Welcome to opra-invest.com:
Now Investing Will Never Be The Same..

Situs ini memiliki 3 bagian:

Searching Article

May 13, 2018

Bonus Demografi Indonesia 2020-2035: Memperoleh Penghasilan Tambahan

Ketika saya masih belajar di sekolah, bapak dan ibu guru sering menyampaikan bahwa Indonesia adalah negara yang spesial karena terletak di lokasi strategis serta kaya akan sumber daya alam. Letak geografis Indonesia berada di antara benua Asia - benua Australia dan samudra Hindia - samudra Pasifik. Selain itu Indonesia dilalui oleh garis khatuliswa (ekuator) yang membuat Indonesia memiliki iklim tropis, memiliki curah hujan tinggi dan sinar matahari yang banyak.

Jaringan
Dari sisi sumber daya alam, Indonesia kaya akan sumber daya hayati (yang berhubungan dengan mahluk hidup), seperti: tumbuhan dan hewan, serta sumber daya alam nonhayati: pertambangan. Konon di zaman dahulu bangsa-bangsa asing yang letaknya jauh datang untuk berdagang di Indonesia. Mereka melakukan perdagangan dengan Indonesia karena tidak memiliki sumber daya alam melimpah. Bangsa-bangsa asing itu memiliki modal dan tehnologi dan Indonesia memiliki sumber daya alam. Hal ini membuat Belanda dan Portugis yang tadinya melakukan perdagangan, berpikir untuk menguasai kekayaan alam Indonesia setelah melihat keluguan orang Indonesia. Jika kita hanya berbangga Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya, ini adalah suatu kecerobohan. Kelak sumber daya alam akan habis apalagi jika dieksploitasi terus menerus. 


Maka dari itu faktor yang juga penting adalah sumber daya manusia yang harus dimaksimalkan. Jumlah penduduk Indonesia tahun 2018 berjumlah 260 juta jiwa, di satu sisi ini memberikan keuntungan namun dapat juga menjadi kerugian jika tidak dikelola dengan baik. Misal kita masih melihat anak-anak Indonesia yang tidak sekolah karena orang tuanya tidak memiliki biaya untuk pendidikan anaknya. Jika tidak diantisipasi dengan baik maka anak-anak ini berpotensi tidak memiliki keahlian bahkan ekstremnya dapat terlibat kriminalitas. Untuk itu pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, beberapa caranya dengan menaikan anggaran pendidikan di Anggaran Penghasilan dan Belanja Negara (APBN) dan memberikan beasiswa kepada mereka yang memiliki kemampuan. Memang salah satu kendala dalam meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia adalah luas wilayah dan banyaknya pulau.

Pengalaman saya di Jerman membuka mata saya akan pentingnya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Jerman memiliki kesejahteraan ekonomi dan kualitas hidup yang baik. Jika menggunakan ukuran Gross Domestic Product (GDP) per kapita tahun 2016, GDP per kapita Jerman sebesar $41.900 dan Indonesia: $3.500. Jerman adalah salah satu negara yang memiliki anggaran pendidikan yang tinggi, mereka percaya pendidikan alat menciptakan kemakmuran masyarakat. Setiap warga negara Jerman diwajibkan mengikuti pendidikan wajib dari sekolah dasar s.d. sekolah atas. Untuk itu pemerintah Jerman memberikan subsidi pendidikan sehingga mereka tidak perlu membayar sekolah. Konsekuensinya jika mereka dalam usia sekolah tidak mengikuti pendidikan wajib, orang tua mereka akan dipanggil oleh pemerintah untuk dimintai keterangan bahkan dapat saja dimasukkan ke dalam penjara. Hal ini tentu berbeda dengan Indonesia yang mengharuskan untuk menempuh pendidikan wajib 12 tahun namun tidak mampu memberikan pendidikan secara gratis di seluruh wilayah Indonesia. Hal yang saya pelajari juga dari orang Jerman adalah tentang kedisiplinan dan ketekunan mereka dalam melakukan sesuatu. Di Jerman yang sumber daya alamnya tidak sekaya Indonesia dan memiliki 4 iklim, menuntut mereka untuk bekerja tidak hanya keras tapi juga cerdas. Dalam hal ini, Jerman dikenal sebagai negara yang menciptakan produk bermutu dan tahan lama.

Jumlah populasi di Jerman saat ini sekitar 82 juta (2016), jumlah ini adalah sekitar 33% populasi di Indonesia. Posisi Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi terbesar ke-4 di dunia menjadikan Indonesia pasar empuk bagi produk negara lain. Lihat saja, beberapa launching handphone terbaru dilakukan di Indonesia, apalagi orang Indonesia dikenal juga sebagai negara yang konsumtif dalam membeli barang/jasa. Mereka tidak segan mengeluarkan dana untuk mendapatkan produk terbaru, entah karena memang butuh atau hanya sekadar ikut-ikutan. Dan menurut saya disinilah kelebihan Indonesia yaitu kuantitas sumber daya manusia dan konsumsi manusianya.

Berdasarkan prediksi, Indonesia diperkirakan akan mengalami suatu masa emas sumber daya manusia bernama "Bonus Demografi" yang terjadi dalam kurun waktu 2020-2035. Bonus demografi adalah suatu masa dimana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar daripada usia tidak produktif (anak-anak dan lansia) yang dapat mencapai lebih dari 70%. Data tahun 2015, jumlah penduduk usia produktif sekitar 172 juta jiwa sedangkan jumlah penduduk usia tidak produktif: 84 juta jiwa. Bonus demografi adalah suatu peluang besar yang harus dipersiapkan dengan baik karena bonus demografi tidak secara otomatis membawa keuntungan. Keuntungan yang dapat diperoleh dari bonus demografi adalah tersedianya tenaga kerja usia produktif sebagai sumber daya penopang utama pembangunan ekonomi. Tenaga kerja usia produktif yang diperlukan adalah mereka yang terlatih dan terdidik sehingga dapat diserap oleh lapangan kerja sehingga tersedianya lapangan kerja yang memadai sangatlah diperlukan. Namun sayangnya di Indonesia jumlah pencari kerja dengan jumlah pekerjaan yang tersedia tidaklah sebanding. Pada tahun 2015 angka pengangguran di Indonesia termasuk terbesar ketiga di Asia Tenggara sebesar 6,2% (7,2 juta jiwa), berbeda jauh dengan Malaysia (3,2%) dan Singapura (2,8%). Oleh karena itu pemerintah terus berupaya menciptakan lapangan kerja baru untuk mengakomodasi angkatan kerja. Namun pemerintah sadar bahwa tidak mampu sendirian untuk menciptakan lapangan kerja oleh karenanya diperlukan peran aktif dari masyarakat membuka lapangan kerja untuk dirinya sendiri dan juga orang lain.

Dalam hal ini pemerintah mendorong munculnya wirausahawan baru. Setidaknya jumlah wirausahawan Indonesia saat ini masih dibawah proporsi ideal yang sebesar 2%. Jumlah wirausahawan di Singapura telah mencapai lebih 6% dari jumlah penduduknya dan Malaysia 3%. Beberapa kendala belum banyaknya jumlah wirausahawan di Indonesia disebabkan isu seperti: permodalan, regulasi, perpajakan dan pola pikir masyarakat. Ditambah lagi kurikulum kewirausahaan belum banyak diajarkan di sekolah supaya anak-anak aware adanya kewirausahaan. Hal-hal ini menyebabkan sebagian besar orang Indonesia lebih memilih untuk aman dengan menjadi pegawai, walaupun penghasilan yang diperoleh statis tiap bulannya namun memiliki kepastian. Tentu pilihan setiap orang untuk menjadi wirausahawan ataupun pegawai. Robert Kiyosaki, seorang penulis dan motivator kelas dunia, mengenalkan cashflow kuadran penghasilan dimana dia membagi orang dalam 4 kuadran: employee (E), self employed (S), business owner (B) dan investor (I). Menurut Kiyosaki sebagian besar orang di dunia saat ini berada pada kuadran E dan S, namun jika ingin memiliki kualitas ekonomi yang lebih baik maka orang tersebut harus memindahkan kuadrannya ke B dan I. Selama berada pada kuadran E dan S, maka orang itu harus bekerja terlebih dahulu agar mendapatkan penghasilan sedangkan orang pada kuadran E dan S membuat sistem agar manusia/asset dapat menghasilkan uang untuk dirinya. Anda dapat membacanya di Robert Kiyosaki dan Cashflow Kuadran: Tips Untuk Mendapatkan Penghasilan Pasif.

Pada pertengahan tahun 2017, seorang kenalan saya bercerita bahwa dia sedang bergabung dalam suatu sistem produk asuransi yang ditawarkan dengan sistem jaringan. Dengan sangat antusias dia menceritakan bahwa sistem ini telah mampu membawa orang-orang yang tidak berpendidikan tinggi dan bekerja serabutan memiliki penghasilan yang tinggi. Salah satu orang sukses yang dia sebutkan adalah seorang mantan kenek bus yang telah berpenghasilan ratusan juta per bulan sehingga dapat membeli rumah dan mobil mewah. Dia mengatakan bahwa saat ini penghasilan di sistem tersebut masih dibawah Rp1 juta per bulan namun dia punya mimpi dan semangat yang dicurahkan untuk menjadi seperti mantan kenek, sang top leader. Saya kira wajar kalau setiap orang ingin memiliki kehidupan yang lebih baik apalagi kebutuhan makin lama terus bertambah sebabnya diperlukan suatu kerja keras dan cerdas. Saya sangat menghargai semangatnya karena bagi saya orang yang memiliki mimpi dan semangat menandakan bahwa orang tersebut masih hidup, sedangkan orang hidup namun tidak memiliki mimpi dan semangat sama seperti dengan orang yang telah mati. Dia pun memperkenalkan saya dengan mitra-mitra di jaringannya. Mereka adalah orang-orang yang juga memiliki mimpi dan semangat untuk memperbaiki kehidupan ekonomi mereka. Diantara mereka ada yang berprofesi sebagai tukang nasi goreng, ahli terapi kesehatan, tukang ojek dan sales buku sekolah. Dari sisi pendidikan formal, tidak semua dari mereka memiliki ijazah pendidikan SMA.

Mereka adalah contoh orang-orang pekerja keras dan cerdas. Ada suatu kata mutiara yang mereka pegang: “Kita tidak dapat memilih siapa orang tua kita, namun kita dapat memilih mau menjadi seperti apa.” Mereka sadar bahwa mimpi itu harus diraih dan bukan ditunggu. Oleh karena itu selain melakukan profesi mereka yang utama mereka tetap berusaha untuk membangun jaringan mereka. Saya sepakat dengan pendapat mengatakan bisnis yang tidak memerlukan modal besar dan pendidikan formal namun dapat menghasilkan penghasilan besar: Agen Asuransi dan Bisnis Jaringan. Mungkin anda tidak setuju akan hal tersebut, itu hak anda. Mitra kenalan saya yang berprofesi sebagai penjual nasi goreng bercerita bahwa untuk mulai bisnis jualan nasi goreng setidaknya dia butuh modal minimal Rp.4 juta untuk membuat gerobak belum lagi dia harus membeli peralatan untuk memasak. Pada masa ini nilai tersebut dapat bernilai lebih mahal lagi. Untuk memperoleh uang tersebut, dia harus meminjam uang kepada saudara dan temannya.

Saat ini Indonesia memiliki kuantitas sumber daya manusia yang besar, sebagian dari mereka adalah usia produktif. Menjadi agen asuransi dan bisnis jaringan adalah salah satu pilihan bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan tambahan bahkan penghasilan utama. Tidak memerlukan modal besar, pendidikan formal dan rutinitas. Tentu saya tidak bermaksud mengatakan menjadi agen asuransi dan menjalankan bisnis jaringan cocok untuk semua orang. Saya sadar tiap orang itu berbeda dan unik sehingga apa yang berhasil pada satu orang belum tentu berhasil juga pada orang lain. Selain itu jika menjalankan bisnis agen asuransi dan jaringan itu mudah pasti semua orang yang bergabung akan memiliki penghasilan yang tinggi semua. Namun setidaknya ini merupakan salah satu cara dalam memanfaatkan bonus demografi yang akan dialami oleh Indonesia. Kita tentu sedih jika mendengar tenaga kerja Indonesia (TKI) yang diperlakukan tidak manusiawi oleh majikan mereka di luar negeri. Mereka diperlakukan tidak manusiawi disebabkan majikan mereka yang merasa superior karena telah mengeluarkan uang besar kepada para agen TKI sehingga menganggap TKI dapat diperlakukan semau mereka. Dapat juga mereka kesal karena TKI yang mereka dapatkan tidak memiliki keahlian dan kemampuan yang baik dalam melakukan pekerjaan mereka. Namun apapun itu, kekerasan terhadap TKI adalah suatu kesalahan dan kekejian yang tidak boleh dilakukan. Bagaimana jika sanak saudara kita diperlakukan tidak baik oleh orang lain, tentu saja kita tidak dapat menerimanya. Oleh karena itu potensi untuk memperoleh penghasilan di Indonesia sebenarnya masih ada, walaupun tidak cocok untuk semua orang.

Tulisan ini saya dedikasikan kepada mereka yang sedang berjuang untuk meraih mimpi mereka untuk mendapat kehidupan ekonomi yang lebih baik. Semoga bonus demografi Indonesia tidak hanya lewat begitu saja, namun kita dapat mengambil keuntungan dari hal tersebut. Menurut beberapa ahli demografi/statistik bahwa bonus demografi adalah suatu hal yang langka yang hanya terjadi sekali dalam perjalanan suatu bangsa, bandingkan dengan negara-negara maju seperti Jepang yang sudah melewati bonus demografi mereka. Saat ini tingkat pertumbuhan penduduk di negara mereka relatif kecil. Jumlah orang lanjut usia lebih besar daripada mereka yang usia produktif. Banyak anak muda disana yang tidak menikah ataupun kalau menikah mereka memilih untuk tidak memiliki anak. Sehingga pemerintah mereka harus mengeluarkan kebijakan khusus agar jumlah pertumbuhan penduduk bertambah. Hal ini tentu penting karena jumlah penduduk menyangkut masalah ekonomi, sosial dan budaya suatu bangsa.

Jika anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai bisnis ini, anda dapat mengunjungi link: penghasilan-cerdas. Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk mereka yang memiliki mimpi dan semangat. Semoga berhasil…

1 comment:

Eza said...

Terima kasih atas informasinya...

www.penghasilan-cerdas.com

Popular Posts