Situs ini memiliki 3 bagian:

November 14, 2018

Selamat Jalan Sahabat: Sekilas Industri Penerbangan dan Analisa Saham Garuda 2018

Smart investor, waktu masih pagi hari di Senin tanggal 29 Oktober 2018 ketika WA grup SMP dan SMA saya banyak berisi komentar tentang kejadian jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 rute Jakarta – Pangkal Pinang. Waktu itu saya sendiri tidak terlalu fokus membaca seluruh berita karena sedang mengikuti rapat yang berlangsung di kantor. Waktu pun berlanjut, ketika hari semakin siang, isi komentar di WA grup mengarah pada 1 berita utama bahwa ada teman kami turut menjadi korban dalam pesawat. Nama teman kami adalah Dodi Junaidi, Dodi adalah seorang jaksa karir yang bertugas di Kejaksaan Pangkal Pinang tetapi keluarganya tinggal di Rempoa, Tangerang Selatan. Dodi adalah teman saya ketika di SMP 29 Jakarta dan SMA 70 Jakarta, bahkan kami pernah beberapa kali sekelas. Ketika kami menemui istri Dodi saat berkunjung ke rumahnya, yang bersangkutan mengatakan setiap 2 minggu sekali Dodi pulang ke Jakarta, berangkat hari Jumat dan kembali ke Pangkal Pinang hari Senin. 

Peristiwa kecelakaan ini menciptakan duka yang dalam bagi keluarga, kolega dan teman dari korban. Sebanyak 189 penumpang dan awak kapal yang berangkat dari bandara Soekarno Hatta pada pukul 6.20 WIB dipastikan tewas semuanya di wilayah perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat. Tapi ya memang kematian juga adalah bagian dari kehidupan, tidak ada yang mengetahui kapan waktunya kita kembali kepada Sang Pencipta. Bahkan orang berhikmat mengatakan ada 3 hal yang pasti dalam hidup ini adalah: tua, sakit dan mati. Umur kita terlalu singkat di dunia ini, maka manfaatkanlah dengan sangat baik untuk memberikan yang terbaik. Amin. 

Dengan jumlah penduduk mencapai lebih dari 250 juta jiwa dan luas wilayah 5 juta km persegi, 2/3 adalah wilayah lautan, Indonesia adalah pasar potensial bagi industri penerbangan. Pertumbuhan penumpang dalam 1 dekade terakhir mencatatkan pertumbuhan penumpang signifikan mencapai 9% - 13% per tahun dan diperkirakan pada tahun 2019, jumlah pengguna transportasi udara Indonesia menembus angka 100 juta penumpang. Melihat hal itu semua tentu perusahaan penerbangan memiliki peluang untuk dapat bertumbuh apalagi secara statistik tingkat kecelakaan transportasi udara paling rendah dibandingkan dengan tranportasi darat dan transportasi laut. 

Pasti tidaklah murah dan mudah untuk menjalankan bisnis penerbangan. Harga satu pesawat yang paling murah saja dapat mencapai Rp500 miliar dengan jumlah 200 kursi. Komponen biaya operasional yang paling tinggi adalah biaya bahan bakar, besarnya mencapai 60% dari total biaya perusahaan. Apalagi patokan bahan bakar menggunakan kurs Dollar yang saat ini sedang menguat terhadap Rupiah. Komponen lain berbiaya tinggi adalah biaya perawatan, ini adalah keharusan yang menuntut adanya zero mistake. Bagaimanapun juga perbaikan yang terjadi di udara akan lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan perbaikan di darat dan di laut maka perawatan pesawat di darat menuntut adanya ketelitian dan rutinitas tinggi. Karena mahalnya harga pesawat, biaya operasional dan biaya perawatan, banyak maskapai penerbangan yang lebih memilih untuk melakukan leasing pesawat daripada membeli. Tentu ada plus dan minus ketika pesawat itu disewa atau leasing, kelebihan dari leasing seperti: pembayaran leasing lebih rendah, biaya depresiasi pesawat kecil dan lessor memiliki concern lebih tinggi dibandingkan seller. 

Nah sampai saat ini setidaknya ada 3 perseroan yang sahamnya tercatat di BEI yaitu: PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), PT Air Asia Indonesia Tbk (CMPP) dan PT Indonesia Transport dan Infrastructure Tbk (IATA). Saat ini kita diskusi hanya Garuda sebagai perseroan paling tua diantara keduanya. Sejarah Garuda berawal di masa kolonial ketika Belanda masih di Indonesia. Cikal bakalnya berawal dari maskapai Belanda yaitu Koninklijke Luchtvaart Maatschappij (KLM), yang berarti Penerbangan Kerajaan Belanda. Nama Garuda sendiri adalah inisiatif dari Presiden Soekarno yang terinspirasi dari nama burung yang dikendarai oleh Dewa Wisnu. Garuda mencatatkan sahamnya tanggal 11 Februari 2011 dengan harga Rp750 dan melepas 6,34 miliar saham. Dari IPO tersebut, Garuda mendapatkan dana sebesar Rp4,75 triliun. Kisah Garuda ketika akan IPO memiliki cerita yang menarik dan cenderung kontroversial, ketika itu harganya dianggap terlalu mahal. Banyak yang beranggapan hal ini disebabkan oleh protes masyarakat atas IPO dari BUMN sebelumnya, PT Krakatau Steel Tbk, yang dianggap terlalu murah. Seakan-akan menjawab protes dari masyarakat, Kementerian BUMN menetapkan harga IPO Garuda pada harga yang dapat dikatakan premium. Nah ketiga penjamin emisinya saat itu, Danareksa Sekuritas, Bahana Sekuritas dan Mandiri Sekuritas, agak kelimpungan karena harus menyerap jumlah saham yang tidak terbeli dimana harganya cukup besar, mencapai Rp1,5 triliun.

Pucuk pimpinan manajemen di Garuda termasuk yang sering dibongkar oleh Kementerian BUMN, setidaknya sejak tahun 2014 Garuda telah berganti 4 Direktur Utama, yaitu: Emirsyah Satar, Arif Wibowo, Pahala Mansury dan I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra. Memang sepertinya jabatan Direktur Utama Garuda adalah sesuatu yang panas dalam beberapa tahun terakhir. Orang-orang dengan nama besar didatangkan ke Garuda, bahkan walaupun tidak memiliki latar belakang dalam dunia penerbangan sebelumnya. Memang menjadi seorang Direktur Utama Garuda tidak harus seorang pilot dan memiliki latar belakang di bidang transportasi udara. Contohnya adalah Emirsyah Satar dan Pahala Mansury, sebelumnya mereka adalah Bankir yang berkarir di Perbankan. Mereka dikenal handal dalam mengelola keuangan Bank. Sebelum mereka Garuda pernah juga dipimpin oleh seorang Bankir yang bernama Robby Djohan, dapat dikatakan dibawah kepemimpinannya Garuda mengalami masa emas. Masa Robby Djohan menjadi Dirut Garuda cukup singkat, akan tetapi banyak perubahan besar yang dilakukannya. Waktu itu Garuda terkenal sebagai maskapai yang sering terlambat dan memiliki pesawat tua, Robby mampu melakukan perubahan dalam kurun waktu 6 bulan. Tapi ya sepertinya itu tadi bahwa industri penerbangan itu tidak murah, maka mungkin saja pilihan Direktur Utama Garuda diberikan kepada Bankir karena dianggap dapat memberikan benefit dan kelebihan dalam hal pengelolaan keuangan perseroan. 

Kebanyakan orang yang menggunakan Garuda mengakui harus membayar tiket lebih mahal dibandingkan maskapai yang lain. Alasannya dapat berbeda-beda bagi setiap penumpang. Beberapa mengatakan keselamatan tidak dapat dinilai dengan uang, bagi mereka itu tadi biaya operasional dan perawatan mahal jadi wajar saja jika harga itu tereflesikan pada harga tiket yang juga mahal. Beberapa lagi juga mengatakan aturan kantor mengharuskan untuk mengutamakan penggunaan Garuda dalam perjalanan dinas yang dilayani oleh Garuda, artinya kalau kota yang dituju ada jadual Garuda tidak dibolehkan menggunakan maskapai lain. Apapun itu Garuda memang maskapai nasional terbaik saat ini yang telah mendapatkan pengakuan dari banyak pihak. Walaupun begitu beberapa investor yang ditanya apakah mereka berminat untuk membeli saham Garuda saat ini? Sebagian besar mengatakan masih belum berani untuk mengoleksi. Masih melihat situasi dan momentum yang ada, apalagi utang Garuda cukup besar. Pendapatan dalam Rupiah tapi biaya operasional dan utang sebagian besar dalam Dollar. 

Lalu bagaimana analisa Garuda di 2018 ini.?? Sejauh ini perseroan membukukan total pendapatan sampai September 2018 sebesar US$2,56 miliar namun demikian perseroan masih mencatatkan kerugian bersih sebesar US$114 juta. Angka ini turun dari periode sebelumnya (yoy) sebesar 49%. Beban operasional meningkat sebesar 8,6% menjadi US$2 miliar. Masih agak sulit untuk saham Garuda akan naik dalam beberapa tahun ke depan jika masih dalam kondisi kurs Dollar yang menguat. Setidaknya dari November 2013 sampai dengan November 2018, kinerja saham Garuda masih mencatatkan -58%, di sisi lain kinerja IHSG memiliki kinerja 33%. Kinerja terburuk Garuda setidaknya terjadi selama 2 kali yaitu di bulan Juni 2015 s.d. Januari 2016 dan Agustus 2016 sampai saat ini. Yah nampaknya investor sedang melepas saham Garuda yang dimiliki melihat laporan keuangan Garuda yang memang sedang tidak bagus. Investor memiliki kekuatiran saham Garuda akan jatuh lebih dalam lagi, setidaknya harga saham Garuda saat ini di harga Rp200 per lembar adalah harga terendah semenjak IPO (Bayangkan padahal Garuda IPO di harga Rp750). Dan menurut analisa, saham Garuda dapat menyentuh harga Rp150 jika manajemen yang baru tidak memiliki terobosan dan solusi jitu atas permasalahan yang saat ini dihadapi oleh Garuda. 

odith adikusuma
Kinerja Saham Garuda Nov'13-Nov'18

Menutup tulisan kali ini izinkan sekali lagi mengucapkan: “Selamat jalan sahabat, Dodi Junaidi.”

Kinerja Garuda:
-Kinerja Aset: A
-Kinerja Utang: D

No comments: