November 13, 2017

Meramu Portofolio Investasi Ala Fund Manager

Ketika saya lulus pendidikan sarjana, salah satu harapan saya adalah menjadi seorang fund manager yang mengelola dana investasi. Di keluarga besar saya belum ada seorangpun yang bekerja di manajer investasi, sebagian besar yang berkarir di industri keuangan bekerja di bank atau perusahaan asuransi. Keinginan saya muncul ketika saya mengunjungi Bursa Efek Indonesia (BEI) saat pertama kali. Waktu itu yang ada di dalam pikiran saya bahwa bekerja di industri pasar modal begitu menarik karena bisa bekerja sambil berinvestasi.

Menjadi seorang fund manager setidaknya perlu mengetahui dasar pengetahuan keuangan dan investasi. Beberapa fund manager sukses ada yang memiliki latar belakang matematika/tehnik, ini menyiratkan asalkan ada kemauan yang kuat, siapapun dapat menjadi menjadi seorang fund manager. Bahkan salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia kategori dana kelolaan reksa dana terbesar memiliki direktur dengan latar belakang sarjana tehnik pertanian. Tidak hanya itu beliau juga memiliki prestasi/penghargaan sebagai the best CEO selama beberapa kurun waktu. Fund manager yang handal adalah salah satu kesuksesan sebuah manajer investasi. Dalam dunia pengelolaan dana investasi, seorang fund manager tidak bisa bekerja hanya seorang diri. Bersama tim-nya, seorang fund manager akan bekerja secara bersama-sama dengan fund manager yang lain dalam kesatuan. Tim ini biasa disebut dengan “tim pengelola investasi” yang bertugas untuk mengolah/meramu portofolio yang tepat untuk reksa dana yang mereka miliki. Tim pengelola investasi juga biasanya mengadakan pertemuan secara rutin untuk mengevaluasi portofolio yang sedang mereka kelola serta strategi ke depannya. Fund manager akan melihat situasi pasar yang terkini untuk melakukan penilaian atas aset yang mereka miliki dan sebaiknya mereka miliki. Aset dasar (underlying aset) yang bisa mereka beli seperti: saham, obligasi, derivatif, deposito, dll.

Dalam melakukan pengelolaan portofolio investasi, fund manager memerlukan 3 langkah dasar:
1.Alokasi Aset: Tindakan untuk menetapkan proporsi investasi keuangan berisiko dan tidak berisiko. Dalam menentukan bobot investasi, fund manager melihat kondisi pasar dan siklus ekonomi yang sedang berlangsung.Tujuan dari alokasi aset adalah untuk mendapatkan produk yang sesuai dengan profil risiko dari nasabah. Saran saya lakukan alokasi pada minimal 5 aset dan maksimal 10 aset (aset alokasi atas reksa dana minimal 10% dari Nilai Aktiva Bersih). Dengan menaruh aset pada 5 aset setidaknya risiko portofolio menjadi 20%, sedangkan jika kita memiliki 15 aset, maka risiko dapat dikurangi menjadi 7%. Jika anda masih berusia dibawah 55 tahun, ada baiknya juga menggunakan alokasi berdasarkan at your age in bond. Misalkan usia kita 30 tahun maka sebesar 30% diinvestasikan pada obligasi dan sisanya 70% pada saham. Begitu juga selanjutnya jika usia usia bertambah, maka proporsi investasi dan saham disesuaikan dengan usia kita. Untuk yang sudah memasuki usia pensiun, porsi aset alokasi sebaiknya difokuskan hanya pada risiko rendah sehingga ketika kita mencapai 55 tahun maka kita sudah mulai mengalihkan sebagian besar ke deposito dengan proporsi 80%-100%. Hal ini pun dapat diterapkan di reksa dana pasar uang, reksa dana pendapatan tetap dan reksa dana saham. Seiringnya bertambahnya usia, alokasi pada reksa dana pendapatan tetap bertambah dan reksa dana saham berkurang. Puncaknya pada saat kita berusia 55 tahun maka semua investasi kita sebagian besar dialihkan ke reksa dana pasar uang dengan proporsi 80%- 100% agar mengurangi risiko. Berdasarkan kinerja historis yang ada, ketika kondisi ekonomi sedang mengalami perlambatan, kinerja reksa dana pendapatan tetap menunjukkan kinerja yang lebih baik dibandingkan reksa dana saham. Dalam perjalanan investasi jangka panjangnya, seorang investor mungkin akan mengalami siklus dimana kinerja saham lebih baik serta juga siklus dimana kinerja obligasi yang lebih baik. Untuk itu, investor bisa melakukan aset alokasi untuk mengurangi tingkat risiko. Tentu saja, aset alokasi ini adalah pilihan, bagi seorang investor sudah yakin dengan pilihan yang dimilikinya. Hal ini dapat menurunkan perkiraan nilai investasi di masa mendatang, namun di satu sisi juga menurunkan risiko investasi dan mempersiapkan dana yang cukup masuk ke saham ketika ada peluang penurunan pasar yang signifikan. Untuk anda dianjurkan membeli reksa dana secara berkala. Alternatif investasi atas kelas aset lainnya meliputi antara lain investasi di pasar komoditas (emas, perak, kedelai, dan gandum), properti dan hedge funds. Dengan mendiversifikasikan investasi pada beberapa jenis aset, anda dapat menyusun portfolio investasi sesuai dengan profil risiko yang dimiliki.

2.Seleksi Aset: Tindakan memilih aset yang akan dimasukkan ke dalam portofolio. Biasanya fund manager akan melakukan ranking aset-aset yang memilki prospek baik yang kemudian aset tersebut ditinjau secara rutin. Dalam dunia pengelolaan investasi terdapat istilah investment horizon dan investment universe. Investment horizon terkait dengan jangka waktu investasi atas suatu aset, sedangkan investment universe adalah aset-aset yang layak masuk ke dalam portofolio. Untuk mengetahui aset-aset yang layak untuk dikoleksi maka fund manager perlu untuk melakukan valuasi. Dengan valuasi aset maka kita mengetahui apakah harga aset tersebut wajar atau tidak. Setiap manajer investasi memiliki standar preferensi yang berbeda satu sama lain.
Beberapa pendekatan strategi dalam seleksi aset:
  • Strategi Top-down: Strategi ini melihat pendekatan dari sudut pandang luas, seperti makroekonomi negara (inflasi, nilai tukar, suku bunga dll) kemudian dikerucutkan menjadi sempit. Umumnya manajer investasi menganalisa kondisi makroekonomi diperkirakan industri mana saja yang akan menghasilkan imbal hasil terbaik dalam sesuai kondisi makroekonomi tersebut. Setelah memilih industri-industri yang punya potensi, manajer investasi kemudian akan menganalisa emiten-emiten yang terdapat dalam industru tersebut serta memilih yang terbaik. Hasilnya adalah saham-saham unggulan yang akan dimasukkan ke dalam keranjang investasi/portofolio. Analisa makroekonomi umumnya dilakukan dengan menggunakan analisa atas kondisi/kesehatan makroekonomi global, baik atas negara-negara maju maupun negara-negara berkembang. Cara cepat untuk mengukur kesehatan perekonomian adalah dengan melihat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) selama beberapa tahun terakhir dan memperkirakan angka pertumbuhan di masa depan. Seringkali, negara-negara berkembang memiliki angka pertumbuhan PDB yang jauh lebih baik daripada negara-negara maju. Selain itu, analisa politik juga seringkali diikutsertakan untuk melengkapi analisa makroekonomi, di mana peperangan, konflik/ketegangan antar negara atau bagaimana kebijakan suatu negara mempengaruhi negara-negara tetangganya, atau bahkan mengubah tatanan perekonomian global. Tidak jarang manajer investasi kemudian memetakan kondisi geopolitik dengan makroekonomi dalam satu grafik untuk beberapa wilayah/negara untuk perbandingan. Dengan peta semacam ini akan terlihat potensi dan risiko dari masing-masing wilayah/negara sehingga kemudian manajer investasi dapat memilih mana yang menurutnya sesuai dengan kebijakan investasi dan tingkat risiko portofolionya. Misalkan manajer investasi A melihat tren kenaikan suku bunga dalam beberapa waktu ke depan. Ketika suku bunga naik umumnya akan mempengaruhi nilai tukar Rupiah menguat terhadap Dollar. Dengan pendekatan top-down, maka industri yang berorientasi kepada ekspor layak untuk dijadikan pilihan, seperti industri manufaktur dan pertambangan batubara. Dengan demikian fokus pencaharian dapat ditujukan hanya kepada saham-saham emiten manufaktur yang melakukan ekspor serta pertambangan batubara yang harganya masih murah.
  • Strategi Bottom-up: Strategi ini fokus pada pemilihan saham berdasarkan analisa lingkup kecil kemudian diperluas. Dalam hal ini MI melakukan pemilihan atas saham-saham emiten perusahaan yang ada. Melalui pendekatan ini, manajer investasi mencari emiten dengan prospek yang bagus, yang harganya masih murah atapun wajar namun masih dapat naik lagi. Setiap manajer investasi memiliki strategi yang berbeda-beda dalam menentukan saham perusahaan yang layak untuk dikoleksi. Beberapa melihat dari tingkat pertumbuhan laba (earnings growth), dividen yang tinggi, dll. Dalam pendekatan strategi bottom-up, manajer investasi akan melakukan komparasi saham-saham berdasarkan faktor-faktor fundamental dari masing-masing emiten. Jikalau perusahaan memiliki fundamental yang kuat, maka sahamnya layak untuk dikoleksi.
Banyak MI yang menggunakan strategi top-down ketika melakukan pemilihan aset. Strategi ini dianggap lebih menggambar kondisi pasar terkini. Namun demikian dibandingkan strategi top-down, strategi bottom-up lebih realistis karena melihat langsung sasaran. Lantas strategi mana yang paling baik? Ada baiknya kita dapat mengkombinasikan kedua strategi tersebut dengan demikian hasilnya bisa lebih maksimal.

3.Evaluasi Aset: Tindakan mengganti/menambah/mengurangi aset yang ada di dalam portofolio. Penetapan proporsi investasi dapat berubah sesuai dengan kondisi pasar yang sedang terjadi. Evaluasi dilakukan secara periodik dan terkadang asumsi yang digunakan dapat berubah karena faktor yang digunakan juga berubah (suku bunga, inflasi, dll). Sebenarnya dalam melakukan investasi dan perencanaan keuangan, tidak ada metode yang tepat dan metode yang salah. Yang ada adalah yang sesuai karena kondisi setiap orang berbeda-beda, demikian juga dengan profil risikonya. Profil risiko sendiri juga rentan berubah dan tidak bisa ditentukan oleh pertanyaan dalam selembar kertas yang diajukan oleh customer service.

Ketiga tahapan itu menjadi pijakan penting bagi fund manager dalam bekerja. Di satu sisi, fund manager bertugas memberikan imbal hasil yang terbaik bagi nasabahnya namun di sisi lain fund manager harus dapat mengelola dana dengan prinsip kehati-hatian. Tentunya agak bertolak belakang, karena semakin tinggi imbal hasil maka semakin tinggi pula risiko. Namun demikian jika ditanya faktor mana yang paling urgent apakah imbal hasil maksimal atau prinsip kehati-hatian, maka jawabannya bisa berbeda tergantung kondisi di lapangan. Selain itu seorang fund manager bekerja kepada perusahaan, namun demikian fund manager memiliki "tanggung jawab" secara tidak langsung kepada nasabahnya. Oleh karena itu seorang fund manager terikat dengan kode etik yang ketat selama dia bekerja mengelola dana nasabah. Indonesia sudah memiliki fund manager yang handal yang juga memiliki pengalaman dalam pengelolaan dana investasi yang besar. Selain itu fund manager tersebut juga memiliki keahlian chartered/sertifikasi yang diakui di dunia internasional, seperti CFA, CAIA, FRM, dll (Baca: Sertifikasi Profesi Keuangan dan Investasi Dunia: CFA, CAIA, FRM dan PRM). Dalam kurikulum sertifikasi profesi keuangan, etika dimasukkan dalam pembelajaran yang harus diketahui dan dilakukan oleh fund manager. Tujuannya jelas etika menyebabkan kaidah-kaidah aturan dapat terjaga dengan baik. Mungkin sebagian orang menganggap etika membatasi bahkan mengurangi investasi bekerja dengan maksimal. Tapi sekali lagi tujuan investasi bukan sekadar memperoleh imbal hasil yang maksimal, namun juga menciptakan kesinambungan. Tentunya banyak fund manager yang memiliki kemampuan investasi di atas rata-rata, namun banyak juga yang memperoleh hasil investasi tersebut dengan etika investasi yang kuat. Maka dari itu ada bagian compliance yang "mengawasi" kerja dari para fund manager agar tetap on the track. Peran bagian compliance sangat penting dan tidak bisa dianggap sepele. Karena jika terjadi sesuatu pada MI dan fund manager maka yang akan dilihat adalah kinerja dari bagian compliance apakah telah melaksanakan tugasnya dengan baik. Ekstremnya tugas bagian compliance hampir mirip seperti sparring partner dalam bertinju. Mereka akan melakukan pukulan-pukulan yang bertujuan untuk melatih pergerakan seorang petinju agar selalu waspada. Untuk itu MI wajib memiliki koordinator fungsi manajemen risiko, kepatuhan dan audit internal yang tidak boleh dirangkap kerja. Kiranya industri jasa keuangan pengelolaan dana investasi Indonesia dapat terus berkembang secara kuantitas dan kualitas.

Jika anda memiliki portofolio saham, dapat mencoba untuk mengunduh simulasi portofolio di sini.

No comments:

Post a Comment