Situs ini memiliki 3 bagian:

June 23, 2018

Catatan Piala Dunia dan Investor Kelas Dunia: Proses, Krisis dan Sukses

Bagi penggemar sepakbola, perhelatan Piala Dunia 2018 di Rusia adalah tontonan yang penting untuk disaksikan, apalagi gelaran piala dunia kali ini bersamaan dengan libur lebaran 2018. Bagi anda yang belum mengetahui, piala dunia adalah turnamen sepakbola antar negara yang diadakan setiap 4 tahun sekali. Tidak semua negara dapat berpartisipasi dalam turnamen tersebut jika tidak lolos babak kualifikasi. Dengan demikian dapat dikatakan yang tampil di piala dunia adalah tim nasional sepakbola kelas dunia. Nah berbicara tentang tim nasional sepakbola kelas dunia, 2 tim favorit saya adalah Jerman dan Brasil. Keduanya pun telah mengkoleksi piala dunia dimana Jerman: 4 piala dan Brasil: 5 piala.

blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Saya merasa cukup beruntung karena pernah merasakan atmosfir piala dunia secara langsung Piala Dunia 2006 di Jerman. Ketika itu Jerman masih dilatih oleh Juergen Klinsmann, mantan penyerang Jerman yang pernah membawa negaranya meraih Piala Dunia 1990. Dibawah asuhan Klinsmann, perjuangan tim panser mampu meraih juara ketiga. Namun sedikit sharing saya, sukacita warga Jerman tidak sama bahkan seakan-akan piala dunia sudah selesai ketika mereka dikalahkan oleh Italia di babak semifinal. Klinsmann dianggap gagal membawa Jerman menjadi juara di negaranya sendiri. Bersyukur mereka masih mendapatkan posisi ketiga setelah mengalahkan Portugal.

Setelah peristiwa Piala Dunia 2006, pelatih tim panser berganti kepada Joachim Loew. Salah satu hal berani Loew adalah melakukan pergantian pemain matang dengan yang lebih muda dan berpotensi. Jika pada Piala Dunia 2006, rata-rata usia pemain tim panser: 26,39 tahun dengan tinggi pemain: 184,04 cm maka di Piala Dunia 2010 rata-rata usia pemain tim panser: 24,96 tahun dan rata-rata tinggi pemain: 184,48 cm. Walaupun pada Piala Dunia 2010, tim panser kembali meraih posisi ketiga namun Loew mulai membangun pondasi tim dengan calon pemain bintang: Toni Kross (20), Thomas Mueller (20), Mezut Oezil (21), Jerome Boateng (21) dan Sami Khedira (23). Mereka sebelumnya tidak ada di Piala Dunia 2006 namun telah menjadi bibit di Piala Dunia 2010.

Pada Piala Dunia 2014, Jerman mulai menunjukkan kematangannya, nama-nama di atas pun membawa Jerman menjadi juara Piala Dunia 2014. Tim ini adalah tim yang sudah melalui proses pembentukan fisik dan mental yang baik serta terukur untuk memberikan hasil terbaik. Perlu diketahui bahwa pemain sepakbola Jerman telah melalui jenjang latihan sepakbola sejak usia dini, hampir tidak ada jalan instan untuk meraih keberhasilan. Itulah yang perlu dikerjakan oleh tim nasional sepakbola Indonesia. Cara instan dengan mengganti pelatih tidak akan dapat membeli prestasi, jika tidak dibarengi dengan fasilitas dan metode latihan jangka panjang. Tentunya ini menjadi tanggung-jawab dari semua pemangku kepentingan di industri sepakbola Indonesia.

