June 6, 2018

Strategi Investasi: Rebalancing Portofolio Investasi

Pertandingan final sepakbola piala Champion Eropa 2018 antara Real Madrid vs Liverpool FC telah berlalu, namun pendukung the Reds (julukan Liverpool) tidak akan mudah melupakan kejadian tersebut. Mereka yang gagal move on kecewa the Reds gagal lagi memperoleh piala Champion. Terakhir the Reds memperoleh piala tersebut pada tahun 2005, artinya sudah sekitar 13 tahun tanpa gelar piala Champion. Kekecewaan mereka juga bertambah karena Mo Salah tidak dapat bermain penuh dan harus digantikan Adam Lalana akibat insiden dengan Sergio Ramos. Namun yang paling menyakitkan adalah blunder yang dilakukan oleh penjaga gawang, Loris Karius, hasilnya Real Madrid unggul 3-1.

Harus diakui tim Real Madrid memiliki kedalaman skuad pemain lebih baik dibandingkan the Reds. Real Madrid memiliki pemain-pemain yang berpengalaman dan bermental juara. Walaupun pada menit-menit awal pertandingan the Reds mampu menekan Real Madrid, namun yang dihadapinya adalah juara bertahan piala Champion Eropa 2 kali berturut-turut di tahun 2016 dan 2017. Penurunan performa the Reds terlihat jelas ketika Mo Salah harus keluar lapangan, setelahnya mereka tidak mampu lagi melakukan serangan yang sama. Tentunya setelah melakukan evaluasi menyeluruh, Juergen Klopp sang manajer the Reds dan manajemen, dapat melakukan penilaian pemain yang masih dapat dipertahankan atau yang perlu dilepas di musim kompetisi berikutnya.

Saya analogikan Real Madrid adalah pasar (indeks/benchmark) dan the Reds adalah portofolio yang anda miliki. Setiap portofolio selalu berupaya agar kinerjanya dapat terus perform. Secara umum ukurannya adalah dapat mengalahkan indeks/benchmark atau setidaknya sama dengannya. Jikalau kinerja dibawah indeks/benchmark, hal itu merupakan indikasi bahwa ada yang salah dengan portofolio efek yang anda miliki. Indexing/benchmarking diperlukan untuk mengukur kinerja portofolio dan hal ini merupakan hal yang lumrah dalam dunia investasi. Indeks/benchmark yang dipilih tergantung dengan jenis portofolio yang anda miliki dan pilihan yang anda tetapkan. Misalkan anda adalah investor saham, maka anda harus memilih indeks yang ada di pasar saham. Anda dapat menggunakan IHSG, indeks Kompas100 atau indeks LQ45 sebagai patokan mengukur kinerja portofolio anda.

Penyesuaian Portofolio
Sama halnya dengan sepakbola, investor perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja portofolio. Dalam investasi, suatu kegiatan evaluasi menyeluruh terhadap portofolio efek dengan mengatur kembali portofolio melalui menjual atau membeli efek disebut rebalancing. 2 hal kenapa perlu melakukan rebalancing portofolio: kinerja dari efek dan kaidah investasi. Rebalancing dilakukan dengan melepas efek-efek yang tidak berkinerja/tidak sesuai kaidah yang ditetapkan diganti dengan membeli efek-efek yang memiliki berpotensi berkinerja/sesuai kaidah. Kaidah investasi adalah aturan-aturan investasi yang telah anda tetapkan. Ini menjadi "kitab suci" anda dalam berinvestasi. Bagi seorang investor, rebalancing ini penting untuk dilakukan secara periodik. Dalam perjalanan investasi, pasar modal mengalami kenaikan dan penurunan (fluktuasi) dapat saja harga efek saham tertentu mengalami kenaikan, namun pada sisi berbeda saham lain mengalami penurunan. Rebalancing diperlukan tidak hanya untuk efek saham, namun juga untuk efek obligasi dan reksa dana. Hal ini dapat dianalogikan dengan kompetisi sepakbola (sebelumnya saya pernah menulis tentang Strategi Portofolio Investasi Saham: Belajar Dari Strategi Sepakbola) Setiap tahun, para manajer klub memiliki kesempatan dua kali untuk menjual/membeli portofolio pemain, ketika jendela transfer dibuka pada awal musim (musim panas) dan pertengahan musim (musim dingin). Tindakan untuk melakukan jual/beli pemain ini diperlukan karena pemain sepakbola memiliki “masa emas” nya, dan ketika masa emas itu memudar pemain tidak lagi dapat berkontribusi kepada tim. Di sisi lain, setiap tahunnya akan selalu ada pemain-pemain berbakat yang dapat dibeli oleh klub untuk memperkuat tim. 

Beberapa alasan pemain dapat dijual:
  • Pemain memiliki sifat temperamental dan sering melakukan keributan; 
  • Pemain tersebut tidak memiliki kinerja yang diharapkan; 
  • Pemain tersebut sakit/cedera; 
  • Pemain mendapatkan tawaran dari klub lain dengan harga yang menguntungkan; 
  • Manajemen klub butuh dana. 
Beberapa alasan pemain dapat dibeli: 
  • Pemain memiliki harga relatif murah padahal memiliki potensinya yang hebat 
  • Pemain memiliki kualitas normal namun memiliki kelebihan lain, seperti kepemimpinan; 
  • Pemain memiliki kualitas walaupun harganya mahal. 
Ketika Klopp mempertahankan pemain maka dia berharap sang pemain masih dapat memberikan kontribusi terhadap tim walaupun pemain tersebut ditawar oleh tim lain dengan harga tinggi. Harga tinggi tersebut tetap tidak sebanding dengan kontribusi pemain bagi tim ke depannya. Seperti kisah Klopp yang tidak mau melepaskan Philippe Coutinho ke Barcelona FC dengan harga berapapun, namun akhirnya Klopp luluh setelah Countinho meminta kepada Klopp agar dirinya dijual ke Barcelona.

Sayangnya di pasar modal masih banyak terdapat investor yang menjual/membeli efek hanya berdasarkan rumor tanpa melakukan tindakan analisa yang menyeluruh, padahal menurut Benjamin Graham tindakan membeli/menjual efek tanpa melakukan analisa menyeluruh adalah kegiatan berjudi. Alhasil efek yang dipertahankan dalam portofolio malahan mengalami penurunan sedangkan efek yang dijual mengalami kenaikan. Di dalam menyusun komposisi portofolio, peran dari investor serupa dengan manajer klub sepakbola tadi. Ketika investor menjual salah satu atau beberapa efek yang dimiliki maka alasannya haruslah jelas.

Beberapa alasan menjual efek:
  • Harga efek sudah sangat mahal; 
  • Efek tersebut memiliki kinerja yang kurang baik; 
  • Efek tersebut memiliki volatilitas yang tinggi setiap waktu; 
  • Sedang membutuhkan dana darurat. 
Kadang alasan kenapa anda harus menjual efek tertentu bukanlah karena anda sudah untung/rugi sekian persen dari efek tersebut, melainkan karena anda harus menjualnya saja. Tak peduli seberapa dalam kerugian yang anda alami, namun sekiranya efek tersebut kemungkinan masih dapat turun, segeralah untuk menjual. Sebaliknya, meski anda menganggap efek tersebut adalah efek hebat yang telah memberikan keuntungan besar namun sudah tidak perform maka anda harus menjualnya. Sehingga alasan untuk mempertahankan suatu efek karena efek tersebut masih berpotensi untuk naik lebih tinggi lagi. Tidak masuk akal jika efek itu turun dalam namun tetap anda pertahankan maka anda akan mengalami kerugian lebih dalam.

Beberapa alasan membeli efek:
  • Valuasinya relatif murah, padahal sahamnya bagus (biasanya ini terjadi hanya kalau pasar lagi turun);  
  • Valuasinya sangat murah, meski memang fundamentalnya tidak terlalu bagus (tapi juga nggak bisa dikatakan jelek); 
  • Efeknya mewakili perusahaan kecil yang berpeluang untuk tumbuh menjadi besar di masa depan; dan  
  • Meski harganya mahal, namun harga tersebut cukup sebanding dengan kemampuan perusahaan mencetak keuntungan. 
Sebenarnya tidak ada batasan pasti kapan sebaiknya kita melakukan rebalancing. Beberapa trader yang terlalu sering trading mungkin akan merubah portofolionya setiap waktu selama jam trading, dimana dia dapat membeli saham tertentu di pagi hari dan menjualnya pada sore harinya. Namun saya tidak menyarankan hal tersebut, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman saya keseringan melakukan rebalancing tidak akan menghasilkan. Saran saya adalah lakukan rebalancing minimal 3 atau 6 bulan sekali.

Kegiatan saya di waktu senggang (jika ada waktu juga sih), saya mempelajari laporan keuangan para emiten/fund fact sheet reksa dana setiap kali laporan ini dirilis. Jika kinerja ternyata tidak lagi sebagus sebelumnya, maka menjadi catatan saya, mungkin untuk nanti dijual. Dan jika ada perusahaan yang kinerja tampak meyakinkan, maka dapat dipertimbangkan untuk dibeli. Ini harus menjadi kebiasaan investor yang ingin sukses berinvestasi di pasar modal. Ingat kesuksesan bukan hanya masalah kepintaran dan momentum, tapi juga kedisiplinan (baca konsisten).

Penting untuk selalu menjaga jumlah efek yang anda pegang agar tidak terlalu banyak. Seperti sepakbola, tidak peduli mereka mau seberapa sering menjual atau membeli pemain, namun peraturan internasional menyebutkan bahwa jumlah pemain di dalam sebuah tim sepakbola adalah maksimal 32 orang (diluar tim junior), yakni 11 pemain inti, 11 pemain cadangan dan selebihnya pemain lapis tiga. Begitu juga dengan portofolio anda, anda harus menetapkan berapa maksimal anda bisa memegang efek-efek yang berbeda dan juga berapa minimalnya. Jika anda sejak awal memutuskan bahwa anda hanya bisa memegang maksimal 10 efek, maka ketika anda tertarik untuk membeli efek selanjutnya, anda harus menjual salah satu pegangan anda sehingga jumlah efek yang anda pegang tetap 10 efek. Yang menetapkan batas maksimal 10 efek itu adalah anda sendiri, so ingatlah jangan pernah melanggar peraturan yang anda buat sendiri.

Di sisi lain anda juga harus menetapkan jumlah minimal efek yang bisa anda pegang, karena akan berisiko jika anda menempatkan seluruh dana yang tersedia hanya 1 efek. Jika anda menetapkan minimalnya 5 efek, maka ketika anda menjual hampir seluruh portofolio tetap sisakan 5 saham di portofolio anda, biasanya merupakan efek-efek yang sejak awal anda memutuskan untuk memegangnya dalam jangka panjang, dimana kalau nanti harganya turun maka itu tidak menjadi masalah, karena anda dapat membeli dengan menyicil. Berdasarkan pengalaman saya, setiap portofolio memiliki kerentanan karena beberapa faktor, yaitu fundamental, pasar dan juga psikologis investornya. Jika anda khawatir bahwa pasar akan jatuh justru merugikan diri sendiri dimana anda jadinya ketinggalan kereta (atau merealisasikan kerugian yang seharusnya masih floating) ketika pasar kemudian berbalik naik dan masalahnya kita tidak bisa mengetahui secara persis kapan pasar akan naik atau turun. Ketika anda berinvestasi di saham/obligasi/reksa dana atau investasi apa saja, seringkali tiap efek yang anda miliki mencatatkan kinerja yang berbeda-beda. Hal ini dapat menyebabkan komposisi aset-aset penyusun portfolio jadi berubah, sehingga tidak sesuai dengan yang apa yang awalnya diharapkan.

Contoh: Hario menetapkan investasi berdasarkan tujuan investasi dan karakteristik risiko menetapkan alokasi investasi di obligasi: 30%, reksa dana: 20% dan saham: 50%. Dalam perjalanan investasi, nilai investasi obligasinya naik, sementara nilai investasi sahamnya turun sedangkan reksa dana tetap. Misalnya, setelah dihitung kembali total dana investasinya menjadi obligasi: 35%, reksa dana: 20% dan saham: 45%. Dengan perubahan komposisi portofolio tersebut, Hario harus melakukan rebalancing dengan cara mengembalikan dana investasi dengan pembagian atau alokasi sesuai rencana awal. Caranya dengan menjual obligasi dan membeli saham agar komposisi investasi kembali terjaga sesuai komposisi awal.

Anda dapat berkonsultasi dengan perusahaan manajer investasi (MI) dan penasihat investasi (PI) terkait dengan perencanaan investasi anda. Pada dasarnya, rebalancing merupakan tindakan mengembalikan komposisi portofolio ke komposisi dasar sebagaimana ditetapkan pada awalnya. Rebalancing perlu anda lakukan, karena seiring berjalannya waktu sebagian dari investasi mungkin tidak sejalan dengan tujuan investasi anda. Dengan melakukan rebalancing, anda dapat memastikan bahwa portofolio investasi tidak selalu fokus pada kategori efek tertentu dan imbal hasil portofolio secara keseluruhan dapat tercapai pada tingkat risiko yang paling sesuai dengan peraturan yang anda tetapkan.

Profil risiko akan menentukan pula alokasi investasi anda. Secara umum, profil risiko setiap orang dibagi menjadi tiga kelompok: konservatif, moderat, dan agresif. Untuk investor konservatif harus lebih banyak mengalokasikan dana pada instrumen dengan risiko rendah seperti obligasi dan deposito. Untuk tipe moderat bisa mengalokasikan dana secara berimbang pada instrumen investasi berisiko rendah dan lebih tinggi yaitu saham atau reksa dana campuran. Sementara investor dengan tipe agresif bisa mengalokasikan dana sebagian besar pada instrumen saham. Jangka waktu juga ikut memengaruhi pemilihan instrumen investasi. Jika waktu investasi lebih pendek, maka bisa memilih produk seperti obligasi yang risikonya lebih kecil. Sebaiknya jika jangka waktu investasi panjang, saham bisa dijadikan pilihannya.

Berdasarkan pengalaman dan kemampuan saya, jumlah minimal efek yang saya sarankan adalah: 5 efek dan maksimal efek: 10 efek. Menurut saya, jumlah ini mencerminkan strategi diversifikasi yang sehat dan tidak berlebihan, dimana saya tidak pernah memegang lebih dari 10 efek. Mungkin anda adalah investor/trader yang cukup sering membeli efek tapi alpa ketika harus menjualnya, sehingga koleksi efek anda menjadi banyak dan malah mengganggu portofolio anda. Jika anda mengalami ini maka segera jual beberapa efek anda. Sebaliknya jika jumlah portofolio yang anda miliki terlalu sedikit maka tingkat risiko yang anda miliki relatif tinggi, segeralah untuk menambah lagi efek anda.

No comments:

Post a Comment