Situs ini memiliki 3 bagian:

January 26, 2018

World Economic Forum 2018, Davos: Upaya Informal Menciptakan Masa Depan Dalam Dunia Yang Retak

Dalam pekerjaan setiap hari, saya sering menggunakan terminal Bloomberg untuk mencari data/informasi. Terminal Bloomberg adalah seperangkat komputer yang terkoneksi dengan server Bloomberg yang menyajikan data/informasi ekonomi, keuangan dan investasi di seluruh dunia. Alat ini memegang peranan penting bagi sebagian besar pelaku di sektor jasa keuangan, terutama bagi analis yang akan melakukan valuasi. Dan seperti umumnya barang/jasa yang ditawarkan memiliki slogan: “ada harga, ada kualitas” , terminal Bloomberg memiliki harga sewa per bulan relatif cukup mahal. Bisa mencapai ribuan dollar per bulannya. Hal ini sebanding dengan banyaknya informasi/data yang tersedia di dalam terminal, dimana informasi/data adalah hal penting bagi institusi/orang yang bergerak dalam sektor jasa keuangan.

Salah satu kebiasaan yang saya lakukan setiap di kantor adalah menonton tayangan berita investasi, bisnis dan keuangan di Bloomberg TV. Sambil menonton dan mendapatkan informasi, kegunaan lain bagi saya adalah melatih reading and hearing in English. Nah kebetulan pada saat ini (akhir Januari 2018), Bloomberg TV secara simultan sedang memberitakan pertemuan non formal pemimpin dunia di Davos, Swiss. Berbeda dengan pertemuan formal ekonomi dan keuangan tingkat tinggi dunia, seperti: G-8 dan G-20, acara tersebut biasanya diadakan di kota besar. Menariknya Davos bukan termasuk kota besar di dunia, bahkan untuk ukuran Swiss pun Davos juga tidak sebesar Zurich, Jenewa, Basel ataupun Bern. Walaupun saya belum pernah ke Davos namun pengalaman sempat tinggal di Swiss, bisa saya katakan Zurich sebagai kota terbesar di Swiss pun kalah luas dan megah jika dibandingkan dengan Paris dan Frankfurt.

WEF
Lalu kenapa Davos menjadi kota yang kerap dikunjungi oleh para ekonom, pemimpin negara, pemimpin perusahaan, pebisnis dan politikus setiap akhir bulan Januari? Hal ini berkaitan dengan adanya agenda pertemuan World Economic Forum (WEF) yang secara rutin diselenggarakan sejak tahun 1988. Pemilihan kota Davos sendiri mungkin disebabkan karena lokasinya yang berada di area pegunungan Alpen yang tentunya berhawa dingin sehingga diharapkan peserta yang hadir pun dapat berdiskusi dengan menggunakan “kepala dingin” (baca tenang). Selain itu populasi Davos yang hanya berjumlah 11.000 penduduk (sensus 2016), tentunya relatif tidak menimbulkan keramaian.

Swiss dikenal sebagai negara yang tidak berpihak/netral terhadap negara-negara lain. Dalam sejarah perang dunia, Swiss termasuk salah satu negara Eropa yang tidak terlibat dalam perang. Padahal letak Swiss dikelilingi oleh negara Jerman, Perancis, Italia dan Austria yang turut dalam perang dunia. Swiss pun tidak masuk dalam Uni Eropa (EU), dengan demikian tidak dapat menikmati kemudahan perdagangan dan fiskal dengan negara-negara yang tergabung dalam EU. Walapun terletak di tengah Eropa, tidak memiliki pantai dan jumlah penduduknya hanya sekitar 8 juta jiwa namun perekonomian Swiss cukup besar dengan GDP sebesar $680 miliar (GDP nominal 2016). Secara umum, Swiss dikenal sebagai negara dengan layanan keuangan dan perbankan terbaik, daerah wisata persaljuan (ski resort) terindah, penghasil coklat batangan bercita rasa, produsen jam berkualitas dan jasa perhotelan yang mumpuni. Inilah yang unik mengenai Swiss dan tentunya hal-hal tersebut memberikan kontribusi bagi pendapatan negara.

