Welcome to opra-invest.com:
Now Investing Will Never Be The Same..

Situs ini memiliki 3 bagian:

Searching Article

June 16, 2018

Sejarah Krisis Pasar Modal Indonesia: Strategi Mitigasi Investasi Saat Krisis

Sepanjang sejarah pasar modal Indonesia, IHSG telah mengalami krisis beberapa kali. Biasanya sebelum mengalami krisis, IHSG akan naik tinggi cenderung cepat. Setelah itu IHSG akan jatuh dalam tempo yang relatif cepat juga (dapat lebih dari 10%) selanjutnya membutuhkan waktu agak lambat untuk kembali pulih. Ukuran waktu cepat dan lambat disini dapat berbeda. Dikatakan “cepat” dapat saja dalam hitungan bulanan atau tiga bulanan sedangkan “lambat” semesteran atau tahunan. Namun kita harus dapat membedakan antara krisis dan koreksi. Berdasarkan data historis, IHSG akan mengalami penurunan dalam sekitar 4%-9% dari posisi tertingginya minimal 1 kali dalam setahun. Dan menurut saya ini bukan krisis tapi koreksi. Umumnya koreksi ini terjadi karena investor merealisasikan keuntungan yang sudah diperolehnya.

Nah jika membahas tentang krisis di sektor keuangan dan pasar modal, saya teringat akan suatu taman yang amat indah di Belanda bernama Keukenhof. Lalu apa hubungannya Keukenhof dengan krisis?? Begini, memang tidak ada hubungan secara langsung karena Keukenhof adalah sebuah taman seluas 32 hektar yang dipenuhi oleh bunga tulip dengan berbagai macam warna. Jumlah keseluruhan bunga tulip di Keukenhof mencapai 7 juta bunga. Keukenhof, yang berarti taman dapur, adalah salah satu taman bunga terbesar di dunia. Nah saking menariknya Keukenhof, menimbulkan rasa penasaran saya tentang tulip. Saya pun mencari informasi dan mendapatkan bahwa tulip sebenarnya berasal dari Turki. Ceritanya berawal dari diplomat Eropa yang datang ke kerajaan Ottoman di Turki lalu membawa tulip ke Eropa.

Taman Bunga Keukenhof di Belanda
Tulip pun dibudidayakan di Eropa, khususnya di Belanda, sampai akhirnya tulip menjadi komoditas yang ramai diperdagangkan. Bahkan pada waktu itu orang-orang begitu antusias terhadap tulip sehingga muncul sebutan “Tulip Mania.” Bagi sebagian orang, tulip menjadi komoditas spekulasi. Harga tulip terus beranjak naik sampai harganya tidak masuk akal lagi. Harga tulip pun menjadi gelembung, sampai akhirnya pecah pada Februari 1637 dan turun tajam lalu menjadi krisis tulip. Ini disebabkan tidak adanya kesesuaian antara permintaan dan penawaran menyebabkan harganya turun drastis. Nah, peristiwa serupa sebenarnya pernah terjadi di Indonesia. Pada tahun 2001, beberapa wilayah di Indonesia dilanda demam tanaman hias bernama anthurium dan agloenema. Saat itu harga mereka mengalami kenaikan yang signifikan. Beberapa orang mentransaksikan tanaman tersebut bagaikan barang berharga dan menjadikannya bahan spekulasi. Sampai akhirnya beberapa tahun kemudian harga tanaman tersebut mengalami krisis dan terjun bebas.

Peristiwa tulip mania adalah salah satu krisis terbesar yang pernah terjadi di dunia, setelah itu ada peristiwa lain yang sebagian mempengaruhi IHSG:
  • The South Sea tahun 1711 di Inggris 
  • The Florida Real Estate tahun 1926 di Amerika Serikat 
  • The Great Depression tahun 1929 di Amerika Serikat 
  • The Black Monday tahun 1987 di Amerika Serikat 
  • The Asian Financial Crisis tahun 1997 di Asia Tenggara (IHSG turun 62%) 
  • The Dotcom Crash tahun 2000 di Amerika Serikat (IHSG turun 49%) 
  • The Housing Crisis & Subprime Mortgage tahun 2008 di Amerika Serikat (IHSG turun 58%) 
  • The Chinese Stock Market Crisis tahun 2015 di Tiongkok (IHSG turun 25%) 

Sebagai investor bagaimana kita menyikapi adanya krisis.? Jika mau menjadi seorang investor yang berhasil, kita tidak boleh takut terhadap krisis. Memang benar krisis dapat menghancurkan investasi yang telah dibangun dengan susah payah, namun di sisi lain krisis merupakan kesempatan untuk membeli efek-efek dengan harga diskon besar. Investor handal akan melihat kesempatan dari adanya krisis, contoh Mr. Buffett memanfaatkan krisis finansial tahun 2008 untuk membeli saham perusahaan: Goldman Sachs dan Bank of America, sedangkan untuk investor domestik, Grup Djarum membeli Bank BCA.


Terkait dengan krisis pasar modal, ada beberapa pertanyaan yang saya terima yang jika dibahasakan secara sederhana berbunyi: “Sebenarnya berapa tahun sekali siklus krisis pasar modal, apakah 5 tahun, 8 tahun atau 10 tahun?” Menjawabnya tidak mudah karena setiap orang mempunyai argumen masing-masing. Kalau saya sendiri tidak begitu ambil pusing dengan siklus krisis 5, 8 atau 10 tahun tersebut. Sebabnya karena kita tidak akan pernah mampu mengatur kondisi eksternal atau yang berada di luar lingkaran kapasitas kita, yang perlu kita lakukan adalah melakukan pekerjaan rumah kita yaitu hal yang berada di dalam lingkaran kapasitas kita.

Namun kita dapat mendeteksi bahwa pasar akan mengalami suatu krisis, bagaikan orang yang akan sakit tifus sebelumnya diawali dengan demam. Nah untuk melihat apakah pasar akan menuju krisis dapat dilihat dari gelembung dan besaran utang:
1.Gelembung: Salah satu ciri dari gelembung adalah naiknya harga-harga saham yang tidak didasarkan pada nilai fundamental perusahaannya. Contoh sederhananya adalah ketika orang-orang membeli suatu saham tanpa didasarkan pada kinerja positif perusahaan namun lebih kepada mengikuti emosi. Anda patut curiga jika IHSG naik terus tanpa mengalami koreksi sebesar 4%-9%. Sebenarnya koreksi juga terjadi di bursa saham yang lebih maju dan mapan seperti Amerika Serikat, Jerman, Inggris dan Jepang. Ini wajar karena investor di sana juga merealisasikan keuntungan mereka. IHSG sebelum mengalami krisis 2015 (yang membuat IHSG turun sampai 25%), sempat mengalami kenaikan sebesar 11% dalam kurun waktu 6 bulan. 11% adalah kenaikan yang cukup signifikan apalagi diperoleh dalam waktu kurang dari 1 tahun yang jauh lebih besar dari bunga deposito.

2.Besaran Utang: Wajar jika dalam melakukan kegiatan bisnisnya suatu perusahaan akan berhutang, entah itu dengan meminjam ke bank ataupun menerbitkan surat utang. Menjadi tidak wajar jika utang itu berjumlah besar sehingga cukup besar membebani perusahaan. Pada krisis housing dan subprime mortgage 2008, beberapa perusahaan di Amerika Serikat memiliki utang yang banyak untuk membiayai nasabah yang sebenarnya tidak layak (baca orang yang tidak mampu secara berkesinambungan untuk membayar utangnya) mendapatkan kredit perumahan. Namun karena subprime memberikan imbal hasil yang cukup tinggi maka tetap diterbitkan. Dan akhirnya kita mengetahui bahwa subprime menjadi gelembung yang akhirnya pecah ketika nasabah tidak mampu membayar lagi.

Saat ini kondisi makro ekonomi Indonesia dapat dikatakan terjaga dengan baik walapun kurs dollar menguat lebih dari Rp14.000. Indikator makro ekonomi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik dan Bank Indonesia menunjukkan pada periode kuartal I 2018:
  • Pertumbuhan ekonomi: 5,06% (QtoQ) 
  • Neraca perdagangan: surplus $280 juta 
  • Cadangan devisa: $126 miliar (setara pembiayaan 7,9 bulan impor atau 7,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah) 
  • Inflasi: 3,23% (Mei 2018) 
  • BI 7days repo: 4,75% (Juni 2018)

Dengan mendeteksi kondisi di makro ekonomi dan pasar modal, diharapkan kita tidak mengalami kerugian yang dalam, alih-alih malah dapat menghindarinya. Ada beberapa cara untuk menghindarinya yaitu: diversifikasi dan saving investment. Diversifikasi adalah membagi investasi pada beberapa efek. Saran saya lakukan diversifikasi minimal 5 efek dan maksimal 10 efek (Pembahasan tentang diversifikasi dapat dibaca di Strategi Portofolio Investasi Saham: Belajar Dari Strategi Sepakbola dan Strategi Investasi: Rebalancing Portofolio Investasi). Saving investment adalah menyimpan sebagian peluru investasi untuk tidak seluruhnya diinvestasikan. Saran saya adalah menaruh sebesar 30% dana investasi sebagai saving investment. Saving investment digunakan untuk menambah investasi efek ketika efek anda mengalami penurunan tajam. Lakukan setelah anda melakukan evaluasi atas efek anda, jika tidak ditemukan masalah maka anda barulah dapat menambah investasi. Selain itu saving investment juga dapat digunakan untuk membeli efek yang terdiskon besar, seperti contoh Goldman Sachs, Bank of America dan Bank BCA di atas. Anda dapat membaca lebih lanjut di Jesse Livermore Kisah Investor Tragis: Ciri-Ciri Investasi Salah Kaprah.

Mari kita berinvestasi dengan cerdas dan hati-hati. Cerdas tidak berarti harus memiliki kepintaran di atas rata-rata. Banyak contoh investor yang disiplin terhadap aturan investasi yang telah dibuatnya walaupun memiliki kepintaran rata-rata lebih berhasil dibandingkan dengan investor dengan kepintaran di atas rata-rata namun tidak memiliki kedisiplinan investasi. Mulai untuk kita agar menjadi investor handal memiliki anggapan bahwa dunia investasi bagaikan dunia kehidupan, tidak selalu roda kehidupan berada di atas. Ketika kehidupan berada di atas sebaiknya kita rendah hati dan waspada, namun ketika berada dibawah tetap memiliki antusiasme dan mampu melihat peluang yang ada. Ingatlah bahwa krisis tidak selamanya buruk. Justru bagi anda yang memiliki persiapan yang cukup baik krisis malahan akan membawa anda menuju kepada keberhasilan investasi. Kunci ketika dalam menghadapi krisis pasar modal adalah tetap tenang dan disiplin investasi.

Saya mengagumi Lo Kheng Hong (LKH), sebagai salah satu investor yang cerdas dan hati-hati. Saya pertama kali bertemu dengan LKH ketika acara Investor Summit and Capital Market Expo tahun 2013 yang diselenggarakan oleh BEI. LKH adalah salah satu investor retail Indonesia yang telah membuktikan bahwa investor handal akan tetap bangkit walaupun mengalami krisis. LKH bercerita pengalamannya bagaimana dengan keyakinan teguh namun tetap menerapkan prinsip kehati-hatian menjaminkan asetnya untuk diinvestasikan di sebuah saham dalam situasi krisis. LKH melakukan hal itu karena mengetahui bahwa harga saham yang sedang diincarnya mengalami diskon yang sangat besar padahal itu merupakan saham yang memiliki fundamental bagus. Walaupun pada waktu itu istri LKH tidak setuju dengan tindakannya, namun akhirnya waktu membuktikan bahwa apa yang dilakukan oleh LKH adalah keputusan investasi yang tepat. Memang anda tidak perlu seperti LKH dan anda tidak akan pernah menjadi LKH. Sama seperti LKH yang mengagumi Mr.Buffett namun LKH tidak akan pernah menjadi Mr.Buffett. Jadilah diri sendiri namun tetap penting untuk belajar dari kisah investor lain, terutama kisah ketika investor tersebut mengambil keputusan investasi di momen krisis dan bukan ketika berada di momen pasar sedang naik.

No comments:

Popular Posts