Situs ini memiliki 3 bagian:

July 17, 2018

Laba Usaha Perusahaan Dibagikan: Dividen (1)

Smart investor, ketika kita membeli saham suatu perseroan kita mempunyai harapan bahwa harga saham yang kita beli harganya akan naik sehingga dapat dijual lebih tinggi dari harga sebelumnya, ini disebut dengan capital gain. Selain harapan untuk memperoleh capital gain, seorang investor saham juga berharap mendapatkan laba perseroan yang dibagikan. Perseroan dapat mendistribusikan laba kepada investor melalui 2 cara: membagikan cash dalam bentuk dividen dan membeli saham beredar dari investor. 

Memiliki saham berarti memiliki perseroan, walaupun secara proporsi jumlah saham yang dimiliki tidak mayoritas namun tetap pemilik saham memiliki hak atas keuntungan yang dimiliki oleh perseroan. Oleh karena itu dalam berbagai kesempatan yang ada, saya senantiasa menganjurkan seseorang yang tertarik dengan saham untuk menjadikannya sebagai bisnis (baca investasi jangka panjang) dibandingkan menjadi spekulasi (baca trading jangka pendek). Bagi saya seorang investor saham lebih memiliki nilai lebih karena memiliki keistimewaan untuk menikmati laba perseroan melalui dividen. Berbeda jika anda seorang trader, bagi mereka dividen bukanlah pertimbangan utama ketika memutuskan untuk membeli saham.

Tulisan kali ini akan membahas tentang dividen. Adanya pembagian dividen saham di satu sisi menarik karena investor memperoleh tambahan dana, namun di sisi lain dapat memberatkan keuangan perseroan. Suatu perseroan yang membagikan dividen kepada pemegang sahamnya akan dinilai sebagai perseroan yang sehat dibandingkan dengan yang tidak membagikan. Keputusan suatu perseroan mengenai besaran dana yang akan dibagikan terkadang tercampur baur dengan keputusan financing dan investasi perseroan seperti: membeli tanah, membangun pabrik, akuisisi perusahaan, dll. Artinya perseroan terkadang dihadapkan oleh pilihan sulit antara memberikan dividen kepada pemegang saham atau menggunakan keuntungan untuk ekspansi usaha. Oleh karena itu dividen diatur dan ditentukan oleh dewan direksi, sering disebut dengan dividen policy.
blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Kebijakan Dividen 

Ketika perseroan membagikan dividen maka akan diberikan pengumuman terkait pembagian dividen kepada investor yang tercatat sebagai pemegang saham pada tanggal tertentu. Nah biasanya dalam pengumuman tersebut terdapat istilah seperti cum-date, ex-date, recording date dan distribution-date.

Contoh: PT ABCD Tbk mengumumkan hendak melakukan pembayaran dividen dengan jadual sebagai berikut:
  • Cum-date: 2 Oktober 2017
  • Ex-date: 3 Oktober 2017
  • Recording-date: 6 Oktober 2017
  • Distribution-date: 19 Oktober 2017
Penjelasan:
  • Cum-date: Tanggal 2 Oktober 2017 merupakan batas terakhir transaksi saham dan penentuan investor yang berhak mendapatkan dividen. Bagi investor yang memiliki saham ABCD dan tidak menjualnya di tanggal cum-date, investor itu berhak untuk menerima dividen. Jika investor menjual saham ABCD ketika tanggal cum-date maka investor tidak mendapatkan dividen. 
  • Ex-date: Tanggal 3 Oktober 2017 investor sudah memiliki hak untuk memperoleh dividen. Bagi investor ABCD yang menjual sahamnya di tanggal ex-date, maka dia masih memperoleh dividen. 
  • Recording-date: Tanggal 6 Oktober 2017 merupakan tanggal terakhir pencatatan kepemilikan saham ABCD dalam rekening efek yang dicatat oleh biro administrasi efek. 
  • Distribution-date: Tanggal 19 Oktober 2017 adalah tanggal pembagian dividen. 

Perlu diingat bahwa perseroan tidak bebas dalam mengumumkan adanya dividen mengingat keterbatasan yang diberikan oleh kreditur apabila perseroan memiliki utang. Hal ini disebabkan kreditur lebih fokus agar perseroan mampu melunasi utangnya dibandingkan membayar dividen. Dengan demikian jika anda adalah orang yang mengutamakan dividen atas investasi anda, sebaiknya anda mencari perseroan yang tidak memiliki utang dalam jumlah besar. 