Forum WEF awalnya bernama European Management Forum (EMF) bertujuan sebagai suatu wadah bagi para akademisi dan pemimpinan perusahaan di wilayah Eropa, khususnya Eropa Barat. EMF digagas pertama kali oleh Klaus Schwab pada tahun 1971. Schwab sendiri adalah seorang profesor yang mengajar bisnis dan ekonomi di Universitas Jenewa. Bagi Schwab, stakeholder merupakan bagian yang terpenting dalam suatu manajemen, stakeholder meliputi nasabah, pegawai serta pemerintah. Tujuan didirikan WEF adalah untuk memberikan solusi terkini atas konflik internasional dalam suatu pertemuan informal. Selanjutnya terkait dengan WEF, Schwab mendirikan organisasi nonprofit di Colognya, Jenewa dan mengadakan pertemuan tahunan para pimpinan di bulan Januari.

WEF terus memberikan terobosan yang terkadang tidak dapat terwujud dalam pertemuan formal. Beberapa contoh adalah pertemuan antara Yunani dan Turki yang mengakhiri kericuhan diantara mereka setelah penandatanganan Deklarasi Davos di tahun 1988. Lalu ada juga pertemuan antara Shimon Peres. menteri luar negeri Israel, dengan Yasser Arafat, pemimpin pembebasan Palestina, yang mencapai konsep kesepakatan tentang Gaza dan Yeriko di tahun 1994. WEF terus berupaya menjadi forum yang bersifat imparsial dan tidak terikat pada politik, partisan dan kepentingan nasional. Sampai dengan tahun 2012, WEF telah dikunjungi oleh pemantau dari seluruh dunia dengan agenda menjaga agar tujuan utama WEF dapat terus terpelihara.

Forum WEF saat ini memiliki dan dibiayai oleh sekitar 1.000 perusahaan global. Perusahaan-perusahaan ini berada di jajaran perusahaan-perusahaan top di masing-masing industri, dan tentunya mereka memegang peranan kunci dalam membentuk masa depan dunia. Seperti kita ketahui saat ini dunia sedang menghadapi isu-isu hangat seperti kemajuan tehnologi, bencana alam, ancaman perang dunia dan kelaparan. WEF percaya melalui dialog yang saling menghormati, menghargai dan menganggap semua adalah setara maka akan dihasilkan suatu solusi terbaik. Tidak bisa mengangga pihak satu adalah superior dan pihak lain adalah inferior, justru dengan kebersamaan dan kesetaraan setiap sekat yang menghambat dapat dilepas. Tentunya tidak mudah karena setiap pihak memiliki kepentingan dan kepentingannya adalah mendapatkan yang terbaik. Jika semua memiliki hal semacam ini maka permasalahan akan tetap menjadi masalah.

Setiap tahunnya, WEF memiliki tema yang berbeda. Biasanya tema yang diusung disesuaikan dengan kondisi terkini. Untuk WEF tahun 2018, tema yang diusung adalah: “Creating a Shared Future in a Fractured World” dan diadakan dari tanggal 23 s.d. 26 Januari 2018. Tahun 2018, Davos telah didatangi oleh ribuan orang dari berbagai penjuru dunia, diantaranya adalah:
- Para pemimpin negara:
  • Angela Markel, Kanselir Jerman
  • Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel
  • Donald Trump, Presiden Amerika Serikat
  • Emmanuel Macron, Presiden Perancis
  • Erna Solberg, Perdana Menteri Norwegia
  • Justin Trudeau, Perdana Menteri Kanada
  • Michel Temer, Presiden Brasil
  • Mauricio Macri, Presiden Argentina
  • Mark Rutte, Perdana Menteri Belanda
  • Narendra Modi, Perdana Menteri India
  • Paolo Gentiloni, Perdana Menteri Italia
  • Theresa May, Perdana Menteri Inggris
- Para pemimpin perusahaan dan bisnis:
  • Axel Weber, komisioner UBS
  • Bill Gates, founder Microsoft
  • Charlos Ghosn, CEO Renault
  • George Soros, founder Soros Hedge Fund
  • Michael Corbat, CEO Citibank
  • Jack Ma, founder Alibaba
  • Jamie Dimon, CEO JP Morgan
  • Jes Staley, CEO Barclays
  • Larry Fink, CEO BlackRock
  • Lloyd Blankfein, CEO Goldman Sach

