dividen yang bernama dividen reinvestment plans (DRIPs). Cara kerja DRIPs adalah perusahaan menawarkan investor untuk melakukan reinvestasi cash dividen mereka agar investor membeli saham baru perusahaan dengan harga diskon ketika distribution-date. Terkadang diskonnya mencapai 5%-10% dari harga pasar.

2.Buyback Saham: Selain membagikan dividen perusahaan juga dapat membagikan laba perusahaan melalui buyback saham. Saham yang dibeli oleh perusahaan kemudian disimpan di treasury saham perusahaan dan dapat dijual kembali ketika perusahaan membutuhkan dana. Mekanisme buyback saham secara umum ada 4 cara yaitu: tender offer, pembelian di pasar, dutch auction dan greenmail. 
PenjelasanTender offer dan Pembelian di Pasar: 
  • Tender Offer: Perusahaan melakukan penawaran kepada pemegang saham perusahaan untuk membeli sejumlah saham dengan kisaran harga tertentu (biasanya harga ditentukan oleh perusahaan dan harganya di atas harga pasar). Bagi pemegang saham yang berminat, dapat mendaftarkan diri dan menyatakan jumlah saham yang akan dijual.
  • Pembelian di Pasar: Perusahaan membeli di pasar reguler sesuai dengan harga yang berlaku di pasar. Pengumuman adanya proses buyback di pasar reguler, sering kali membuat harga saham melonjak. Dengan melakukan buyback saham setidaknya ada 2 poin bagi perusahaan: pertama jumlah dividen yang harus dibayarkan perusahaan akan berkurang dan kedua harga saham sudah terlalu murah ketika harga saham kembali naik maka perusahaan dapat menjualnya lalu memperoleh keuntungan.
Besarnya dividen payout (rasio antara dividen dengan laba bersih perusahaan) yang akan dibagikan perusahaan menjadi subjek yang menarik untuk penelitian. 
Berikut beberapa penelitan yang dilakukan terkait besarnya dividen:
1. John Lintner, profesor Harvard Business School, melakukan wawancara pada sejumlah direktur terkait kebijakan dividen payout mereka. 
Konklusinya dapat dikelompokkan sebagai berikut:
  • Perusahaan cenderung menetapkan target dividen to earning (dividen payout) yang panjang. 
  • Perusahaan yang sudah matang dengan bisnis yang stabil biasanya akan membagikan lebih besar rasio dividen payout, sedangkan perusahaan bertumbuh akan memberikan dividen payout lebih rendah.
  • Direktur lebih berfokus kepada pembagian dividen yang bertumbuh. Jika sebelumnya perusahaan dapat memberikan $.1 maka diharapkan tahun berikutnya dapat memberikan $.2.
  • Perubahan dividen mengikuti perubahan dalam kestabilan laba bersih perusahaan di jangka panjang
2. Paul Healy dan Krishna Palepu melakukan riset atas perusahaan yang melakukan pembagian dividen untuk pertama kali, secara rata-rata laba usaha perusahaan naik sebesar 43% di tahun ketika dividen dibagikan. Investor akan merasa nyaman ketika dividen perusahaan dibagikan dan juga ketika dividen bertumbuh. Riset mereka juga menyatakan bahwa pengumuman pembagian dividen memberikan kenaikan 4% harga saham.

Dari sudut pandang investor terhadap pembagian dividen, dibagi 2 kelompok:
1.Investor Yang Ingin Dividen: Mereka menganggap daripada laba perusahaan digunakan untuk ekspansi usaha yang dapat membebani perusahaan lebih baik dibagikan kepada investor. Suatu riset yang dilakukan oleh Rafael La Porta menyatakan pembagian dividen dapat mengurangi free cash flow yang dapat disalahgunakan oleh insiders. Banyak studi empiris yang menemukan bahwa pemegang saham pengendali cenderung meminimalisir pembagian dividen. Hal ini sering terjadi di negara yang perlindungan hukumnya lemah.
Berdasarkan catatan tahun 2013-2017, bank-bank BUMN mencatatkan kenaikan dividen setiap tahunnya:
sumber: kalimantan.bisnis.com

2.Investor Yang Tidak Ingin DividenMereka menganggap bahwa dividen dapat menimbulkan beban pajak tambahan bagi mereka. Di Indonesia secara umum pajak atas dividen lebih tinggi atas pajak capital gain. Besarnya pajak final dividen sebesar 10% dibandingkan dengan pajak capital gain sebesar 0,1%.
Contoh: PT ABC Tbk menghasilkan laba bersih sebelum pajak sebesar Rp.200 miliar. Maka perusahaan harus membayar pajak penghasilan sebesar 28% yaitu Rp.56 miliar. Jika sisanya sebesar Rp.144 miliar dibagikan sebagai dividen, maka investor harus membayar pajak dividen sebesar Rp.14,4 miliar. Investor yang tidak ingin menerima dividen disebabkan pembayaran pajak yang tinggi menjadi hal yang merugikan. Seandainya perusahaan tidak membagikan laba kepada investor namun digunakan untuk kegiatan ekspansi bisnis maka investor dapat memperoleh keuntungan lebih banyak.
Contoh: PT ABC menyampaikan tidak membagikan Rp.144 miliar laba perusahaan sebagai dividen tetapi digunakan untuk investasi pabrik baru yang dapat memberikan keuntungan sebesar 10%. Maka nilai valuasi PT ABC akan bertambah sebesar Rp.14,4 miliar. Untuk memudahkan berikut ilustrasi besarnya pajak capital gain jika investor menjual saham PT ABC di tahun yang akan datang:
  • Total Pajak Capital Gain = Pajak Capital Gain dari Laba + Pajak Capital Gain dari Investasi
  • Rp.144 juta (0,1% x Rp.144 miliar) +  Rp.14,4 juta (0,1% x Rp.14,4 miliar) = Rp.158,4 juta
Pada prakteknya banyak emiten di BEI yang mengurangi pembagian dividen paska tahun 1998. Sampai saat ini hanya sekitar 40% perusahaan yang masih membagikan dividen. Perusahaan yang masih membagikan dividen umumnya adalah perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) atau perusahaan yang sudah mature.

Beberapa contoh perusahaan yang tidak membagikan dividen di Amerika Serikat adalah Microsoft. Microsoft tidak membagikan dividen dari tahun 1975 sampai tahun 2013. Namun demikian Microsoft menjadi perusahaan besar karena dapat menggunakan laba untuk pengembangan bisnis perusahaan. Setelah perusahaan mencapai tingkat mature di tahun 2014 ke atas, Microsoft mulai membagikan dividen. Untuk contoh di Indonesia adalah saham PT Hero Supermarket Tbk. (HERO). Walaupun tidak membagikan dividen, kinerja saham HERO mampu mencetak rata-rata pertumbuhan sebesar 42% per tahun dari tahun 2003 s.d. 2009. Kebanyakan investor mapan lebih menyukai agar laba keuntungan perusahaan tidak dibagikan dalam bentuk dividen melainkan digunakan untuk keperluan pengembangan bisnis perusahaan. Selain masalah perpajakan dividen yang tinggi, penyebab lain adalah concern besarnya biaya dana jika perusahaan meminjam dana ke bank atau menerbitkan surat utang/saham untuk membiayai pengembangan bisnis. 

No comments:

Post a Comment