Sebenarnya ada suatu sistem yang membuat dividen anda diinvestasikan kembali. Sejauh yang saya ketahui di Amerika Serikat ada suatu mekanisme investasi dividen yang bernama dividen reinvestment plans (DRIPs)Cara kerja DRIPs adalah perseroan menawarkan investor untuk melakukan reinvestasi cash dividen mereka agar investor membeli saham baru perseroan dengan harga diskon ketika distribution-date. Terkadang diskonnya mencapai 5%-10% dari harga pasar.

Besarnya dividen payout (rasio antara dividen dengan laba bersih perusahaan) yang akan dibagikan perseroan menjadi subjek yang menarik untuk penelitian karena setiap perseroan memiliki pertimbangan dividen yang berbeda-beda. Selain itu perlu melihat hubungan antara dividen payout tinggi apakah berbanding lurus dengan kenaikan harga saham suatu perseroan.

Berikut beberapa penelitan yang dilakukan terkait besarnya dividen payout:
1.John Lintner
Lintner adalah profesor Harvard Business School yang melakukan wawancara pada sejumlah direktur terkait kebijakan dividen payout mereka. Konklusinya dapat dikelompokkan sebagai berikut: 
  • Perusahaan cenderung menetapkan target dividen to earning (dividen payout) yang panjang. 
  • Perusahaan yang sudah matang dengan bisnis yang stabil biasanya akan membagikan lebih besar rasio dividen payout, sedangkan perusahaan bertumbuh akan memberikan dividen payout lebih rendah. 
  • Direktur lebih berfokus kepada pembagian dividen yang bertumbuh. Jika sebelumnya perusahaan dapat memberikan $1 maka diharapkan tahun berikutnya dapat memberikan $2. 
  • Perubahan dividen mengikuti perubahan dalam kestabilan laba bersih perusahaan di jangka panjang 

2.Paul Healy dan Krishna Palepu 
Healy dan Palepu melakukan riset atas perusahaan yang melakukan pembagian dividen untuk pertama kali, secara rata-rata laba usaha perusahaan naik sebesar 43% di tahun ketika dividen dibagikan. Investor akan merasa nyaman ketika dividen perusahaan dibagikan dan juga ketika dividen bertumbuh. Riset mereka juga menyatakan bahwa pengumuman pembagian dividen memberikan kenaikan 4% harga saham.

Nah itu adalah pandangan dari akademisi terkait dengan pembagian dividen. Lalu bagaimana dengan investor? Dari sudut pandang investor terhadap pembagian dividen terbagi dalam 3 kelompok:
1.Investor Netral: Mereka tidak terlalu memusingkan apakah perseroan akan membagikan dividen atau tidak, bagi mereka yang penting kinerja perseroan baik yang nantinya akan membuat harga saham menjadi naik. Jikalau perseroan pun membagikan dividen maka mereka menganggap ini sebagai suatu bonus.

2.Investor Dividen: Mereka menganggap daripada laba perseroan digunakan untuk ekspansi usaha yang dapat membebani perseroan lebih baik dibagikan kepada investor. Suatu riset yang dilakukan oleh Rafael La Porta menyatakan pembagian dividen dapat mengurangi free cashflow yang dapat disalahgunakan oleh insiders. Banyak studi empiris yang menemukan bahwa pemegang saham pengendali cenderung meminimalisir pembagian dividen, hal ini sering terjadi di negara yang perlindungan hukumnya lemah.

3.Investor Reinvestasi Dividen: Mereka menganggap bahwa dividen dapat menimbulkan beban pajak tambahan bagi mereka. Di Indonesia secara umum pajak atas dividen lebih tinggi atas pajak capital gain. Besarnya pajak final dividen sebesar 10% dibandingkan dengan pajak capital gain sebesar 0,1%. Investor yang tidak ingin menerima dividen disebabkan pembayaran pajak yang tinggi menjadi hal yang merugikan. Seandainya perseroan tidak membagikan laba kepada investor namun digunakan untuk kegiatan ekspansi bisnis maka investor dapat memperoleh keuntungan lebih banyak.