Overview World Economic Forum 2018: Creating a Shared Future 
in a Fractured World

Pada akhir abad ke-20, anggapan bahwa terjadi saling ketergantungan ekonomi yang lebih besar antar negara, ditopang oleh institusi demokrasi liberal, akan memastikan perdamaian dan stabilitas sampai abad baru. Global konteks hari ini telah berubah secara dramatis: celah geostrategis telah muncul kembali di berbagai bidang dengan beragam konsekuensi politik, ekonomi dan sosial. Realpolitik sudah tidak lagi menjadi peninggalan Perang Dingin. Kemakmuran ekonomi dan sosial kohesi tidak satu dan sama. Manfaat global tidak bisa melindungi atau menyembuhkan dirinya sendiri.

Secara politis, tata kelola diubah oleh yang baru dan bersaing dengan narasi strategis. Narasi seperti itu muncul sebagai tanggapan terhadap perbedaan nasional, regional dan global, tetapi banyak dari mereka kehilangan inovasi, inspirasi dan idealisme penting untuk perubahan transformasional. Secara ekonomi, kebijakan sedang dirumuskan untuk melestarikan manfaat tunggal integrasi global sekaligus membatasi pembagian kewajiban. Namun, resep kebijakan semacam itu terfragmentasi, bias atau kurang informatif bila dipertimbangkan dalam konteks pembangunan berkelanjutan, pertumbuhan inklusif dan keempat revolusi industri. Secara sosial, warga mendambakan kepemimpinan yang responsif dalam menangani masalah lokal dan nasional; namun, identitas bersama dan tujuan kolektif tetap sulit dipahami meskipun hidup di zaman jaringan sosial, sementara kontrak sosial antara negara bagian dan warganya terus terkikis. Situasi di lapangan membutuhkan tata kelola yang lebih responsif, tapi ini tidak bisa membebaskan pemerintah dari kewajibannya.

Fraktur yang muncul secara politis, ekonomis dan secara sosial tidak harus menumbuhkan intoleransi, keragu-raguan dan kelambanan. Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi ke-48 itu bertujuan untuk mendedikasikan pemimpin dari semua lapisan masyarakat untuk berkembang pada sebuah narasi bersama untuk memperbaiki keadaan dunia. Program ini merupakan inisiatif dan berfokus pada Menciptakan Masa Depan Bersama di Dunia yang Mengalami Keretakan. Dengan datang secara bersama-sama di awal tahun ini, kita bisa membentuk masa depan dengan bergabung dalam usaha global yang tak tertandingi dalam co-design, co-creation dan kolaborasi. Pertemuan tahunan di Davos tetap menjadi platform global yang tak tertandingi dalam melibatkan para pemimpin bisnis, pemerintah, organisasi internasional, akademisi dan masyarakat sipil dalam sesi kerjanya.

