Welcome to opra-invest.com:
Now Investing Will Never Be The Same..

Situs ini memiliki 3 bagian:

Searching Article

May 4, 2018

Reksa Dana Dollar: Data 2013-2017 dan Tips Menyiapkan Liburan Ke Luar Negeri

Bulan Ramadhan tahun 2018 sebentar lagi akan tiba, setiap Muslim di seluruh dunia diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan. Segala persiapan jasmani dan rohani pun disiapkan agar puasa dapat berjalan dengan lancar sampai kepada akhirnya. Hal ini pun berlaku bagi Muslim di Indonesia, negara dengan populasi Islam terbesar di dunia berjumlah 210 juta. Gegap gempita menyambut Ramadhan sudah mulai terasa, orang-orang mulai bersiap membeli kebutuhan di pasar/supermarket.

Namun ada yang menarik terkait wacana pemerintah memberikan hari libur Idul Fitri 2018 selama 2 hari ditambah dengan 7 hari cuti bersama yang disampaikan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Asman Abnur. Hal ini pun sontak menimbulkan pro-kontra di tengah masyarakat, sebab biasanya libur lebaran berlangsung hanya 2 hari ditambah dengan 2-3 hari cuti bersama. Umumnya mereka yang pro adalah para pegawai dan pelajar sedangkan yang kontra adalah para pebisnis, profesional dan investor. Mereka yang pro tentunya karena ingin mendapat liburan yang lebih panjang sedangkan yang kontra menilai libur panjang kontraproduktif terhadap kegiatan ekonomi, investasi dan bisnis. Bahkan penolakan signifikan disampaikan oleh Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Tito Sulistio. Dia mengatakan banyak investor asing mengeluh dengan wacana libur lebaran 2018. Tidak hanya itu Tito juga membandingkan dengan pasar option international di Australia dan Singapura yang tetap buka ketika libur nasional. Libur bursa tidak hanya membuat investor kehilangan potensi keuntungan, BEI pun juga terancam kehilangan potensi fee transaksi. Bahkan beberapa orang ada yang mengkaitkan penurunan IHSG pada akhir April 2018, salah satunya disebabkan oleh rasa kecewa investor terhadap wacana libur lebaran 2018.

Mungkin anda merupakan orang dalam kelompok yang pro ataupun kontra terhadap wacana libur tersebut. Saya sendiri lebih memilih agar cuti bersama diserahkan kepada masing-masing pribadi karena setiap pegawai memiliki perbedaan jatah cuti, perbedaan kondisi ekonomi ataupun perbedaan kebutuhan liburan.

Ilustrasi: Thomas adalah seorang pegawai yang memiliki jatah cuti lebih dari 12 hari, dana liburan Rp.100 juta dan ingin berlibur ke ski resort maka Thomas dapat memutuskan untuk mengambil liburan ke Swiss yang walaupun lebih jauh dan lebih mahal dibandingkan di Korea Selatan tetapi memiliki sensasi yang berbeda. Di lain pihak Joni adalah seorang pegawai juga, namun dia memiliki jatah cuti hanya 6 hari dan memiliki dana liburan hanya Rp5 juta. Sehingga dapat diasumsikan, liburan ke Swiss bagaikan fatamorgana bagi Joni. Liburan yang masuk akal baginya adalah liburan skala domestik dalam jangka waktu pendek sehingga biaya yang dikeluarkan tidak besar. Walaupun Thomas dan Joni adalah sama-sama pegawai namun memiliki kondisi yang berbeda.

Tulisan ini membahas tentang merencanakan liburan ke luar negeri dan reksa dana dollar. Berlibur ke luar negeri umumnya menggunakan kurs dollar sebagai acuan dalam membeli tiket pesawat dan akomodasi. Saya teringat dengan seorang teman yang ingin berlibur ke Paris sehingga dia menyisihkan sebagian gajinya untuk ditaruh dalam tabungan dollar. Alasannya jika dia menabung dalam rupiah, dia tidak dapat mengantisipasi sekiranya ada kenaikan kurs dollar terhadap rupiah yang dapat menggerus nilai tabungannya. Sebagai catatan, menjelang akhir bulan April 2018 nilai tukar rupiah cenderung melemah terhadap dollar hingga mencapai Rp13.894. Setidaknya dollar sudah menguat atas rupiah di tahun 2018 sebesar 3,7% (year to date). Dalam suatu kesempatan Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan bahwa BI telah melakukan berbagai upaya stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing dan pasar surat berharga negara (SBN) dalam jumlah besar. Menurut teori moneter, rupiah melemah karena pasokan rupiah lebih banyak daripada dollar. Solusinya adalah BI melakukan intervensi di pasar valuta asing dengan menjual dollar untuk dibelikan rupiah, selain itu BI juga dapat melakukan intervensi pasar SBN dengan membeli SBN di pasar sekunder.

Sebenarnya pelemahan nilai tukar juga dialami oleh mata uang di negara-negara berkembang lainnya. Menurut saya, pelemahan nilai tukar lebih disebabkan karena faktor eksternal seperti kebijakan dari bank sentral Amerika Serikat yang diperkirakan akan menaikkan tingkat suku bunga the Fed. Selama bertahun-tahun inflasi di Amerika Serikat rendah karena sedikitnya permintaan masyarakat Amerika Serikat. Sejak tahun 2008 daya beli turun namun sekarang sudah mulai terjadi peningkatan inflasi yang dipercaya sebagai indikator perbaikan ekonomi Amerika Serikat. Kenaikan ekspektasi inflasi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil surat utang Amerika Serikat. Menurut BI, nilai tukar rupiah saat ini berada dibawah nilai fundamen (undervalue) ekonomi Indonesia maka dari itu rupiah berpotensi menguat daripada melemah. BI meminta agar masyarakat tidak panik terhadap pelemahan nilai tukar rupiah karena fluktuasi dan dampaknya masih dapat dikendalikan. Kepanikan malah dapat menimbulkan gejolak nilai tukar yang lebih massif. Memang dalam jangka pendek, pelemahan nilai tukar akan berdampak pada meningkatnya nilai cicilan dan bunga utang luar negeri. Karena itu masyarakat hendaknya tetap waspada dan melakukan upaya mitigasi risiko terhadap pelemahan nilai tukar.

Tentu untuk orang berpenghasilan dollar memiliki kebutuhan rupiah, menguatnya dollar membuat pundi-pundi rupiah mereka bertambah besar. Namun sebaliknya untuk orang yang bergaji rupiah tetapi memiliki kebutuhan dollar menguatnya dollar akan memberatkan. Maka dari itu jika anda memiliki penghasilan rupiah dan memiliki kebutuhan dollar harus dapat menyiasati hal ini. Bagi anda yang memiliki penghasilan rupiah tidak perlu berkecil hati, saat ini banyak tersedia investasi menggunakan mata uang dollar, salah satunya adalah reksa dana dollar. Selain berinvestasi di reksa dana rupiah dan dollar, peraturan OJK memperbolehkan mata uang euro namun sejauh yang saya ketahui saat ini belum terdapat reksa dana euro.

Reksa dana dollar adalah reksa dana yang bertransaksi menggunakan mata uang dollar untuk diinvestasikan dalam suatu portofolio efek. Namun ditengah menguatnya dollar, reksa dana dollar yang berinvestasi pada asset dollar berpotensi mendapatkan nilai lebih dibandingkan dengan reksa dana dollar yang berinvestasi pada aset rupiah karena berpotensi mengalami kerugian kurs. Maka dari itu penting bagi investor mengetahui komposisi portofolio efek reksa dananya. Reksa dana dollar serupa dengan reksa dana rupiah dalam banyak hal, perbedaannya yang kentara adalah harga pembentukan awal reksa dana dollar adalah $1, sedangkan reksa dana rupiah adalah Rp1.000. Namun harus juga diingat jika reksa dollar berinvestasi pada deposito dollar dan obligasi dollar, maka akan memberikan imbal hasil lebih rendah dari deposito rupiah dan obligasi rupiah. Sampai saat ini beberapa manajer investasi (MI) masih optimis kalau reksa dana dollar tetap menarik. Melemahnya nilai tukar dinilai hanya berlangsung sementara namun tetap saja MI perlu berhati-hati.

Sebelumnya saya telah menulis tentang reksa dana, anda dapat membaca tulisan-tulisan tersebut di Reksa Dana: Investasi Terjangkau, Aman dan Menguntungkan dan Reksa Dana: Data dan Statistik Desember 2013-Desember 2017 untuk memperdalam informasi anda. Untuk memberikan gambaran tentang reksa dana dollar, berdasarkan data Desember 2013 jumlah MI yang mengelola reksa dana dollar sebanyak 18, jumlah reksa dana dollar: 40 serta dana kelolaan: $578 juta (Rp7,04 triliun). Namun jumlah itu telah naik signifikan pada Desember 2017 dimana jumlah MI menjadi: 29 (naik 61,11%), jumlah reksa dana dollar: 71 (naik 77,50%) dan dana kelolaan: $.1,44 miliar (naik 141,60%). Perlu untuk dicatat pada 31 Desember 2013 kurs dollar/rupiah adalah Rp12.189 sedangkan pada 29 Desember 2017: Rp13.548, artinya dollar telah menguat sebesar 11,15% dari tahun 2013 s.d. 2017.

Data Reksa Dana Dollar Des'13 s.d Des'17
Dari tabel di atas kita dapat melihat bahwa terjadi peningkatan jumlah reksa dana, dana kelolaan dan unit penyertaan. Data yang disajikan di atas terdiri dari reksa dana dollar: pasar uang, pendapatan tetap, campuran, saham, terproteksi, syariah saham dan syariah efek luar negeri. Dan kebanyakan investor reksa dana dollar adalah orang/institusi yang mempunyai kebutuhan dollar di masa depan namun sudah dipersiapkan di masa kini. Nah bagi anda yang ingin berlibur ke luar negeri tentunya membutuhkan dollar di masa depan. Saya memberikan cara dan simulasi bagaimana menyisihkan dana untuk berlibur ke luar negeri.

Contoh: Di bulan Mei 2018, Hario merencanakan berlibur ke Paris pada bulan November 2018. Dia menyusun anggaran sebagai berikut:
1.Pengeluaran
*Tiket Jakarta-Paris (PP)   : $1.100
*Visa                                  : $150
*Penginapan $100/hari     : $600
*Konsumsi $20/hari          : $120
*Rekreasi & Transportasi  : $1.000
*Biaya tak terduga (5%)    : $15
                                            $2.985
2.Pemasukan
Karena Hario berencana berangkat di bulan November 2018, maka Hario memerlukan waktu 6 bulan untuk mengumpulkan dana. Dengan demikian dana yang harus disisihkan Hario tiap bulan adalah $497,5 ($2.985 dibagi 6).

Simulasi Liburan ke Paris
Dana untuk membeli tiket terkumpul di bulan Agustus 2018, namun jika menunggu sampai Agustus 2018 harga tiket dapat berubah. Hario dapat meminjam uang tanpa bunga kepada teman/kerabat dan membeli tiket di Mei 2018. Ketika bulan Agustus 2018, Hario dapat membayar utang tiketnya. Sebaiknya tidak berutang dengan bunga untuk liburan.
  • Berinvestasi di reksa dana pasar uang dollar lebih disarankan mengingat jangka waktu investasi hanya 6 bulan 
  • Biaya tak terduga sebesar 5% dari total pengeluaran, gunanya untuk mengantisipasi perubahan kurs. 
  • Balance = total penerimaan dikurangi total pengeluaran. Selain itu total balance harus 0. 
  • Cash on hand = akumulasi dari balance ditambah balance sebelumnya.

Nah anda tentu dapat menyusun rencana liburan yang sesuai dengan kondisi anda. Anda juga dapat memodifikasi sesuai dengan proyeksi anda, misalkan di penerimaan anda mau menambahkan penerimaan hasil investasi. Intinya setiap orang perlu mengetahui kebutuhan liburan masing-masing dan melakukan proyeksi sehingga menemukan cara agar dapat memenuhinya.

No comments:

Popular Posts