Ketika tulisan ini dibuat, salah satu pemain yang menonjol di Piala Dunia 2018 adalah Christiano Ronaldo dimana dia sudah mencetak 4 gol ke gawang lawan, 3 gol melawan Spanyol dan 1 gol melawan Maroko. Di tahun ini dia berusia 33 tahun, usia yang tidak muda lagi bagi pesepakbola. Jika banyak pemain sepakbola di usia ini sudah mulai mempertimbangkan untuk pensiun atau malah sudah pensiun, Ronaldo masih mampu menjaga kebugarannya. Hal ini wajar karena Ronaldo adalah salah satu pemain sepakbola yang sangat disiplin sejak usia muda demi meraih prestasi. Dia berlatih lebih tekun bahkan dalam hal kecil sekalipun dia tidak merokok dan memakai tato.

Hampir serupa dengan pemain sepakbola di piala dunia, sebagian besar investor kelas dunia telah melalui proses pembentukan yang panjang. Warren Buffett memperoleh $.1 juta nya pada usia 30 tahun. Padahal dia sudah mulai berinvestasi sejak usia 11 tahun (dengan demikian Mr.Buffett butuh waktu 19 tahun menjadi jutawan). Beberapa orang yang mengatakan bahwa pasar modal adalah investasi yang sulit mungkin disebabkan telah mengalami kerugian besar dan belum menemukan metode yang tepat dalam berinvestasi. Sebenarnya justru ketika kita menemukan kesulitan, penting untuk mau belajar dari para investor kelas dunia. Ada beberapa kisah dari investor kelas dunia yang akan dibahas. Mereka dikenal sebagai value investor karena strategi investasi memilih efek yang undervalued namun berpotensi. Selain Mr.Buffett, masih ada tokoh-tokoh lain yang dapat memberikan inspirasi dalam berinvestasi yang baik dan benar. Mereka adalah:

1.Irving Kahn
Kahn adalah salah satu investor tertua di dunia yang memiliki usia mencapai 109 tahun. Dia lahir pada 19 Desember 1905 di New York City, Amerika Serikat dan meninggal tanggal 24 Februari 2015. Kahn merupakan bagian dari murid awal Benjamin Graham, bapak value investing, bahkan Kahn menjadi asisten Graham di Columbia University. Dia juga salah satu pendiri New York Society of Security Analysis (NYSSA) dan Financial Analysts Journal. Pada tahun 1928, dia bekerja di Hamershlag Borg menjadi seorang asisten broker. Namun karena tidak memiliki latar belakang keuangan dan investasi dia pun merasa kewalahan, karena itu dia mengunjungi perpustakaan publik setiap hari untuk belajar. Dari hasil observasinya, dia melihat bahwa pasar sedang mengalami euforia dengan adanya booming real estat Florida pada awal tahun 1920an. Pada saat itu harga rumah naik dua kali lipat dengan cepat, para spekulan memanfaatkan secara massif kesempatan hanya perlu menempatkan 10% harga properti secara tunai. Akhirnya krisis pun datang. Nah walaupun bencana Florida memberikan dampak besar, ternyata masyarakat belum belajar banyak. Di tahun 1927, uang panas mulai masuk ke pasar saham sehingga mengubah Wall Street menjadi seperti kasino. Orang banyak menggunakan utang untuk membeli saham pada margin 10%, naluri Kahn mengatakan bahwa masalah besar akan datang. Hal ini terbukti, Great Depression yang terjadi pada tahun 1929 di pasar modal Amerika Serikat menghancurkan bisnis dan menciptakan pengangguran yang tinggi. Namun Kahn tidak terpancing mengikuti arus membeli saham, sebelumnya dia melihat daftar indeks saham lalu memutuskan melakukan short selling atas sebuah perusahaan tembaga bernama Magma Copper. Kahn dapat mengambil keuntungan sebesar 100% dari tindakannya tersebut. Meskipun itu menjadi awal yang baik baginya, Kahn merasa kesulitan untuk mengarungi masa-masa di Great Depression. Momen depresi memberikan pelajaran baginya untuk berhemat dan tidak kehilangan uang. Kahn banyak belajar dari Graham ketika mengikuti kelas analisa sekuritas di Columbia University. Graham melihat bahwa Kahn memiliki potensi yang besar sehingga ketika asisten Graham mengundurkan diri, Graham meminta Kahn untuk menggantikannya. Tugasnya adalah mempersiapkan analisis statistik untuk diskusi dan studi kasus bahkan Kahn juga membantu menyiapkan analisis untuk buku Graham dengan David Dodd berjudul: Security Analysis. Melihat dunia dengan mata Graham membantu Kahn untuk mengkompilasi bahan-bahan statistik untuk buku Graham selanjutnya: Storage and Stability yang terbit tahun 1937. Kahn memiliki pengalaman bekerja di banyak perusahaan investasi hingga akhirnya pada tahun 1978 dia mendirikan perusahaan investasinya sendiri: Kahn Brothers & Co. Salah satu hal yang dilakukannya setelah mendirikan perusahaan adalah membeli kursi di New York Stock Exchange sebesar $100.000. Ini merupakan langkah strategis karena dapat memfasilitasi perdagangan saham Kahn Brothers & Co. Kahn sangat menyukai saham perusahaan yang diperdagangkan dibawah nilai modal kerja bersih nya. Selain itu dia juga memiliki kesabaran yang baik dan disiplin yang tinggi. Hal-hal tersebut yang membuatnya berhasil dalam menjalankan investasinya.

2.John Marks Templeton
Templeton merupakan pendiri Templeton Investments yang saat ini dikenal dengan nama Franklin Templeton Investments. Dia dilahirkan pada 19 Desember 1912 di Tennessee, Amerika Serikat. Dari muda dia sudah memperlihatkan kepintarannya di akademik. Pada tahun 1934, Templeton berkuliah di Yale University dan menjadi salah satu lulusan terbaik kemudian dia melanjutkan pendidikan masternya di Oxford University melalui jalur Rhodes Scholar. Pada usia 18 tahun, Templeton memberanikan diri membeli saham di NYSE padahal saat itu adalah masa sedang terjadinya Great Depression di Amerika Serikat. Ketika kebanyakan orang takut untuk membeli saham, dia membeli 100 saham perusahaan perusahaan publik yang dijual kurang dari $.1 per lembar. Selain itu dia juga membeli saham beberapa perusahaan ketika Perang Dunia II dimulai, di kemudian hari investasinya membuahkan hasil yang manis. Templeton adalah salah satu pioneer dari fund global (reksa dana global) melalui Templeton Growth Fund Ltd. yang didirikan tahun 1954, fokusnya waktu itu adalah berinvestasi di Jepang. Dia memiliki kemampuan untuk melihat pasar yang belum terjamah oleh orang lain. Templeton mengatakan jika kita memiliki investasi yang sama dengan orang lain maka kita akan mendapatkan imbal hasil yang sama dengan mereka. Kemampuan melihat pasar yang potensial adalah kehebatannya. Selain dikenal sebagai seorang investor, Templeton dikenal juga sebagai salah satu filantropis terbesar sepanjang sejarah dengan memberikan lebih dari $.1 miliar untuk kegiatan amal. Dia pun mendapatkan gelar kehormatan "Sir" dari Kerajaan Inggris berkat jasa-jasanya bagi Inggris Raya. Salah satu pernyataan Templeton yang terkenal adalah: “Pasar yang sedang turun lahir di atas pesimisme, tumbuh di atas skeptisisme, matang di atas optimisme dan mati di atas euforia. Momen pesimisme maksimum adalah waktu terbaik untuk membeli dan momen optimisme maksimum adalah waktu terbaik untuk menjual.” Templeton meninggal pada usia 95 tahun tanggal 8 Juli 2008 di Nassau, Bahamas.

3.Walter Schloss
Mr.Buffett menyebut Schloss sebagai super investor dari Graham-Doddsville. Bahkan gaya investasi Mr.Buffett pun serupa dengan Schloss yang mencari saham-saham undervalued. Schloss dilahirkan pada 28 Agustus 1916 di New York City, Amerika Serikat. Masa kecilnya bersamaan dengan menyebarnya flu Spanyol yang telah menewaskan banyak orang karena itu orangtuanya memutuskan untuk pindah ke New Jersey. Saat usia Schloss sekitar 13 tahun, terjadi krisis Great Depression di Amerika Serikat, saham-saham jatuh, perusahaan banyak bangkrut dan pengangguran meningkat. Hal ini pun berimbas kepada orangtuanya dimana ibunya kehilangan seluruh warisan dan ayahnya kehilangan perusahaan yang dimilikinya. Peristiwa tersebut menjadi pelajaran penting bagi Schloss. Setelah berusia 18 tahun, Schloss memutuskan mencari kerja untuk membantu orangtuanya, dia pun mendapatkan pekerjaan di broker saham Carl M. Loeb & Co, tugasnya adalah mengantarkan dokumen dan sertifikat saham ke beberapa perusahaan broker untuk penyelesaian transaksi. Karena Schloss bekerja dengan baik, dia pun dipromosikan menjadi kasir. Schloss muda memiliki mimpi yang tinggi, tidak cukup puas menjadi kasir dia pun ingin menjadi seorang analis sekuritas, mitranya yang mendengar hal tersebut lalu memberikan saran kepada Schloss untuk membaca buku berjudul “Security Analysis” karya Benjamin Graham dan David Dodd. Setelah membaca buku tersebut, pikiran Schloss menjadi terbuka dan dia pun mengikuti kursus di New York Stock Exchange Institute dan kelas Graham. Belajar investasi langsung dari Graham adalah suatu pengalaman berharga yang mengubah hidupnya, namun sayang Schloss tidak dapat menerapkan ilmu yang diperolehnya untuk investasi karena tidak memiliki dana. Karena ingin memperoleh uang untuk investasi, Schloss pun mendaftar untuk dinas militer. Setelah 4 tahun berdinas, pada tahun 1945 Schloss berhenti dari militer dengan membawa pengalaman berharga yaitu keberanian dan bertahan hidup. Selepas dari militer Schloss bekerja di perusahaan Graham bernama Graham-Newman Partnership. Tugas Schloss adalah mencari saham yang dijual di bawah modal kerjanya dengan menghitung selisih antara aktiva lancar dengan kewajiban lancar perusahaan. Schloss belajar banyak dari Graham, dia berusaha untuk tidak kehilangan investasinya satu sen pun untuk itu dia melakukan valuasi dengan hati-hati serta menjalankan diversifikasi. Setelah bekerja di Graham-Newman selama 9 tahun, Schloss memutuskan untuk berhenti dan memberanikan diri untuk memulai sendiri perusahaan manajemen investasi dengan nama: Walter J. Schloss and Associates. Salah satu terobosan yang dilakukan Schloss adalah tidak mengenakan management fee tahunan melainkan hanya mengambil fee sebesar 25% ketika memperoleh keuntungan investasi. Saat memulai, modal yang dimilikinya sebesar $100.000, modal itu pun bertumbuh dari tahun ke tahun. Secara rerata, kinerja imbal hasil Schloss sebesar 16% per tahun. Hampir seluruh pekerjaan dilakukan sendiri oleh Schloss. dia menjadi analis, sekretaris dan pemilik sekaligus, dia berusaha untuk menjadi sehemat mungkin. Apa yang dilakukannya di Graham-Newman pun diterapkan di perusahaannya, bedanya Schloss lebih berhati-hati karena hanya dia yang bertanggung jawab atas keputusan investasi apalagi sebagian besar nasabahnya bukan orang kaya. Fokus investasi Schloss adalah utang perusahaan. Dia akan mencari perusahaan yang tanpa utang, kalaupun ada utang itu haruslah kecil. Selain itu Schloss selalu mengingat nasihat Graham: “Orang harus membeli saham seperti membeli bahan makanan dan bukan seperti membeli parfum” artinya investasi harus berlandaskan fundamentalnya tidak menjadi pewangi yang dapat mengaburkan nilainya. Untuk menghindari risiko yang tinggi, Schloss melakukan diversifikasi antara 50 s.d. 100 saham, hal ini dikatakan bahwa tidak mau tertekan jika 1 saham kinerjanya buruk.

4.Mark Mobius
Nama lengkapnya adalah Joseph Bernhard Mark Mobius dilahirkan tanggal 17 Agustus 1936 di Hempstead, Amerika Serikat. Mobius muda mendapatkan beasiswa sarjana untuk belajar seni rupa di Boston University, setelah lulus dia melanjutkan master bidang komunikasi dan psikologi dari universitas yang sama pada tahun 1959. Masih ingin belajar, Mobius mendaftar di University of Wisconsin kemudian mendaftarkan program pertukaran pelajar di Jepang. Perjalanan ke Jepang adalah momentum yang nantinya membuatnya menghabiskan sebagian besar waktunya di Asia, khususnya Asia Timur. Pada tahun 1964, Mobius meraih gelar PhD bidang ekonomi dari Massachusetts Institute of Technology. Setelah lulus, Mobius memutuskan untuk pindah ke Asia berbekal pengetahuan luas tentang komunikasi dan psikologi, targetnya adalah mendapatkan pekerjaan yang menghubungkan bisnis di Timur dan Barat. Setelah bekerja di beberapa tempat, dia mendapat telepon dari legenda investasi, Sir John Templeton, yang ingin menjelajahi pasar Asia dan negara berkembang lainnya. Pada tahun 1987 dia resmi bergabung di Templeton Emerging Markets Funds sebagai presiden. Tahun 1987 menjadi pelajaran penting bagi Mobius karena krisis Black Monday dimana DJIA turun lebih dari 20% pada Senin, 19 Oktober 1987. Peristiwa ini memberikan dampak krisis yang signifikan di Asia sehingga Hongkong Stock Exchange menutup pasar selama 4 hari. Ini menjadi pelajaran berharga bagi Mobius untuk melakukan diversifikasi di pasar modal negara lain. Dari kantornya di Hongkong, Mobius berkeliling dunia untuk mendapatkan ide-ide investasi, untuk itu dia membuka kantor cabang di Singapura dan 15 negara lainnya. Mobius jarang tinggal di satu tempat untuk jangka waktu yang panjang, dia sering bepergian selama lebih dari 250 hari dalam setahun. Seringkali tempat tinggalnya adalah kamar hotel. Mobius adalah seorang pekerja keras. Sejalan dengan peningkatan fokus pada diversifikasi regional, Mobius telah memiliki tim investasi yang tersebar: Argentina, Brazil, Cina, India, Afrika Selatan, Thailand, Turki dan Vietnam. Mobius dikenal sebagai investor emerging market di Asia, dimulai dengan modal awal sebesar $100 juta, Mobius dan timnya berhasil mengembangkan dana menjadi $50 miliar sampai dia pensiun di tahun 2015.

Dari keempat orang tersebut kita belajar adanya proses panjang agar berhasil dalam investasi: 
  • Kahn: memiliki kesabaran dan disiplin yang tinggi dalam investasi; 
  • Templeton: peluang dari pasar/sekuritas yang belum terjamah oleh orang lain; 
  • Schloss: prinsip keberanian dan bertahan hidup di kondisi pasar sulit sekalipun; 
  • Mobius: etos kerja keras dan diversifikasi di pasar modal negara lain. 

Anda dapat membaca tulisan lain di Sejarah Krisis Pasar Modal Indonesia: Strategi Mitigasi Investasi Saat Krisis. Selamat menjadi investor cerdas dan handal.

1 comment:

Eza said...

Dalam bahasa Mandirin, kata Krisis mengandung 2 dimensi yaitu: bahaya (you wei) dan kesempatan (you jin). Dalam hal ini, bagi orang-orang yang optimis dan pantang menyerah akan melihat adanya krisis sebagai suatu kesempatan untuk membeli saham dengan harga murah