Situs ini memiliki 3 bagian:

April 9, 2018

Strategi Portofolio Investasi Saham Ala Sepakbola: Contoh Penggunaan di Indeks LQ45

Sepakbola adalah olahraga yang paling banyak memiliki penggemar, tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia. Walapun sepakbola dan investasi saham tidak memiliki hubungan secara langsung, namun ada beberapa hal dari strategi sepakbola yang rasanya dapat diterapkan dalam investasi saham. Sebagai penggemar sepakbola, saya pernah menulis Strategi Portofolio Investasi Saham: Belajar Dari Strategi Sepakbola.

Ada pertanyaan dari teman yang masih belum memahami penerapan strategi portofolio investasi ala sepakbola dalam berinvestasi saham. Berangkat dari hal tersebut, tulisan kali ini akan memberikan contoh riil agar lebih aplikatif dan mudah dipahami. Di sini saya menggunakan data dari indeks saham LQ45 periode bulan Desember 2017 dan juga data beta dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) periode 29 Desember 2017. Penggunaan indeks LQ45 disebabkan indeks ini terdiri dari 45 saham yang likuid dan memiliki kapitalisasi pasar yang tinggi dalam 12 bulan terakhir. Dalam hal ini kita perlu sepakati bahwa saham-saham yang terdapat dalam indeks LQ45 adalah saham yang prospektif. Jika anda mau menggunakan indeks lain juga tidak masalah, anda bisa menggunakan indeks Kompas100, Jakarta Islamic Index atau juga Indonesia Sharia Stock Index.
Beberapa langkah yang harus disiapkan adalah:
1.Mendapatkan saham-saham di indeks LQ45 beserta beta sahamnya

2.Menentukan karakter beta saham: Dalam hal ini kita melakukan pengelompokkan saham berdasarkan dengan besaran beta. Anda dapat menentukan beta anda sendiri, dalam contoh ini beta saham dikelompokkan dalam:
  • Saham beta defensif: <0,90
  • Saham beta moderat: 0,90 s.d. 1,10
  • Saham beta agresif: >1,10

3.Mengelompokkan saham berdasarkan beta sahamnya yang telah diurutkan:
  • Untuk beta defensif dan moderat diurutkan dari beta terkecil s.d. beta terbesar. 
  • Untuk beta agresif diurutkan dari beta terbesar s.d. beta terkecil.

4.Menentukan strategi portofolio investasi saham yang terdiri dari:
Portofolio normal adalah portofolio investasi saham terdiri dari 40% saham beta defensif, moderat: 40% dan agresif: 20%. 
Portofolio bertahan adalah portofolio investasi saham terdiri dari 50% saham beta defensif, moderat: 40% dan agresif: 10%. 
Portofolio menyerang adalah portofolio investasi saham terdiri dari 30% saham beta defensif, moderat: 40% dan agresif: 30%.

Contoh 1: Thomas memiliki dana Rp100 juta untuk investasi saham dan dia berencana menginvestasikan dana tersebut pada 10 saham yang masing-masing senilai Rp10 juta. Strategi yang digunakan:
*Strategi Portofolio Normal: portofolio saham Thomas terdiri dari saham beta defensif: 4, moderat: 4 dan agresif: 2.

*Strategi Portofolio Bertahan: portofolio saham Thomas terdiri dari saham beta defensif: 5, moderat: 4 dan agresif: 1.

*Strategi Portofolio Menyerang: portofolio saham Thomas terdiri dari saham beta defensif: 3, moderat: 4 dan agresif: 3.
Contoh 2: Hario memiliki dana Rp300 juta investasi saham dan dia berencana menginvestasikan dana tersebut pada 20 saham yang masing-masing senilai Rp15 juta. Strategi yang digunakan:
*Strategi Portofolio Normal: portofolio saham Hario terdiri dari saham beta defensif: 8, moderat: 8 dan agresif: 4.

*Strategi Portofolio Bertahan: portofolio saham Hario terdiri dari saham beta defensif: 10, moderat: 8 dan agresif: 2.

*Strategi Portofolio Menyerang: portofolio saham Hario terdiri dari saham beta defensif: 6, moderat: 8 dan agresif: 6.

Lalu kapan “harus” menggunakan strategi portofolio normal, bertahan atau menyerang.? Pada sepakbola, tim yang yang membutuhkan kemenangan biasanya akan menerapkan strategi menyerang, strategi bertahan digunakan ketika ingin mempertahankan kemenangan/melawan tim yang lebih kuat sedangkan strategi normal digunakan dalam kondisi biasa. Namun seorang pelatih yang baik dan bijak tidak akan sembarangan menerapkan strategi menyerang ketika butuh kemenangan. Ada kondisi eksternal juga yang harus diperhatikan, seperti: kondisi lawan, cuaca ataupun lapangan.

Sebagai contoh pertandingan final piala Champion Eropa tahun 2005 adalah salah satu pertandingan final liga Champion Eropa yang paling menarik dan menegangkan yang mempertemukan Liverpool FC (Inggris) dengan AC Milan (Italia) di Istanbul, Turki. Saya tidak akan pernah melupakan pertandingan itu, setidaknya saya sempat pesimis karena Liverpool FC terus menerus diserang sampai tertinggal 0:3 namun akhirnya menjadi terharu karena Liverpool FC bisa menyamakan kedudukan serta akhirnya menjadi juara. Kala itu Liverpool FC tidak mempunyai banyak pemain bintang, hanya: Steven Gerrard (Inggris), Xabi Alonso (Spanyol) dan Harry Kewell (Australia). Sedangkan AC Milan diperkuat oleh pemain-pemain hebat yang sedang berada di puncak karir mereka, seperti pemain depan: Andriy Shevchenko (Ukraina) dan Hernan Crespo (Argentina). Pemain tengah: Kaka (Brazil), Andrea Pirlo (Italia) dan Clarence Seedorf (Belanda). Pemain belakang: Jaap Stam (Belanda), Cafu (Brazil), Paolo Maldini dan Alessandro Nesta (Italia) serta penjaga gawang: Dida (Brazil). Mereka adalah dream team dan sulit untuk dikalahkan. Kondisi lain adalah lokasi Istanbul yang lebih dekat dari Milan dibandingkan dari Liverpool. Setidaknya pemain-pemain Liverpool FC akan merasa lebih letih karena perjalanan yang lebih jauh dibanding dengan pemain AC Milan. Ini adalah pertandingan bagaikan Goliat melawan Daud sehingga tidak heran sebagian besar orang menjagokan AC Milan akan menjadi juara dengan mudah.

Hal ini terbukti ketika pertandingan babak pertama dimainkan, AC Milan secara terus-menerus menggempur Liverpool FC. Pemain-pemain Liverpool FC begitu kewalahan, akibatnya babak pertama berakhir skor sudah 3:0 untuk AC Milan. Selain kalah kualitas pemain, Rafael Benitez sebagai pelatih Liverpool FC menerapkan strategi pertahanan tinggi dengan mengandalkan offside yang rasanya kurang tepat untuk meredam kecepatan pemain-pemain AC Milan. Namun semua berubah di babak kedua ketika Benitez mengganti strateginya. Sejak saat itu Liverpool FC mulai mampu menguasai permainan dan berani menekan AC Milan. Hasilnya Liverpool FC dapat menyamakan kedudukan menjadi 3:3, pertandingan pun dilanjutkan dengan babak tambahan. Namun karena skor masih sama sampai selesai, akhirnya dilanjutkan dengan adu tendangan pinalti. Nah dalam adu tendangan pinalti, penjaga gawang Liverpool FC asal Polandia, Jerzy Dudek, mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya dengan memblok bola tendangan pinalti pemain-pemain AC Milan.

Serupa dengan itu, penggunaan strategi portofolio investasi saham perlu melihat kondisi internal dan eksternal. Kondisi internal adalah kondisi dimana kebutuhan akan imbal hasil dari investasi kita. Sedangkan kondisi eksternal adalah kondisi perekonomian dan pasar. Katakan kita memerlukan imbal hasil tinggi maka dapat mempertimbangkan untuk menggunakan strategi menyerang. Namun jika kondisi pasar sedang menurun, menggunakan strategi portofolio menyerang dengan saham beta agresif akan membuat saham tersebut mengalami penurunan lebih dalam (Baca juga: Matematika: Suatu Keindahan Dalam Dunia Keuangan dan Investasi). Oleh karena itu sebaiknya dalam situasi seperti ini strategi yang diterapkan adalah strategi normal atau strategi bertahan. Beberapa hal yang perlu diingat bahwa indeks LQ45 dapat berubah komposisi sahamnya karena diperbaharui setiap 6 bulan sekali. Setiap saham yang sudah tidak memiliki kriteria dalam indeks LQ45 akan dikeluarkan dan digantikan dengan saham lain. Oleh karena itu ada kemungkinan saham anda dikeluarkan dari indeks LQ45. Jika anda akan menerapkan Strategi Portofolio Investasi Saham Ala Sepakbola, anda harus memegang saham yang masuk dalam portofolio minimal selama 6 bulan, walaupun saham tersebut sudah tidak masuk dalam indeks LQ45. Anda harus konsisten dalam hal ini. Selain itu anda juga harus adaptif jika memang kondisi pasar sudah membaik, maka anda dapat berganti menggunakan strategi portofolio menyerang.

Strategi yang dijelaskan di atas sebenarnya sudah pada taraf pendidikan investasi level menengah, dimana setidaknya investor sudah memiliki pengalaman investasi/trading saham secara aktif. Saya tetap menganjurkan bagi anda yang belum memiliki pengalaman investasi di pasar modal minimal 5 tahun untuk membeli reksa dana saham terlebih dahulu, karena investasi di pasar modal adalah investasi dengan risiko tinggi. (#disclaimer on)

No comments: