Situs ini memiliki 3 bagian:

September 20, 2018

Buyback Saham: Suatu Keuntungan Yang Tersembunyi Dibaliknya

Smart investor, ketika harga-harga saham sedang turun sebagian besar investor memiliki perasaan tidak nyaman karena hilangnya potensi keuntungan. Perasaan itu akan terasa lebih tidak nyaman lagi apabila dana untuk membeli saham menggunakan dana pinjaman dimana si investor dituntut untuk mengembalikan pokok beserta bunganya. Perlu diketahui, untuk menjadi seorang smart investor memerlukan kebijaksanaan dan kecerdasan yang baik, tetap tenang di segala situasi dan mampu melakukan kalkulasi risiko atas investasi yang dilakukan. Dengan demikian ketika harga saham yang dimiliki sedang anjlok, tidak akan lekas panik yang malah menyebabkan makin besar kerugian yang dialaminya.

Bagi beberapa investor turunnya harga saham membuat harga saham tersebut menjadi lebih murah sehingga investor dapat menambah lagi jumlah saham tersebut. Bagi investor jenis ini, terjunnya harga saham dapat disamakan dengan diskon besar di bursa efek yang tentunya harus dimanfaatkan dengan maksimal. Oleh karena itu ada baiknya ketika memiliki dana investasi, jangan habiskan seluruh dana tersebut untuk diinvestasikan, setidaknya sisakan dana simpanan investasi sebesar 30% (dapat berbeda bagi setiap orang) sehingga ketika saat diskon datang si investor masih memiliki dana untuk membeli saham.

Peristiwa tanggal 5 September 2018 adalah salah satu contoh diskon besar di bursa efek, saat itu IHSG ditutup turun sebesar 3,76% ke level 5.684. Bahkan beberapa saham ada yang mengalami penurunan lebih dari 5% di hari tersebut, utamanya yang turun dalam adalah saham-saham perseroan yang masih memiliki kandungan impor tinggi atau yang mempunyai utang Dolar yang besar. Sebagian besar pelaku di industri pasar modal pun menjadi lebih waspada serta berupaya untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi.

Buyback Perseroan Terbuka
Nah turunnya harga saham juga dapat dimanfaatkan oleh perseroan untuk membeli sahamnya, hal ini lazim disebut dengan buyback saham. Saham yang dibeli oleh perseroan kemudian disimpan di treasury saham  yang nantinya dapat dijual kembali ketika perseroan membutuhkan dana atau merealisasikan keuntungan. Beberapa mekanisme buyback saham secara teori, yaitu:

Tender Offer:
Perseroan melakukan penawaran kepada pemegang saham perusahaan untuk membeli sejumlah saham dengan kisaran harga tertentu (biasanya harga ditentukan oleh perseroan). Tender offer serupa dengan lelang dimana pembeli menawarkan sejumlah angka pembelian kepada pemegang saham, tentunya angka yang ditawarkan harus lebih tinggi daripada harga pasar sehingga menarik minat pemegang saham untuk menjual sahamnya. Bagi pemegang saham yang berminat, dapat mendaftarkan diri dan menyatakan jumlah saham yang akan dijual. Tender offer secara resmi diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi "Penawaran Tender Sukarela". Ketentuan tentang tender offer dapat dibaca di POJK No. 54/POJK.04/2015 tentang Penawaran Tender Sukarela

Pembelian di Pasar:
Perseroan membeli di pasar reguler sesuai dengan harga yang berlaku di pasar. Pengumuman adanya proses buyback saham di pasar reguler, sering kali membuat harga saham melonjak. Dengan melakukan buyback saham setidaknya ada 2 hal bagi perseroan: pertama jumlah dividen yang harus dibayarkan perseroan akan berkurang dan kedua harga saham sudah terlalu murah ketika harga saham kembali naik maka perseroan dapat menjualnya lalu memperoleh keuntungan. Perseroan yang melakukan buyback melalui pembelian di pasar lebih sering dilakukan dibandingkan dengan tender offer.

Dutch Auction:
Sistem ini sering diterjemahkan menjadi "Lelang Belanda" dimana perseroan langsung memberikan penawaran kepada pemegang saham terkait dengan harga yang mereka ajukan. Sistem ini lazim digunakan di negara-negara yang pasar modalnya sudah maju namun hampir tidak pernah digunakan dalam melakukan buyback saham di Indonesia. Walau demikian bukan berarti dutch auction tidak mungkin dilakukan di Indonesia.

Selain itu perseroan yang akan melakukan buyback saham perlu melihat beberapa kondisi, seperti:
  • Buyback saham tidak menyebabkan perseroan menjadi rugi, karena mengurangi kas perusahaan bahkan ada yang menggunakan dana pinjaman
  • Buyback saham tidak boleh lebih dari 10% dari modal yang disetor dan ditempatkan

Dengan melakukan buyback, perseroan memiliki suatu opportunity untuk menaikkan harga saham yang dinilai sudah  undervalued. Jadi perseroan tidak akan sembarangan melakukan buyback jika hasil valuasi tidak menyatakan bahwa harga pasar sahamnya sudah dibawah harga intrisiknya. Dengan demikian buyback dapat menjadi sinyal kuat dari perseroan kepada investor bahwa perseroan menganggap harga saham sudah terlalu rendah. Dengan adanya sinyal yang kuat, maka dapat menarik minat investor untuk membeli saham tersebut sehingga nantinya membuat harga saham menjadi naik. Dengan begitu maka buyback akan membuat jumlah saham beredar menjadi berkurang sehingga  perseroan dapat menghemat pembayaran dividen kepada publik. Selain itu jika saham itu beberapa tahun kemudian dijual kembali, maka perseroan memiliki potensi mendapatkan keuntungan darinya.

Contoh:
PT ABCD Tbk memiliki jumlah saham beredar sebanyak 1 miliar saham. Dari 1 miliar tersebut 300 juta (30%) dimiliki oleh publik. Setiap tahun PT ABCD memberikan dividen berkisar Rp200 per lembar saham. Manajemen PT ABCD Tbk melihat saat ini harga saham perseroan sudah undervalued sehingga memutuskan untuk melakukan buyback saham sebanyak 50 juta saham di harga Rp4.800. Harga ini dinilai cukup wajar bagi manajemen karena menggambarkan dividen yield sebesar 4,16% (200/4.800) dimana masih inline dengan BI 7DRR yang berada di level 5%. 
Simulasinya:
1. Sebelum buyback saham
PT ABCD membayar dividen untuk publik sebesar Rp200 x 300 juta = Rp60 miliar
2. Buyback saham
*PT ABCD mengeluarkan dana buyback sebesar Rp4.800 x 50 juta = Rp240 miliar
*PT ABCD membayar dividen untuk publik sebesar Rp200 x 250 juta = Rp50 miliar
3. Opportunity
PT ABCD dapat menghemat dividen tiap tahunnya sebesar Rp10 miliar (Rp60 miliar - Rp50 miliar). Dan jika saham PT ABCD dalam perjalanannya mengalami kenaikan 20% dalam 3 tahun maka harganya menjadi Rp5.760 (4.800 x 120%) sehingga manajemen dapat mempertimbangkan untuk menjual kembali saham dan mendapatkan dana sebesar Rp288 miliar (Rp5.760 x 50 juta).
4. Riil Profit
Dengan demikian riil profit dari aksi buyback saham dan menjual kembali dalam 3 tahun  adalah Rp44 miliar (Rp288 miliar - Rp240 miliar) ditambah dengan tidak membayar dividen publik sebesar Rp30 miliar (Rp10 miliar x 3 tahun).

Pada prakteknya buyback tidak selalu membuat harga sahamnya menjadi naik, masih ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi seperti:
  • Kondisi fundamental perseroan (internal)
  • Kondisi ekonomi dan politik (eksternal)
Namun jangan pesimis dulu, jika penurunan saham lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal perseroan, seperti yang terjadi pada tanggal 5 September 2018 lalu, maka buyback saham menjadi sesuatu yang menjanjikan. Nah dari beberapa emiten yang cukup rajin melakukan buyback adalah perseroan BUMN. Kementerian BUMN memang mendorong manajemen perseroan BUMN yang sudah tercatat di bursa saham untuk melakukan buyback ketika harga pasar sahamnya sudah undervalued. Beberapa BUMN yang didorong melakukan buyback saham seperti BUMN perbankan: PT Bank BRI Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan Bank BNI Tbk (BBNI) serta BUMN karya: PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), PT Adhi Karya Tbk (ADHI) dan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Untuk perseroan swasta beberapa saham yang sering melakukan buyback adalah grup MNC: PT MNC Investama Tbk (BHIT) dan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN).

Pada tahun 2018 ini setidaknya ada beberapa emiten yang telah dan akan melakukan buyback saham, yaitu: PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TOWR), PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE) dan PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA). Perlu diingat bahwa proses buyback saham sebenarnya tidak bisa dilakukan sembarangan, dalam artian perseroan tidak bisa dengan seenaknya membeli dan menjual kembali sahamnya setiap saat. Untuk informasi mengenai buyback saham dapat dibaca lebih lanjut di POJK No.30/POJK.04/2017 tentang Pembelian Kembali Saham Yang Dikeluarkan Oleh Perusahaan Terbuka.

7 comments:

Sigit Ahmad said...

Sepertinya tahun ini Kementerian BUMN tidak jadi melakukan buyback saham ya pak

Opra Invest said...

Kemungkinan besar begitu pak Sigit..

Andika Taruna said...

Buyback yang menarik apa nih pak? kalau menurut saya buyback BUMN tidak bermanfaat malah menghabiskan dana APBN saja lebih baik dananya untuk pengerjaan proyek secara riil

Opra Invest said...

Setiap orang/perseroan dapat berbeda dlm menyikapi adanya buyback. Klo menurut sy selama penawaran harga buyback menarik ga ada salahnya.

Dina Sari said...

Tolong dibahas buyback TOWR tahun 2018 pak

Sandi Daka said...

Buat sy buyback ga penting. Investor retail lebih mikir saham naik aja bos

Opra Invest said...

Selama buyback terjadi ketika nilai pasar jauh dibawah harga intrisik dan tidak menggunakan dana pinjaman. Buyback sgt menarik