March 6, 2018

Kisah Seorang Investor Pemula Dengan Return Tinggi: Analisa Singkat INDY, BUMI, MLBI dan SILO 2018

Persahabatan yang terjalin sejak lama sejatinya memiliki kedalaman kenangan dan keakraban tanpa sekat. Saya mempunyai seorang sahabat sejak SMA yang biasa dipanggil dengan nama Ukay. Semasa SMA kami sering pulang bersama, kebetulan rumah kami sama-sama di Tangerang Selatan namun ketika lulus SMA kami jarang bertemu karena dia melanjutkan studi di Bandung sedangkan saya tetap melanjutkan studi di Jakarta. Setelah beberapa tahun kami kembali sering bertemu, ternyata lokasi kantor kami berdekatan apalagi kami juga sama-sama pulang menggunakan kereta listrik (KRL) dari stasiun Tanah Abang dimana saya berhenti di stasiun Jurang Mangu sedangkan dia di stasiun Sudimara. Nah biasanya ketika bertemu kami berdiskusi tentang portofolio saham. 

Sekitar tahun 2013, Ukay pernah meminta pendapat saya bagaimana cara untuk mengembangkan dana yang dimilikinya (Baca: Saham Imbal Hasil Tinggi 7 Tahun Terakhir: Tips Kombinasi Trading dan Investing)Saat itu saya menyarankan dia untuk berinvestasi di saham dan mengikuti pelatihan tentang saham. Dia pun melakukan saran saya dengan membuka rekening di salah satu perusahaan perantara pedagang efek (broker), selanjutnya dia juga mengikuti pelatihan saham dan mengikuti diskusi grup di sosial media yang terkait saham. Tidak hanya itu Ukay juga mengikuti kegiatan rapat umum pemegang saham (RUPS) dari perusahaan-perusahaan yang sahamnya dia miliki.

Beberapa waktu lalu dia mengirimkan screenshot portofolio sahamnya. Walaupun Ukay adalah orang baru dalam dunia saham, namun imbal hasil portofolio saham yang dimilikinya tidak bisa dikatakan kecil yaitu: 100%. Saat ini dia memiliki portofolio saham: PT Multi Bintang Indonesia Tbk. (MLBI), PT Indika Energy Tbk. (INDY), PT Bumi Resources Tbk. (BUMI), PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) dan PT Trada Alam Minera Tbk. (TRAM). Dalam waktu yang relatif singkat (sekitar 2,5 tahun) Ukay dapat mengembangkan dananya naik 2 kali lipat, tentunya ini hasil yang luar biasa untuk seorang pemula. Namun perlu diingat untuk dapat menjadi seperti sekarang tentu ada proses yang harus dilaluinya, setidaknya dia pernah bongkar pasang portofolionya. Dia juga pernah mengalami kerugian sehingga akhirnya melakukan cut loss atas sahamnya. Nampaknya setahun belakangan ini portofolio sahamnya sudah tidak lagi sering berubah.

Portofolio Saham Ukay

Saya kira wajar bagi seorang pemula yang baru dalam dunia saham pada masa awal sering berganti portofolio. Hal ini dikarenakan dia sedang mencari bentuk dan strategi yang tepat untuk dirinya. Memang ada orang yang hanya memerlukan waktu singkat untuk menemukannya namun ada juga yang perlu waktu lebih lama karena setiap orang memiliki kemampuan dan keahlian yang berbeda-beda. Terkait hal ini coba temukan bentuk dan strategi portofolio yang cocok untuk anda, saran saya jika setelah sekian lama masih belum menemukannya, anda dapat melakukan investasi saham melalui reksa dana saham. Hal ini karena reksa dana dikelola oleh manajer investasi yang memiliki keahlian dalam berinvestasi. Dengan demikian dana yang anda miliki dapat berkembang. Beberapa waktu lalu Ukay meminta saya untuk melakukan analisa atas portofolio sahamnya. Saya pun menyanggupi untuk memberikan analisa singkat sambil meminta dia untuk terus mengembangkan kemampuannya dalam investasi saham sebab walaupun dia memiliki imbal hasil yang besar namun portofolio yang dimilikinya sebagian besar adalah saham perusahaan pertambangan yang memang beberapa waktu ini sedang naik signifikan. Jika momen kenaikan itu sudah selesai, maka saham-saham pertambangan akan mengalami tekanan dengan demikian diperlukan pilihan saham dari industri lain sebagai alternatif. 

Ada hal yang ingin saya sampaikan sebelumnya bahwa saya sudah menyelesaikan artikel ini cukup lengkap dan tinggal dilakukan review sehingga bisa ditampilkan lebih cepat. Namun ketika sedang mengerjakannya ada sedikit “kecelakaan” dimana file artikel tersebut terhapus dari flashdisk saya. Saya sudah sudah coba menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan file tersebut dan memang saya berhasil mendapatkan file itu kembali tetapi sayangnya tidak dapat dibuka karena corrupt. Akhirnya saya putuskan untuk menulis kembali namun dibuat lebih sederhana dan hanya membahas inti analisanya saja.

Analisa menggunakan 2 pendekatan yaitu analisa fundamental dan analisa tehnikal.
Periode waktu untuk analisa fundamental didasarkan pada laporan keuangan periode Desember 2013, Desember 2014, Desember 2015, Desember 2016 dan September 2017. Sedangkan analisa tehnikal menggunakan data historis harga penutupan mingguan dari Desember 2012 s.d. Desember 2017 (untuk saham SILO dimulai dari Desember 2013 karena SILO melakukan IPO pada September 2013. Saham TRAM tidak dimasukkan karena perusahaan baru saja melakukan perubahaan bisnis inti dari perusahaan pelayaran menjadi perusahaan pertambangan batubara pada tahun 2017 sehingga belum bisa diukur secara efektif). Tulisan ini bukanlah rekomendasi untuk membeli saham.

Berikut analisanya:
1.PT Indika Energy Tbk. (INDY)

-Profil Singkat
INDY adalah perusahaan yang memiliki portofolio bisnis pada sektor sumber daya energi, jasa energi dan infrastruktur energi. INDY termasuk perusahaan sektor pertambangan yang strategis dengan lini bisnis yang tersebar dari hulu sampai hilir. Di tahun 2008, INDY melakukan penawaran umum saham perdana (IPO) pada harga Rp.2.950 dengan jumlah saham beredar sebanyak 5,2 miliar. Saat ini komposisi pemegang saham dari INDY terdiri dari PT Indika Mitra Energy sebesar 63,47%, dewan komisaris dan direksi serta sisanya adalah publik. PT Indika Mitra Energy sendiri adalah perusahaan patungan yang dimiliki oleh keluarga Wiwoho Basuki Tjokronegoro dan Sudwikatmono. 
-Analisa Fundamental
LK INDY
Periode Desember 2017, INDY mengalami perbaikan secara signifikan tercatat ROE, ROA dan EPS mencatatkan hasil positif. EPS tumbuh menjadi 869 dari sebelumnya -174. Namun DER INDY cukup tinggi sebesar 2,26. DER ini lebih tinggi dari rata-rata PER INDY sebesar 1,65.
-Analisa Tehnikal
Analisa Return INDY vs JCI
Sepanjang periode Desember 2012-Desember 2017, INDY dibuka pada harga 1.420 dan ditutup diharga 3.060. INDY pernah mengalami harga terendah pada Desember 2015 di harga 108 sedangkan harga tertingginya pada Desember 2017 di harga 3.140. Setidaknya INDY telah naik tinggi sebesar 115,49%, jauh melebihi JCI (IHSG) yang 
sebesar 47,23%. Ini suatu kenaikan yang signifikan.

2.PT Bumi Resources Tbk. (BUMI)
-Profil Singkat
BUMI adalah perusahaan operator dalam sektor energi dan pertambangan (batubara dan mineral). Saat ini jumlah saham beredar BUMI termasuk besar dengan jumlah 65 miliar lembar sehingga tidak heran ada yang mengatakan saham BUMI adalah saham sejuta umat. Salah satu yang membuat BUMI begitu menarik adalah kepemilikan BUMI di PT Kaltim Prima Coal yang memiliki cadangan batubara terbesar di Indonesia dengan luas area tambang mencapai 90.000 hektar. Komposisi pemegang saham BUMI terdiri dari Credit Suisse AG, Raiffeisen Bank International AG, PT Damar Reka Energi, serta publik.
-Analisa Fundamental
LK BUMI
Periode Desember 2017, BUMI mengalami perubahan seiring dengan kenaikan harga batubara sepanjang 2017. Secara signifikan tercatat ROE, ROA dan EPS mencatatkan hasil positif. EPS tumbuh menjadi 59,1% menjadi 68,80 di periode 2017 dari sebelumnya sebesar 43,08. Namun DER dan PBV BUMI terlihat tinggi sebesar 10,14 dan 4,61 ini lebih tinggi dari rata-ratan DER dan PBV BUMI.
-Analisa Tehnikal
Analisa Return BUMI vs JCI
Sepanjang periode Desember 2012-Desember 2017, BUMI dibuka pada harga 590 dan ditutup pada harga 270. BUMI pernah mengalami harga terendah pada Juli 2015 s.d. Juni 2016 di harga 50, sedangkan harga tertingginya pada Februari 2013 sebesar 910. Sepanjang periode BUMI mencatatkan pertumbuhan negatif sebesar -54,24%. Saham BUMI cukup "seksi" karena dimiliki banyak orang dan aktif diperdagangkan.

3.PT Multi Bintang Indonesia Tbk. (MLBI)
-Profil Singkat

MLBI adalah perusahaan yang memproduksi/menjual minuman bir dan softdrink dengan merk seperti: Bintang, Heineken, Radler, Fayrouz dan Green Sands. MLBI saat ini adalah market leader untuk produk bir. MLBI melakukan IPO pada tahun 1981 dengan jumlah saham beredar sebesar 2,1 miliar lembar. Komposisi pemegang saham dari MLBI saat ini adalah Heineken International BV (81,78%) dan sisanya publik
-Analisa Fundamental
LK MLBI
Periode Desember 2017, MLBI dapat menjaga kinerja dengan memperoleh kenaikan EPS pada tahun 2017. Tentu ini suatu hal yang bagus. Namun PBV MLBI cukup tinggi sebesar 27,06, nampaknya investor sangat menghargai MLBI mengingat MLBI punya EPS, ROA dan ROE yang stabil. Bagi anda yang suka saham mature dengan volatilitas harga saham yang minim, MLBI adalah salah satu contohnya.
-Analisa Tehnikal
Analisa Return MLBI vs JCI
Sepanjang periode Desember 2012-Desember 2017, MLBI dibuka pada harga 7.400 dan ditutup di harga 13.675. MLBI pernah mengalami harga terendah pada Agustus 2015 di harga 5.900 sedangkan harga tertingginya pada Mei 2015 sebesar 15.000. Sepanjang periode MLBI mencatatkan pertumbuhan sebesar 84,80%. Namun perlu diingat bahwa saham MLBI tidak likuid dan tidak begitu aktif diperdagangkan.

4.PT Siloam Internantional Hospitals Tbk. (SILO)
-Profil Singkat
SILO adalah perusahaan yang memberikan layanan perawatan/penanganan kesehatan (rumah sakit) dengan brand Siloam Hospitals. SILO fokus dengan memberikan layanan dan fasilitas medis yang prima sehingga pasien merasa nyaman dan aman. Jumlah rumah sakit SILO saat ini lebih dari 30 buah yang tersebar di seluruh Indonesia. SILO melakukan IPO pada bulan September 2013 dengan pemegang saham utama adalah PT Lippo Karawaci Tbk. (62%) dan CVC Capital Partners (15%) serta sisanya publik. 
-Analisa Fundamental
LK SILO
Periode Desember 2017, secara umum DER SILO masih bagus dibawah 1. Bagi investor yang tidak menyukai perusahaan dengan utang besar, saham SILO amatlah cocok. Namun PER dan PBV SILO cukup tinggi sebesar 166,37 dan 4,70. Dan juga perlu diingat bahwa bisnis rumah sakit sangat bergantung dari tingkat okupansi kamar inap pasien. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk Indonesia dan membaiknya sistem jaminan kesehatan, tentu membawa potensi terhadap pendapatan SILO ke depannya.
-Analisa Tehnikal
Analisa Retun SILO vs JCI
Sepanjang periode Desember 2012-Desember 2017, SILO dibuka pada harga 9.292 dan ditutup di harga 9.575. Harga terendah saham SILO terjadi pada bulan April 2016 sebesar 7.287 dan harga tertinggi di bulan Agustus 2015 pada harga 16.530. SILO mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,01% selama periode.

Kesimpulan:
  • INDY: harga saham saat ini sudah naik lebih dari 2 kali harga wajarnya, namun INDY tetap menarik karena baru saja menambah kepemilikan saham di PT Kideco Jaya Agung sebagai tambang batubara terbesar ketiga di Indonesia. INDY memiliki alpha: 2,14, beta: 1,20, kinerja aset:  A, kinerja utang: D dan kinerja ekuitas: C.
  • BUMI: harga saham BUMI saat ini masih wait and see, ada kemungkinan masih dapat bergerak naik. Apalagi BUMI adalah pemilik tambang batubara terbesar di Indonesia. BUMI memiliki alpha: 2,43, beta: 1,23, kinerja aset: A, kinerja utang: D dan kinerja ekuitas: D.
  • MLBI: harga saham MLBI saat ini berada pada kisaran harga wajarnya. Bisa dikatakan MLBI adalah saham bagi investor defensif dengan pertumbuhan laba tidak besar tapi stabil. MLBI memiliki alpha: -4,38%, beta: 0,59, kinerja aset: A, kinerja utang: C dan kinerja ekuitas: D.
  • SILO: harga saham SILO saat ini berada dibawah harga wajarnya, SILO memiliki potensi bergerak naik. SILO memiliki alpha: -7,46%, beta: 0,30, kinerja aset: A, kinerja utang: B dan kinerja ekuitas: B (#disclaimer on).

No comments:

Post a Comment