Situs ini memiliki 3 bagian:

November 1, 2017

Metode CAN SLIM: Kombinasi Fundamental dan Tehnikal Analisis

CAN SLIM
Setiap orang memiliki strategi investasi saham yang berbeda, ada yang melihat dari dividen, laba bersih, arus kas, trend saham, frekuensi perdagangan, dll. Sebelumnya saya pernah menulis tentang metode valuasi investasi discounted cash flow yang dapat dibaca di: DCF: Template Gratis Menghitung DCF Untuk Valuasi Saham. Kali ini kita akan membahas suatu metode bernama CAN SLIM yang dikembangkan oleh William J. O’Neil. O’Neil adalah pengarang buku “How to Make Money in Stocks: A Winning System in Good Times or Bad” dan pendiri Investor’s Business Daily.

Metode CAN SLIM merupakan pengembangan dari riset terhadap 500 saham di Amerika Serikat yang memiliki kinerja baik selama 4 dekade sejak tahun 1953. Strategi ini menggabungkan analisa fundamental dengan tehnikal dengan tujuan menemukan saham terbaik sebelum harganya makin naik. Dengan metode ini O’Neil mengaku telah mendapatkan kenaikan sebesar 40 kali dalam waktu relatif singkat. Menurutnya metode ini mengidentifikasi perusahaan dengan fundamental kuat dan untuk melakukan pembelian ketika harganya cenderung segera naik.

Dibandingkan dengan metode lain, metode CAN SLIM memiliki beberapa keunggulan, yaitu: dikembangkan dari riset jangka panjang terhadap saham-saham berkinerja baik serta menggabungkan unsur fundamental (pendapatan) dan tehnikal (produk/jasa baru, trend saham/pasar). Gabungan analisa fundamental dan tehnikal diperlukan dalam melihat suatu saham dari dua sisi yang berbeda. Keduanya akan saling melengkapi. Analisa fundamental dapat digunakan untuk memilih saham yang benar/murah sedangkan analisa tehnikal untuk melihat waktu yang tepat. Namun demikian CAN SLIM bukanlah strategi momentum yang biasanya digunakan untuk trading jangka pendek/spekulasi.

CAN SLIM merupakan kependekan dari:
1.Current Quarterly EPS: Di sini O’Neil mencari saham yang memiliki EPS QoQ lebih dari 20%, contoh adalah EPS Q2-2017 dengan Q2-2016 atau Q3-2017 dengan Q3-2016. Dari hasil riset yang dilakukannya, O’Neil menemukan dari 500 saham berkinerja baik selama periode 1953-1993, sebanyak 75% memperlihatkan kenaikan EPS kuartalan dengan rata-rata sebesar 70%. Sedangkan selama periode 1972–1982, sebanyak 86% tercatat memiliki kenaikan EPS rata-rata sebesar 8%. Harus diingat bahwa EPS lebih mencerminkan potensi perusahaan dibandingkan dengan total laba karena EPS menggambarkan laba per saham nya.

Contoh: A = laba bersih Rp5 juta, jumlah saham 1 juta lembar dan B = laba bersih Rp10 juta, jumlah saham 10 juta lembar. Laba bersih B lebih besar dari A, namun tidak berarti B lebih berpotensi dari A. EPS A = Rp5 juta / 1 juta = Rp5 sedangkan EPS B = Rp10 juta / 10 juta = Rp1. Dengan demikian A lebih menghasilkan keuntungan. 

Selain itu ketika laba meningkat, kita perlu melihat data keuangan apa penyebab kenaikannya. Apakah memang dari peningkatan pendapatan usaha atau penjualan aset. Jika memang karena peningkatan pendapatan usaha tentu ini suatu hal yang baik bagi perusahaan, namun jika karena penjualan aset ini menjadi catatan tersendiri. Lalu juga sebaiknya dilihat trend kenaikan EPS apakah positif dari EPS di kuartal tahun-tahun sebelumnya. Tentu trend positif akan lebih baik dibandingkan dengan trend fluktuatif.

2.Annual EPS: Cari saham yang memiliki EPS tahunan yang dalam 5 tahun terakhir memiliki kenaikan lebih dari 25% per tahunnya (CAGR). EPS tahunan menjadi faktor penting setelah EPS kuartalan dengan trend yang positif selama 5 tahun terakhir. Trend pertumbuhan 5%, 10%, 15%, 20% dan 25% tentu akan lebih baik dibandingkan dengan trend 15%, 5%, 25%, 10% dan 20%. Kombinasikan kriteria tren positif di EPS tahunan dengan EPS kuartalan sehingga saham yang berkinerja baik adalah saham yang EPS nya tumbuh selama beberapa kuartal dan tahun. Untuk mencari EPS kuartalan dan tahunan anda bisa memperoleh dari sistem/aplikasi berbayar seperti terminal Bloomberg dan Reuters. Namun karena harga sewanya yang tidak murah, maka bisa dilakukan secara manual melalui laporan keuangan yang disampaikan ke idx.co.id.

3.New Product/Service: Perusahaan yang inovatif yang memiliki produk/jasa yang baru sesuai kebutuhan pasar sangatlah penting. Selain itu diharapkan produk/jasa dapat bertahan secara berkelanjutan dengan demikian tidak menjadi produk/jasa yang gugur sebelum berkembang. Penelitian O’Neil selama periode 1953–1993, lebih dari 95% saham berkinerja baik disebabkan oleh produk/jasa baru serta manajemen yang segar. Manajemen yang segar umumnya berani meninggalkan sistem konvesional/lambat. Contoh nyata adalah adanya online shopping yang saat ini menunjukkan trend yang terus meningkat. Hal ini berbanding terbalik dengan trend belanja secara konvensional. Walau masih harus diteliti lebih lanjut lagi, beberapa toko konvensional yang menyediakan apparel saat ini banyak yang mengalami kerugian. Sebuah produk/layanan/proses yang baru sejatinya dapat menciptakan keunggulan bersaing dan unsur pembeda dari para pesaingnya. Untuk jangka waktu tertentu, perusahaan dapat menikmati peningkatan pendapatan.

4.Supply and Demand: Cari perusahaan yang sahamnya likuid, namun jangan terlalu banyak memiliki jumlah saham beredar. Selain itu hindari yang memiliki kapitalisasi pasar yang besar. Ada ungkapan yang mengatakan “Big is not always better” yang jika didefinisikan saham dengan jumlah saham beredar sangat besar akan sulit naik karena banyak supply. Selain itu juga penting untuk melihat volume trading saham yang meningkat ketika diperdagangkan. Penelitian O’Neil selama tahun 1970–1982, sebesar 95% saham yang memiliki kenaikan tinggi memiliki kurang dari 25 juta lembar saham beredar. Namun demikian untuk ukuran masa sekarang, jumlah saham beredar kurang dari 25 juta lembar saham berpotensi untuk digoreng oleh bandar.

5.Leading or Laggard: Cari saham yang menjadi pemimpin di industrinya. Ini adalah pengukuran kualitatif yang dapat diukur dengan Relative Price Strength (RPS) selama kurun waktu 12 bulan dengan cara membandingkan return perusahaan selama 12 bulan dibandingkan dengan saham-saham lain di industrinya pada periode tertentu. RPS sebesar 80 artinya saham perusahaan mengalahkan 80% saham perusahaan di industrinya. Ini yang O’Neil sarankan untuk memiliki RPS minimal sebesar 80%. Selain itu hindari saham perusahaan follower meskipun sahamnya undervalued. Saham yang baik yang dihargai dengan harga normal jauh lebih baik dibandingkan saham buruk yang dijual murah.

6.Institusional Sponsorship: Beli saham yang juga dibeli oleh investor institusi besar (manajer investasi, asuransi, dana pensiun). Dengan demikian saham ini biasanya akan disimpan dalam kurun waktu yang lebih panjang. O’Neil menyarankan untuk membeli saham yang memiliki 3 sampai 10 investor institusi besar. Kelebihan saham yang juga dimiliki oleh investor institusi besar adalah ketika sentimen positif sedang terjadi di pasar, mereka akan melakukan pembelian yang besar sehingga dapat menaikkan harga saham perusahaan dengan tempo lebih singkat. Namun kekurangannya adalah ketika sentimen pasar sedang negatif maka saham perusahaan tersebut dapat turun lebih dalam.

7.Market Direction: Menurut O’Neil, Market Direction menjadi faktor terpenting. Disini O’Neil membagi pasar dalam tiga kategori: pasar trend naik, pasar trend naik dalam tekanan dan pasar terkoreksi. Penting untuk dapat mengintepretasikan perubahan harga saham dan volume transaksi sehingga dapat mengetahui saat tepat untuk membeli saham. Sebaiknya gunakan berbagai indikator berdasarkan analisis tehnikal untuk mengetahui puncak dan dasar indeks pasar. Tanda bahwa pasar sedang bullish adalah indeks saham naik disertai dengan volume transaksi yang tinggi. Namun ketika pasar mulai terlihat sudah di puncak akan terlihat ketika indeks naik sedikit disertai dengan volume transaksi yang rendah (jenuh beli). Dan ketika indeks mulai turun disertai dengan volume transaksi tinggi maka pasar mulai bearish. Umumnya bearish akan segera berhenti ketika indeks sudah tidak turun dalam dalam disertai dengan volume transaksi yang rendah (jenuh jual).

sumber: stockmarketsignal

Apakah ada saham di BEI yang sesuai dengan metode CAN SLIM? Hasil penelusuran pada data EPS beberapa tahun yang lalu, terdapat beberapa saham yang masuk dalam kategori CAN SLIM. Daftar saham: 
  1. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) dari Rp490 ke Rp5.460 (1.014%) 
  2. PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) dari Rp1.950 ke Rp4.100 (110%) 
  3. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) dari Rp520 ke Rp690 (33%) 
  4. PT Ace Hardware Indonesia Tbk. (ACES) dari Rp740 ke Rp1.300 (76%) 
  5. PT Ultrajaya Milk and Industry Tbk. (ULTJ) dari Rp315 ke Rp1.330 (322%) 
  6. PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) dari Rp490 ke Rp2.770 (465%) 
  7. PT Bank Capital Tbk. (BACA) dari Rp96 ke Rp220 (129%) 
  8. PT Trimegah Sekuritas Tbk. (TRIM) dari Rp105 ke Rp167 (59%) (#disclaimer on)

No comments: