Situs ini memiliki 3 bagian:

July 9, 2018

Mudik: Sekilas Analisa Saham BMRI, JSMR dan UNVR tahun 2018

Smart investor, konon istilah mudik berasal dari bahasa jawa "Mulih Ndisik" yang berarti pulang dulu. Momentum mudik adalah untuk menjaga silahturahmi dengan kerabat/saudara, namun selain itu dari sisi ekonomi mudik dapat menyebabkan distribusi peredaran uang ke daerah. Jumlah pemudik mengalami trend kenaikan tahun ke tahun dimana pada tahun 2013 sebesar: 22,1 juta jiwa, 2014: 23 juta jiwa, 2015: 23,4 juta jiwa, 2016: 18,1 juta jiwa dan 2017: 18,6 juta jiwa. Di tahun 2018 diperkirakan jumlah pemudik mencapai 19 juta jiwa. Jika setiap pemudik rata-rata membelanjakan uang sebesar Rp7 juta untuk tiket, konsumsi dan akomodasi, maka setidaknya terjadi perputaran uang sebesar Rp133 triliun pada lebaran 2018. Tentunya ini adalah jumlah uang yang besar.

Pada libur panjang lebaran 2018, saya melakukan mudik dari Jakarta ke Solo menggunakan mobil sekaligus mencoba jalan tol baru dari Brebes ke Semarang. Sebelumnya saya tidak pernah melakukan mudik lebaran menggunakan mobil, namun karena kali ini bersama teman-teman semasa kuliah maka saya pun sepakat untuk mudik bersama. Perjalanan dapat dikatakan berlangsung lancar walaupun jalan tol dari Brebes menuju ke Semarang masih belum sempurna. Perjalanan dari Jakarta sampai dengan Solo ditempuh dalam waktu 8,5 jam dengan biaya tol sekitar Rp200 ribu.

Sepanjang mudik, setidaknya kami menggunakan produk dari beberapa Perseroan Terbuka, diantaranya adalah PT Bank Mandiri untuk penggunaan eMoney pembayaran tol, PT Jasa Marga untuk biaya perjalanan tol, dan PT Unilever Indonesia untuk konsumsi dan perlengkapan mandi  (Baca juga: Kisah Seorang Investor Pemula Dengan Return Tinggi: Analisa Singkat INDY, BUMI, MLBI dan SILO 2018). Terkait hal tersebut, tulisan kali ini akan secara singkat membahas tentang prospek kedua saham tersebut di tahun 2018. Berikut ulasannya:

1.PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) 
BMRI adalah bank hasil merger dari Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia dan Bank Pembangunan Indonesia di Juli 1994. Pada tahun 2003, BMRI melakukan IPO dengan melepas 4 miliar saham (20%) ke publik di harga Rp675 per saham. Saat ini pemegang saham BMRI adalah pemerintah RI: 60% dan publik: 40%. BMRI adalah salah satu bank terbesar Indonesia dari sisi total aset. Selain itu BMRI memiliki jaringan yang luas dimana jaringan kantor cabang: 2.800 dan mesin ATM: 17.000 tersebar di seluruh Indonesia. Nah bagi saya pribadi, BMRI adalah merk yang memiliki kedekatan emosional dengan kehidupan saya karena pembayaran payroll menggunakan rekening tabungan BMRI.

Manajemen BMRI memiliki komposisi total 8 komisaris dengan komisaris independen sebanyak: 4 orang. Komposisi direksi terdiri dari 11 orang yaitu: Direktur Utama, Wakil Direktur Utama, Direktur Whole Sale Banking, Direktur Distribusi, Direktur Risk Management and Compliance, Direktur Digital Banking and Technology, Direktur Treasury, Direktur Kelembagaan, Direktur Keuangan, Direktur Operasional dan Direktur Retail Banking.

Saat ini bank-bank milik negara terbesar adalah BMRI, Bank Rakyat Indonesia, Bank Negara Indonesia dan Bank Tabungan Nasional. Namun pemerintah telah membagi tugas diantara keempat bank tersebut dimana BMRI lebih fokus pada bisnis kredit korporasi. Bisnis kredit korporasi memang menarik mengingat perusahaan-perusahaan membutuhkan pembiayaan usaha ataupun untuk working capital. Namun BMRI tidak hanya bermain di sektor kredit korporasi, setidaknya saat ini BMRI memiliki anak perusahaan Bank Mandiri Taspen Pos, disingkat Bank Mantap merupakan perusahaan patungan dengan Taspen dan Pos, yang fokus pada segmen bisnis pensiunan dan usaha mikro.

Dalam menilai prospek perusahaan perbankan tidak selalu mengukur besarnya laba dan pertumbuhan kredit yang dimiliki. Patut diingat bahwa bisnis perbankan adalah bisnis yang menjembatani pihak yang memiliki dana dan membutuhkan dana. Lebih dari 60% dari aset perbankan adalah Dana Pihak Ketiga yang dianggap sebagai utang. Untuk itu ada beberapa hal yang penting dalam penilaiaan kesehatan bank seperti: Capital Adequacy Ratio (CAR), Non Performing Loan (NPL), Net Interest Margin (NIM) dan Biaya Operasional dan Pendapatan Operasional (BOPO). Sejauh ini rasio keempat indikator tersebut dalam kondisi masih terukur.

Ditengah kecendurungan naiknya suku bunga BI repo rate dalam beberapa bulan terakhir, hal ini tentu membawa pengaruh terhadap lini bisnis BMRI. Naiknya suku bunga akan memberikan dampak kepada korporasi yang sedang memiliki kredit dengan BMRI. Oleh karena itu penting bagi BMRI juga memiliki lini bisnis usaha lain diluar perbankan. Saat ini setidaknya BMRI memiliki anak perusahaan yang tidak terkait dengan lini perbankan yaitu: AXA Mandiri Insurance, Mandiri Inhealth, Mandiri Sekuritas dan Mandiri Manajemen Investasi.
blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Analisa Fundamental BMRI
Berdasarkan Laporan Keuangan (LK) 2017, laporan posisi keuangan BMRI memiliki aset sebesar: Rp1.124,7 triliun (CAGR: 8,94%), utang: Rp954,7 triliun (8,18%) dan ekuitas: Rp170,1 triliun (13,87%). Pertumbuhan ekuitas tercatat lebih tinggi dari pertumbuhan aset dan utang dalam hal ini mengindikasikan adanya pertambahan modal setor yang dilakukan oleh investor BMRI. Dari sudut laporan rugi/laba, laba tahun berjalan 2017 sebesar Rp20,6 triliun atau naik 48,5% dari tahun 2016. Namun jika dibandingkan dengan laba tahun berjalan 2013 maka hanya bertumbuh 9,4%. Jumlah saham beredar tahun 2017 sebesar 46,6 miliar lembar terjadi kenaikan karena BMRI melakukan stock split dengan rasio 1:2.

Ratio-ratio juga menunjukkan bahwa saham BMRI sudah overvalued dengan PER: 18,06 dan PBV: 2,19. Ini lebih tinggi dari rata-rata PER yang sebesar 13,93 dan PBV: 2,04 namun BMRI berhasil mengurangi DER menjadi 5,62. Memang saham BMRI tidak dapat dikatakan murah, walaupun demikian posisi BMRI sebagai bank aset terbesar menjadi kekuatan yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Apalagi BMRI adalah saham bluechip yang banyak diperdagangkan di bursa
blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Kinerja Saham BMRI
Kinerja saham BMRI dari akhir Desember 2013 s.d. Desember 2017 mencatatkan kenaikan sebesar 103,82%, lebih tinggi dari IHSG yang sebesar: 48,7%. Penurunan tajam saham BMRI terjadi pada Maret-September 2015 mencapai 34,61% dimana harga sahamnya menjadi Rp3.950. Namun pada Oktober 2015 kinerja BMRI mulai pulih dan terus mengalami kenaikan hingga mencapai kenaikan lebih dari 130% pada akhir awal tahun 2018. 

2.PT Jasa Marga Tbk (JSMR)
JSMR adalah operator jalan tol yang didirikan pada 1 Maret 1978 dengan tujuan mengelola dan mengoperasikan jalan tol di Indonesia. Walaupun bukan satu-satunya perusahaan operator jalan tol di Indonesia, namun JSMR seperti tidak memiliki saingan berarti karena menguasai lebih dari 60% jalan tol di Indonesia. Tercatat JSMR adalah pemilik beberapa ruas jalan tol seperti: Jakarta-Bogor-Ciawi, Jakarta-Cikampek, Purwakarta-Bandung-Cileunyi dan Lingkar Luar Jakarta. Total panjang jalan tol yang dikelola JSMR mencapai 680 km di seluruh Indonesia. Sedangkan total kontrak konsensi jalan tol yang dimiliki JSMR mencapai 1.500 km, artinya JSMR baru membangun 45% dari kontrak jalan tol mereka. Perlu diketahui biaya investasi untuk membangun jalan tol tidaklah murah, apalagi jika tanah tersebut sudah ada yang menempati. Untuk membangun jalan tol baru sepanjang 1 km setidaknya dibutuhkan dana antara Rp75 miliar s.d. Rp90 miliar. Walaupun begitu JSMR tetap menjadi incaran investor karena JSMR adalah pemilik portofolio jalan tol paling strategis yang banyak dilalui oleh kendaraan dan yang tentunya ini menghasilkan pendapatan yang tinggi.

Pengelolaan jalan tol oleh JSMR sebenarnya dalam bentuk hak konsensi dari pemerintah RI. Artinya meskipun JSMR mengelola jalan tol di seluruh Indonesia namun pemilik sebenarnya dari jalan tol adalah negara. Hal ini serupa dengan Izin Usaha Pertambangan (IUP) dimana perseroan pemilik Kuasa Pertambangan (KP) batubara hanyalah mitra yang dipercaya untuk mengelola dan mengeruk batubara dan bukan pemilik sebenarnya dari tambang tersebut. Semakin bertambah hak konsensi jalan tol, maka semakin bertambah pendapatan.

JSMR mulai mencatatkan saham di bursa efek pada November 2007 dengan melepas 2 miliar saham kepada masyarakat dengan harga penawaran sebesar Rp1.700. Saat ini jumlah saham beredar sebesar 7,25 miliar saham dengan pemegang saham JSMR adalah: Pemerintah Republik Indonesia: 70% dan publik: 30%. Di antara pemilik saham publik terdapat investor asing yang adalah fund manager besar, yaitu: Blackrock dan Vanguard. Fund manager biasanya akan memegang saham perusahaan dengan tipikal mapan dan stabil, hal ini sesuai dengan karakter bisnis JSMR dengan ROE stagnan 10% s.d. 12%.

Manajemen perusahaan dijalankan oleh dewan direksi yang terdiri 6 direktur, yang terdiri: Direktur Utama, Direktur Operasi I, Direktur Operasi II, Direktur Pengembangan, Direktur Keuangan dan Direktur Sumber Daya Manusia. Secara umum latar belakang direksi JSMR adalah orang karir yang telah bekerja di JSMR ataupun di BUMN. Hal ini wajar karena pemerintah RI adalah pemegang saham mayoritas dari JSMR sehingga akan menempatkan orang-orang mereka tidak hanya di level direksi namun juga komisaris. JSMR adalah salah satu perusahaan BUMN yang telah menjalankan prinsip tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance) yang dievaluasi dan dinilai oleh pihak ketiga secara rutin.

Berdasarkan rencana strategis perusahaan yang merupakan bagian mewujudkan Proyek Strategis Nasional, JSMR akan terus berupaya mengembangkan infrastruktur di bidang jalan tol sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 dengan menargetkan pembangunan jalan tol baru. Peran jalan tol cukup strategis dalam pembangunan ekonomi untuk beberapa alasan: mempermudah konektivitas antar daerah untuk manusia/barang dan menurunkan biaya logistik.

Investor yang akan/sudah investasi di JSMR perlu waspada dengan utang yang dimiliki oleh JSMR, walaupun memiliki prospek laba namun utangnya cukup tinggi. Kecuali pemerintah RI berencana menambah ekuitas di JSMR untuk mengurangi beban utangnya. Namun sepertinya hal tersebut belum dapat terwujud karena pemerintah RI memiliki banyak agenda yang harus diutamakan juga. Investasi jalan tol memang panjang, tidak dapat segera balik modal. Ketika sebuah jalan tol selesai dibangun maka JSMR tidak dapat menetapkan tarif tol yang tinggi agar dapat segera balik modal. Investasi di jalan tol memang mahal dan panjang, namun jangan lekas patah semangat karena berdasarkan Undang-Undang No. 38 tahun 2004 tentang Jalan, terdapat penyesuaian tarif tol setiap 2 tahun sekali berdasarkan pengaruh laju inflasi dengan tetap mempertimbangkan Standar Pelayanan Minimum (SPM) tol yang terus dievaluasi.

JSMR masih memilik prospek positif mengingat pembangunan mega proyek infrastruktur yang dikebut oleh pemerintah. Kebetulan saya tinggal di daerah Tangerang Selatan dan sering melihat proyek JSMR yang sedang dikebut yaitu ruas Cinere-Serpong. Dengan adanya jalur ini maka akan mempermudah jalur dari Tangerang ke Bogor begitu pun sebaliknya, tanpa harus melalui tol Jagorawi. JSMR terkenal sebagai perusahaan dengan GCG dan track record pembayaran utang obligasi yang baik.
blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Analisa Fundamental JSMR
Berdasarkan Laporan Keuangan (LK) 2017, laporan posisi keuangan JSMR memiliki aset sebesar: Rp79,2 triliun (CAGR: 23,06%), utang: Rp60,8 triliun (27,76%) dan ekuitas: Rp18,35 triliun (12,5%). Pertumbuhan utang tercatat lebih tinggi dari pertumbuhan aset dan ekuitas dalam hal ini mengindikasikan adanya penambahan utang yang dilakukan untuk membiayai proyek-proyek jalan tol. Pada tahun 2013, jumlah utang sebesar Rp17,8 triliun yang artinya dari 2013 ke 2017 terjadi kenaikan utang sebesar 240,39%. Sementara dari sudut laporan rugi/laba, laba tahun berjalan 2017 sebesar Rp2,1 triliun (tumbuh 103,71% dari tahun 2013).

Beban pendapatan sejak tahun 2016 tercatat naik signifikan hampir 2 kali lipat sedangkan 2017 naik 2,5 kali. Hal ini disebabkan JSMR terus membangun jalan tol secara masif sejak tahun 2016, untuk mengejar panjang tol mencapai 1.500 km. Total aset terus mencatatkan kenaikan tiap tahunnya, begitu juga dengan total utang dari JSMR. Tercatat pertumbuhan aset sebesar 23,06% per tahun sedangkan pertumbuhan utang sebesar 28,31% per tahun. Memang JSMR memiliki utang yang cukup besar beberapa tahun belakangan, bahkan DER sudah mencapai 3,31 di tahun 2017. Padahal tahun 2015 kebawah, DER terjaga dibawah 2.

Ratio JSMR menunjukan bahwa PER dan PBV lebih rendah dari rata-ratanya. Sedangkan ROE nya tercatat lebih tinggi. Sementara EPS dan BV tahun 2017 masing-masing sebesar 288 dan 2.530 lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Ini mengindikasikan adanya kinerja positif dari segi laba perusahaan yang menyebabkan JSMR dapat memberikan ROE yang lebih tinggi dari tahun 2016.
blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Kinerja Saham JSMR
Kinerja saham JSMR tercatat bertumbuh sebesar 35,77% dari Desember 2013 s.d. Desember 2017. Sayangnya kinerja JSMR masih dibawah kinerja IHSG yang sebesar 48,7%. Penurunan tajam saham JSMR terjadi dalam 2 periode:
  1. Periode April 2015-Desember 2015: Harga JSMR turun dari Rp7.050 menjadi Rp4.500 (-36,15%); dan
  2. Periode Agustus 2016-November 2016: Harga JSMR turun dari Rp5.590 menjadi Rp3.910 (-30,01%).
3.PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR)
UNVR adalah perusahaan yang memproduksi barang-barang consumer good yang didirikan pada 5 Desember 1933. Pada tahun 1981, UNVR mencatatkan saham di bursa efek dengan melepas 15% sahamnya. Perlu diketahui bahwa UNVR adalah salah satu perusahaan tertua di Indonesia yang mencatatkan sahamnya di BEI.

UNVR memiliki beragam produk yang banyak digunakan oleh masyarakat. Beberapa brand UNVR yang cukup kuat, seperti: Close-up (pasta gigi), Lux dan Dove (sabun mandi), Sunsilk dan Clear (shampoo), Lipton dan Buavita (minuman), Rinso dan Surf (deterjen), Super Pell dan Wipol (cairan pembersih lantai). Inilah salah satu kelebihan dari UNVR yang memiliki produk yang sudah mengakar di Indonesia dimana setidaknya sebagian besar masyarakat pernah menggunakan produk dari UNVR.
blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Analisa Fundamental UNVR
blog saham, blog investasi, valuasi saham, investasi saham, reksa dana saham, investasi terbaik, reksa dana terbaik, ihsg, odith adikusuma, opra invest
Kinerja Saham UNVR
UNVR memperlihatkan trend kenaikan EPS dalam 5 tahun terakhir dimana ROE nya mencapai diatas 100% setiap tahunngya. Namun demikian besaran utangnya juga terlihat meningkat lebih tinggi dibandingkan dengan aset dan ekuitasnya.

Kesimpulan:
  • BMRI: normal dengan kinerja  A/E: C, D/E: B dan ROE: C
  • JSMR: undervalued dengan kinerja A/E: A, D/E: D dan ROE: B 
  • UNVR: overvalued kinerja A/E: B, D/E: C dan ROE: B
(#disclaimer on, sumber: IPOT)

2 comments:

Anonymous said...

Pbayaran jalan tol selain menggunakan emoney jg dpt dgn flazz (bca) dan brizzi (bni). Mohon bs diulas

Opra Invest said...

Terima kasih, akan menjadi pertimbangan untuk tulisan berikutnya