Situs ini memiliki 3 bagian:

August 22, 2018

Indonesiaku Merdeka dan Jayalah Selalu: Kemakmuran Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Smart investor, pada bulan Agustus 2018 setidaknya ada 2 peristiwa penting yang terjadi di Indonesia, peristiwa itu adalah peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-73 dan event Asian Games yang ke-18. Sebuah momen bersejarah yang dimulai tanggal 17 Agustus 2018 untuk memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dan tanggal 18 Agustus 2018 untuk opening resmi Asian Games. Acara Asian Games mungkin akan diadakan kembali di Indonesia dalam hitungan puluhan tahun lagi, hal ini jika melihat Indonesia pernah menjadi tuan rumah Asian Games ke-4 tahun 1962 lalu butuh waktu 56 tahun untuk dapat menyelenggarakan kembali Asian Games ke-18 tahun 2018.

Mencermati Asian Games yang tengah berlangsung, bagi saya ini menandakan bahwa Indonesia adalah bangsa yang matang dan memiliki identitas sebagai bangsa besar karena dipercaya untuk menghelat acara Asian Games. Setidaknya acara Asian Games dihadiri oleh 45 negara, atlit: 12.000 orang dan turis/fans/official team yang mencapai 200.000 orang. Untuk itu seluruh warga negara Indonesia diminta turut berpartisipasi dalam mensukseskan acara Asian Games. Ya atmosfir keriuhan juga membuat saya tertarik untuk menonton salah satu pertandingan (sayangnya ketika saya memesan tiket di salah satu penjualan tiket online mengalami kendala padahal dana saya sudah di debet). Selain itu perlu adanya pengorbanan sebagian orang di Jakarta, terutama orang yang memprotes kebijakan akibat penerapan ganjil/genap plat mobil di beberapa ruas jalan, walaupun pemerintah bersikeras hal ini perlu dilakukan agar kegiatan Asian Games dapat berjalan dengan lancar dan baik.

Lalu pertanyaan mendasar bagi kita setelah merdeka, apa yang telah kita berikan bagi bangsa dan negara tercinta ini? Bagi sebagian besar orang Indonesia, negara ini adalah tempat dimana kita dilahirkan, dibesarkan, dididik, menikmati sumber daya alamnya, dan mungkin tempat meninggal kelak. Suatu quotes yang menggugah rasa kebangsaan pernah diungkapkan oleh John F. Kennedy, Presiden Amerika Serikat ke-35, yang berkata: "Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country." Kennedy mengatakan hal itu pada tahun 1961 ketika acara inagurasi dirinya menjadi Presiden Amerika Serikat. Dalam hal ini Kennedy menekankan pentingnya untuk memberikan sumbangsih nyata kepada negara karena banyak orang hanya menuntut haknya tetapi lalai dalam melakukan kewajibannya. Lalu apakah kewajiban seorang warga negara kepada negaranya, banyak dari hal yang paling kecil sampai hal besar. Setidaknya hal tersebut dapat kita bagi dalam 2 kelompok yaitu tidak melakukan dan untuk melakukan. Tidak melakukan seperti tidak membuang sampah sembarangan sampai kepada untuk melakukan yaitu membayar pajak secara rutin. Ya, membayar pajak adalah salah satu hal penting sebagai perwujudan menjalankan kewajiban kepada negara. Untuk diketahui hampir lebih dari 80% pemasukan negara berasal dari pajak. Sejauh ini setidaknya setiap warga negara Indonesia akan dikenakan beberapa macam pajak seperti: pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai ataupun pajak hiburan/makanan.

Logo HUT RI ke-73 dan Asian Games ke-18

Pada tanggal 17 Agustus 2018, saya mengikuti upacara bendera di kantor. Saat itu upacara dimulai jam 06.30 pagi sehingga saya harus berangkat dari rumah di Tangerang Selatan setidaknya jam 5.15 pagi. Setiap mengikuti upacara bendera, saya selalu teringat ketika saya masih SMP karena saya pernah menjadi komandan upacara ketika itu. Satu hal yang saya ingat adalah saya sempat gugup sehingga salah dalam mengucapkan kata-kata. Upacara pun sempat menjadi momok yang menakutkan untuk saya, namun ketika saya dewasa saya merasakan bahwa kegiatan upacara bukan sekadar kita berdiri selama 1 jam lalu dengan sikap hormat terhadap bendera menyanyikan lagu "Indonesia Raya". Lebih daripada itu, upacara bendera dan peringatan Kemerdekaan RI memiliki filosofi yang begitu dalam untuk merenungkan bahwa kemerdekaan kita merupakan suatu proses perjuangan yang panjang dan bukan diberikan secara cuma-cuma. Kita memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan bangsa dan negara Indonesia ke depannya sebagai perwujudan meneruskan perjuangan para pahlawan sebelum kita. Saya kira tidak banyak negara yang memiliki bahasa daerah sampai dengan 700 bahasa dan 1.000 macam suku bangsa seperti Indonesia. Indonesia begitu beragam, keanekaragaman inilah yang menjadi kekayaan kita serta modal yang tidak ternilai. Namun karena didasarkan atas satu kepentingan yang lebih besar untuk memperoleh kemerdekaan, perbedaan itu dikesampingkan. Karena itu generasi muda Indonesia perlu terus dibina dan diingatkan untuk memiliki kesadaran pentingnya hidup berbangsa dan bernegara berdasarkan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.

Joni Si Pemanjat Tiang Bendera dari NTT
Saya pribadi kagum atas apa yang dilakukan oleh Johannes Adekalla, alias Joni, seorang anak SMP di Belu, Nusa Tenggara Timur. Seorang bocah polos yang mungkin tidak begitu memahami apa itu kehidupan berbangsa dan bernegara secara spontan memanjat tiang bendera untuk membetulkan tali yang terlepas agar bendera Merah Putih dapat dikibarkan. Video Joni menaiki tiang bendera menjadi viral di media sosial. Saya yakin Joni tidak pernah mengira apa yang dilakukannya akan membuatnya terkenal hingga mengantarkannya bertemu dengan Presiden Joko Widodo serta mendapatkan beasiswa dan hadiah. Dia pun mungkin juga tidak melakukan kalkulasi matang sebelum memanjat tiang bendera, padahal yang dilakukannya sangatlah berbahaya. Apa yang dilakukannya semata-mata panggilan bahwa dia ingin membantu agar upacara dapat berjalan dengan lancar.

Smart investor, saat ini perekonomian Turki sedang mengalami krisis yang dalam. Defisit transaksi berjalan sebesar $7,1 billion (5,5%), depresiasi Lira terjun lebih dari 40% terhadap Dollar (ytd) dan utang yang akan jatuh tempo di 2019 mencapai $180 billion. Untuk mengurangi tekanan terhadap Lira maka Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, menghimbau warganya untuk menjual Dollar yang dimiliki lalu membeli Lira. Tidak hanya itu Erdogan menaikkan tarif masuk produk-produk dari Amerika Serikat bahkan menyerukan untuk memboikot produk Apple. Saya tidak akan masuk dalam pembahasan apakah kebijakan tersebut benar/salah, bagi saya yang menarik adalah seorang pemimpin dituntut berani mengambil sikap dalam kondisi kritis untuk menyelamatkan bangsa dan negaranya. Lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi/kelompoknya perlu dilakukan seorang pemimpin yang bijak. Beberapa kali Erdogan menghadapi kudeta yang dilakukan oleh lawan politiknya, karena memang tidak semua orang Turki memiliki cara pandang yang sama dengan Erdogan dalam membangun Turki, namun yang jelas setiap pemimpin harus dapat merangkul semua pihak, entah itu kawan ataupun lawan.

Mungkin agak berlebihan jika saya menyamakan kondisi Indonesia dengan Turki, namun beberapa orang ada yang menyamakan situasi di Indonesia saat ini serupa dengan Turki bahkan dengan kondisi Indonesia ketika krisis ekonomi 1998. Misalkan dari kondisi perekonomian saat ini dilihat dari defisit transaksi berjalan, depresiasi Rupiah terhadap Dollar terus melemah, utang pemerintah yang akan jatuh tempo di tahun 2019 sebesar Rp400 triliun serta BI 7-DRR terus naik hingga berada di 5,5%. Hal ini ditambah juga dengan kondisi Indonesia yang sedang memasuki tahun politik. Tak pelak ini menimbulkan perdebatan di area publik bahkan Ketua MPR harus menyampaikan bahwa kondisi tersebut cukup memprihatinkan. Semua terhenyak lalu pertanyaannya apakah kondisi ekonomi Indonesia sudah begitu menakutkan.?

Nah kita akan melihat perbandingan dengan menggunakan beberapa ukuran ketika Krisis 1998, Krisis 2018 dan Krisis Turki:
  • Inflasi: Krisis 1998: 73%, Krisis 2018: 3% dan Krisis Turki: 15%.
  • Cadangan Devisa: Krisis 1998: $17 miliar, Krisis 2018: $120 miliar dan Krisis Turki: $108 miliar.
  • Rasio Kecukupan Modal (CAR) Perbankan: Krisis 1998: 16%, Krisis 2018: 22% dan Krisis Turki: 16%.
  • Rasio Kredit (NPL) Perbankan: Krisis 1998: 53%, Krisis 2018: 3% dan Krisis Turki: 5%.
  • Depresiasi terhadap Dollar: Krisis 1998: Rp2.300 menjadi Rp15.000, Krisis 2018: Rp.13.300 menjadi Rp14.600 dan Krisis Turki: 3,6 menjadi 6,2.
  • Defisit Transaksi Berjalan: Krisis 1998: 4,3%, Krisis 2018: 2,9% dan Krisis Turki: 5,5%
  • Rate Bank Sentral: Krisis 1998: 61%, Krisis 2018: 6% dan Krisis Turki: 20%
Indikator Ekonomi 2018

Jika melihat secara sekilas asumsi di atas maka kondisi Indonesia saat ini jauh lebih baik. Memang masih ada ukuran lain yang  tidak dimasukkan, namun bagi saya ukuran di atas sudah cukup menggambarkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi yang terukur. Namun jika anda memiliki pandangan lain, anda bisa mengisi kolom komentar di bawah. Merdeka dan jayalah selalu Indonesia sampai akhir hayat. (Baca juga: Sejarah Krisis Pasar Modal Indonesia: Strategi Mitigasi Investasi Saat Krisis)

1 comment:

Eza said...

Dirgahayu RI ke-73 selalu. Semoga para pimpinan memiliki amanah dan kesadaran untuk mensejahterakan warga NKRI. Amin