Contoh 1: PT ABCD menghasilkan laba bersih sebelum pajak sebesar Rp200 miliar. Maka perseroan harus membayar pajak penghasilan sebesar 28% yaitu Rp56 miliar. Jika sisanya sebesar Rp144 miliar dibagikan sebagai dividen, maka investor harus membayar pajak dividen sebesar Rp14,4 miliar. 

Contoh 2: PT ABCD menyampaikan tidak membagikan Rp144 miliar laba perseroan sebagai dividen tetapi digunakan untuk investasi pabrik baru yang dapat memberikan keuntungan sebesar 10%. Maka nilai valuasi PT ABCD akan bertambah sebesar Rp14,4 miliar. Untuk memudahkan berikut ilustrasi besarnya pajak capital gain jika investor menjual saham PT ABCD di tahun yang akan datang: 
  • Total Pajak Capital Gain = Pajak Capital Gain dari Laba + Pajak Capital Gain dari Investasi 
  • Rp158,4 juta = Rp144 juta (0,1% x Rp144 miliar) + Rp14,4 juta (0,1% x Rp14,4 miliar) 

Pada prakteknya banyak emiten di BEI yang mengurangi pembagian dividen paska tahun 1998. Sampai saat ini hanya sekitar 40% perseroan yang masih membagikan dividen. Perseroan yang masih membagikan dividen umumnya adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau perusahaan yang sudah mature. Beberapa contoh perusahaan yang tidak membagikan dividen di Amerika Serikat adalah Microsoft. Microsoft tidak membagikan dividen dari tahun 1975 sampai tahun 2013. Namun demikian Microsoft menjadi perusahaan besar karena dapat menggunakan laba untuk pengembangan bisnis perusahaan. Setelah perusahaan mencapai tingkat mature di tahun 2014 ke atas, Microsoft mulai membagikan dividen. Untuk contoh di Indonesia adalah saham PT Hero Supermarket Tbk. (HERO). Walaupun tidak membagikan dividen, kinerja saham HERO mampu mencetak rata-rata pertumbuhan sebesar 42% per tahun dari tahun 2003 s.d. 2009. Kebanyakan investor mapan lebih menyukai agar laba keuntungan perusahaan tidak dibagikan dalam bentuk dividen melainkan digunakan untuk keperluan pengembangan bisnis perseroan. Selain masalah perpajakan dividen yang tinggi, penyebab lain adalah concern besarnya biaya dana jika perseroan meminjam dana ke bank atau menerbitkan surat utang/saham untuk membiayai pengembangan bisnis. 

Nah buat anda investor dividen, maka ada beberapa saham yang memberikan dividen lumayan besar dan rutin yaitu saham BUMN: telekomunikasi, perbankan dan pertambangan. Kita sebut saja: PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. (TLKM), PT Bank BRI Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), PT Bank BNI Tbk. (BBNI), PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN), PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk. (PTBA). Perusahaan BUMN memberikan dividen besar kepada investor untuk memberikan pemasukan kepada negara selain dari sektor pajak. Setoran dividen BUMN dicapai melalui konsensus politik bersama pemerintah dan DPR. DPR dan pemerintah perlu mencapai kesepakatan mengenai besaran dividen yang perlu disetorkan. Hal ini disebabkan BUMN memegang peranan penting dalam kegiatan perekonomian masyarakat. 

Target besaran dividen setiap tahun berubah dan cenderung terus bertambah setiap tahunnya. Usulan tahun 2015 dividen sebesar: Rp37,1 triliun, 2016: Rp37,5 triliun dan 2017:43,5 triliun. Untuk tahun 2018, usulan dividen BUMN sebesar Rp43,63 triliun. Jumlah ini sebagian besar disetor oleh sektor perbankan dengan besaran Rp25,9 triliun.

blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Dividen Perbankan BUMN
Kementerian BUMN terus berupaya agar BUMN dapat memberikan setoran yang terbaik bagi APBN. Anda dapat melihat daftar perusahaan yang membagikan dividen tunai/saham melalui situs PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KSEI) di www.ksei.co.id/publications/corporate-action-schedules/cash-dividend. Anda dapat membaca juga Aksi Korporasi Perseroan: Contoh dan Keuntungan Dalam Investasi Saham.

2 comments:

Anonymous said...

terima, cukup mencerahkan informasinya

Dr. Uta said...

Menurut saya dividen penting, namun bukan yang terpenting. Seorang investor tidak perlu menjadikan dividen sebagai terutama, saya lebih mementingkan working capital dalam melihat fundamental perusahaan.