Platform WEF diakui pada tahun 2015 sebagai organisasi internasional untuk kerjasama Pemerintah-Swasta bersama Dewan Federal Swiss. Dalam konteks ini, kami menawarkan kapasitas organisasi - termasuk daya pertemuan, masyarakat keunggulan manajemen, wawasan generasi dan platform teknologi untuk kepentingan pemain yang paling efektif menggerakkan perubahan positif melalui 14 inisiatif, yaitu:
  1. Membentuk Masa Depan Konsumsi 
  2. Membentuk Masa Depan Ekonomi Digital dan Masyarakat 
  3. Membentuk Masa Depan Kemajuan Ekonomi 
  4. Membentuk Masa Depan Pendidikan, Jenis Kelamin dan Pekerjaan 
  5. Membentuk Masa Depan Energi 
  6. Membentuk Masa Depan Lingkungan dan Sumber Daya Alam Keamanan 
  7. Membentuk Masa Depan Sistem Keuangan dan Moneter 
  8. Membentuk Masa Depan Ketahanan Pangan dan Pertanian 
  9. Membentuk Masa Depan Kesehatan dan Kesehatan 
  10. Membentuk Masa Depan Informasi dan Hiburan 
  11. Membentuk Masa Depan Perdagangan dan Investasi Internasional 
  12. Membentuk Masa Depan Investasi Jangka Panjang, Infrastruktur dan Pengembangan 
  13. Membentuk Masa Depan Mobilitas 
  14. Membentuk Masa Depan Produksi
Saat ini dunia sedang menghadapi isu strategis dalam sektor perekonomian, sosial dan politik, seperti: British Exit (Brexit), kebijakan Trump, mata uang crypto, ancaman perang nuklir Korea Utara, terorisme, imigran, masalah Israel-Palestina, kelaparan dll. Setiap negara diharapkan dapat memberikan kontribusi positif dalam menciptakan dunia yang aman dan nyaman bagi siapapun. Indonesia pun memiliki peran yang strategis dalam hal ini. Para pemimpin dunia, sebagai perwakilan negara terutama lagi pemimpin negara besar, mempunyai peran signifikan dalam menginisiasi serta memitigasi setiap kondisi yang dapat menciptakan kehebohan bahkan kekacauan. Sejauh yang saya ketahui, pemerintah Indonesia pada WEF 2018 ini diwakili oleh Luhut Binsar Panjaitan. Panjaitan sebagai menteri koordinator telah bertemu dengan beberapa pemimpin negara.

Jumlah manusia terus bertambah dan sudah mencapai 7,5 miliar di dunia, padahal bumi yang kita tinggali semakin menua dan sedang sekarat. Manusia dan bumi pun seakan sedang berkonfrontasi, karena manusia terus mengeksploitasi bumi demi hidup manusia. Seperti yang diungkap oleh Thomas Robert Malthus, seorang pendeta, jumlah populasi penduduk bertambah sesuai deret ukur sedangkan persediaan makanan bertambah sesuai deret hitung. Inti dari tesis Malthus adalah pertumbuhan penduduk cenderung melampui pertumbuhan persediaan makanan. Menurut Malthus, penduduk cenderung tumbuh secara "deret ukur" (misalnya, dalam lambang 1, 2, 4, 8, 16 dan seterusnya) sedangkan persediaan makanan cenderung bertumbuh secara "deret hitung" (misalnya, dalam deret 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 dan seterusnya). Dari kedua bentuk uraian tesis itu, Malthus berkesimpulan bahwa kuantitas manusia akan terjerumus ke dalam rawa-rawa kemiskinan dan berada ditubir kelaparan. Dalam jangka panjang, tak ada kemajuan teknologi yang dapat mengalihkan keadaan itu, karena kenaikan suplai makanan terbatas, sedangkan "pertumbuhan penduduk tak terbatas, dan bumi tak mampu memproduksi makanan buat menjaga eksistensi manusia."

Akhir kata, buat apa kita sesama manusia saling menghancurkan toh kita hidup di bumi dan menghirup udara yang sama. Tiada negara dan manusia yang lebih besar daripada negara dan manusia yang lain. Oleh karenanya kita sebagai warga negara dunia memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam menjaga keamanan, kenyamanan dan kemakmuran bersama.

No comments: