Situs ini memiliki 3 bagian:

December 3, 2018

Baper Investing: Tingkat Emosi Dalam Investasi

Smart investor pasti pernah mengalami momen emosional ketika melakukan investing. Misalkan saham yang sudah dibeli harganya bukannya naik eihh malah turun, atau dapat juga terjadi sebaliknya saham yang sudah lama tidak naik tiba saatnya dalam trend meningkat (kalau ini anda pasti senang serasa terbang di awan). Nah buat anak-anak zaman now suatu momen emosional, also known as baper, adalah kondisi dimana seseorang merasakan kedalaman perasaan tingkat dewa dalam hidupnya. Ada yang baper dalam sudut pandang positif bahkan ada juga hal yang negatif. Baper memang terjadi di setiap orang dalam bentuk yang bermacam-macam. Saudara sekalian sekilas judul di atas dapat memunculkan persepsi yang berbeda-beda di dalam benak masing-masing orang, namun sengaja saya pilih baper sebagai judul karena mungkin saya sedang baper juga saat ini. Mau tahu ceritanya?? Baca lebih lanjut cerita dibawah…

Sebagai seseorang yang menjalani masa remajanya di tahun 90’an, saya menyukai lagu-lagu dari grup musik Dewa. Pada masa itu Dewa belum begitu terkenal seperti saat ini, mereka masih merintis jalur ke atas yang semua itu dimulai dari bawah sekali. Mereka tampil di acara-acara tingkat universitas dan klub di berbagai kota di Indonesia. Mereka juga masih hidup dalam kesederhanaan, pergi sering menggunakan kendaraan umum tanpa memiliki crew. Ketika saya dan teman-teman bertemu Dewa pada tahun 1995, mereka tidak membawa kendaraan sendiri, harap maklum karena memang mereka berasal dari Surabaya. Saat itu kami masih duduk di bangku SMA, kebetulan saya bersama teman-teman mewakili SMA 70 Jakarta tampil dalam acara di sebuah universitas di daerah Joglo, Jakarta Barat. Kami hanya band pengisi saja, masih amatir, sedangkan Dewa sudah menuju profesional. Formasi mereka saat itu adalah Dhani Ahmad, Andra Ramadhan, Erwin Prasetya dan Ari Lasso. Nah saat itu band penampil terakhirnya adalah Dewa, yang sedang ngehit karena lagu berjudul “Kangen”. Singkat cerita setelah selesai acara, semua penampil pun bersiap pulang… Eit gedubrak ternyata salah satu teman saya mengenal gitaris Dewa, Andra Ramadhan. Mereka lalu terlibat pembicaraan beberapa lama, nampaknya mereka kenal cukup baik. Yah kebetulan teman saya tersebut juga berasal dari Surabaya dan sama-sama pemain musik. Akhirnya peristiwa yang tidak akan pernah kami lupakan terjadi, beberapa personil Dewa ikut kendaraan kami untuk menuju ke base camp Dewa di kawasan Pondok Indah, kebetulan kami juga searah untuk pulang.

odith adikusuma, dewa, ahmad dani, opra-invest


Saya tidak pernah bertemu Dewa dalam formasi band selama puluhan tahun sejak lulus SMA hingga datanglah momen ini beberapa saat lalu. Awalnya saya diajak untuk menonton penampilan Andra and the BackBone di Jakarta, kebetulan di sana ada teman kami yang menjadi crew dari Andra and the BackBone. Selesai konser mini tersebut, si teman ini pun bercerita bahwa besok dia akan berangkat ke Makassar karena Dewa akan melakukan konser bersama band Padi di sebuah hotel di Makassar. Nah ternyata teman saya pun adalah crew dari Dewa. Saya pun terkejut karena besok saya juga akan melakukan dinas ke Makassar. Saya katakan kalau sempat saya akan menonton konser Dewa di sana. Dengan antusias kami pun berjanji akan melakukan kontak kembali setelah masing-masing tiba di Makassar. Setelah tiba di Makassar saya menghubungi dia bahwa saya ada agenda rapat sampai jam 21.00 WITA, jadi baru dapat menyusul setelah jam tersebut. Dia pun merespon bahwa konser Dewa akan dimulai sekitar jam tersebut lalu telah menitipkan tiket kepada resepsionis dengan nama saya. Maknyuznya rapat selesai sebelum jam 21.00 WITA, saya pun segera ke kamar untuk ganti pakaian kemudian langsung memesan ojek online (buat yang belum tahu di Makassar juga sudah ada Gojek dan Grab). Perjalanan dari hotel tempat saya menginap menuju hotel tempat konser memerlukan waktu tempuh sekitar 15 menit. Setelah tiba saya langsung bergegas ke resepsionis untuk mengambil tiket kemudian mengarah ke ballroom hotel. Setelah tiba di depan pintu saya tunjukkan tiket all access yang saya pegang, saya memilih menempati VIP class (thank you Fari). Akhirnya setelah sekian lama, saya melihat penampilan Dewa kembali dengan formasi yang berbeda dengan formasi tahun 1990an, namun tetap layak untuk disaksikan. 

Nah selain merasa baper karena hal tersebut di atas, kami dari tim opra-invest juga baper dengan portofolio investasi yang sedang kami pegang. Ada beberapa efek yang kami kelola sebelumnya minus saat ini sudah mengalami pembalikan arah menjadi positif. Tidak tanggung-tanggung bahkan sempat mencapai -28%. Awalnya kami sempat ragu apakah kami telah melakukan investasi yang benar, untuk itu kami melakukan analisa ulang dan membandingkan dengan efek yang lain. Setelah mendapatkan hasil analisa, kami semakin yakin bahwa efek tersebut memang memiliki fundamental yang baik namun salah harga, ditransaksikan terlalu murah. Untuk menghindari kerugian besar kami sempat melakukan cut loss sebesar 10% ketika menyentuh level -20%. Kami yakin bahwa efek yang baik apapun itu akan tiba saatnya harganya pulih dan naik, walaupun untuk itu kami tidak tahu waktunya. Supaya tidak membuat penasaran, kami berikan clue efek yang kami pegang. Efek ke-1 adalah BUMN konstruksi yang juga memiliki anak perusahaan yang juga telah IPO, kebetulan pada tanggal 29 November 2018 naik lebih dari 12%. Lalu ke-2 adalah perseroan yang bergerak di bidang keuangan dari kelompok yang berkantor di daerah Senayan, Jakarta. Yah itu saja petunjuknya untuk saudara-saudara sekalian (ya nanti kalau ikut masuk dan nyangkut kami dapat merasa bersalah sedangkan kalau naik kami tidak dapat fee untuk makan siang).

Dalam tulisan sebelumnya saya pernah membahas tentang perilaku seseorang yang seringkali ikut “investing” karena terpengaruh dengan kebanyakan orang yang investing di efek yang sama. Hal ini terkadang menjadi sebuah justifikasi bahwa kita telah membeli efek yang benar padahal ini dilakukan tanpa melakukan analisa sebelumnya. Pemikirannya adalah ketika seseorang membeli efek pasti ingin mengalami kenaikan harga, tidak ada yang mau rugi. Nah apalagi ini yang membeli adalah orang banyak pastilah efek tersebut adalah efek yang bagus. Tapi saudara sekalian, terkadang harapan tidaklah seindah kenyataan. Thus banyak orang yang sudah tahu bahwa efek yang dimilikinya nyangkut tetap optimis terus atau malah mikir kalau dijual sayang gua sudah rugi besar nihhh. Dalam banyak hal orang yang mengalami kerugian cenderung akan mengeluarkan uang lebih lagi untuk melakukan kompensasi atas kerugiannya. Kecenderungan orang adalah tidak mau merugi maka mereka cenderung membeli lagi atau membiarkan efeknya turun sambil berharap akan mengalami rebound (Baca lebih lanjut: Pendekatan Behavioral Finance: Sukses Saham Roller Coaster vs Bisnis Saham dan Saham Imbal Hasil Tinggi 7 Tahun Terakhir: Tips Kombinasi Trading dan Investing).

Bagi beberapa orang muncul pemikiran kurang lebih seperti ini: “Saya sudah merasa nyaman dengan saham ini, apalagi saham ini pernah naik tinggi. Jadi kalau sekarang lagi turun tidak masalah.” Juga ada yang berkata: “Saham ini sudah naik tinggi, saya tidak akan pernah melepasnya walau hanya sebentar saja.” Atas pendapat itu, komentar saya: “Ya no problemo. Ga salah juga, namun tetap ingat terkadang investing seperti cinta tidak selalu manis. Hal penting adalah adaptasi.” Wow apapula ini… Jadi begini terkadang investing efek dapat diidentikkan dengan cinta, ada yang melakukan investing karena cinta buta, cinta monyet dan cinta bertepuk sebelah tangan. Ada teman saya yang sangat fanatik dengan Bumi Resources (BUMI). Dia mengatakan bahwa ini adalah saham andalan dia walaupun saat ini dalam posisi rugi tapi dia tidak terpikir untuk melakukan cut loss. Alasan dia adalah saham ini pernah naik tinggi dan dimiliki oleh banyak orang, pastilah suatu saat nanti sahamnya akan naik lagi. Tapi alasan dia melakukan ini hanya berdasarkan suatu hal yang emosional sedangkan dia tidak pernah melakukan analisa sama sekali. Hal ini membuat saya agak heran.. Dalam hal ini saya tidak mengatakan bahwa BUMI adalah jelek namun apapun yang menjadi alasan untuk membeli sesuatu adalah karena memang kita yakin dan keyakinan itu selalu berdasarkan proses analisa.

Buat kami portofolio efek itu tidak perlu banyak, setidaknya 10 sudah cukup. Selain itu perlu juga kita bertindak adaptif ketika investing. Yang kami lakukan adalah memilih efek-efek baik dengan harga fair cenderung murah dan melakukan transaksi jual atau beli. Penting untuk melakukan profit taking dan cut loss dalam investing. Katakan efek ABCD adalah saham yang memiliki fundamental baik ketika sudah naik tinggi akan kami lepas sementara karena harganya sudah tinggi (walaupun masih prospektif) dan ketika saham tersebut turun (dan pasti akan turun) maka kami akan membeli kembali ABCD. Juga sebaliknya saham BCDE yang kami beli turun cukup dalam, kemudian setelah kami analisa tidak ada masalah signifikan pada efek tersebut maka kami akan melakukan penjualan sebagian untuk kemudian ketika harga efek berada dalam kondisi stabil kami akan membeli kembali. Nah seperti itu strategi yang kami lakukan. Investing bukan sekadar memperoleh uang, investing juga seni. Dan berita bagusnya investing adalah seni yang dapat dipelajari oleh siapa saja. Untuk melakukan strategi seperti kami, penting untuk tidak hanya mengetahui analisa fundamental namun juga analisa tehnikal. Dapat dikatakan bahwa kami menerapkan 80% strategi analisa fundamental dan 20% strategi analisa tehnikal. Bagi kami strategi ini tetap investing namun melihat momentum. Kami melihat bahwa strategi tersebut paling cocok bagi kami karena walaupun kami sangat mengagumi Warren Buffett namun belum memiliki kematangan emosional seperti dia. Sederhananya terkadang kami masih baperan sih…. 

Kembali kepada cinta buta, cinta monyet dan cinta bertepuk sebelah tangan tadi maka saran kami jadikan investing sebagai sesuatu yang fun. Fun disini berarti tidak selalu urusan mengejar untung sampai-sampai malas makan bahkan tidak tidur. Yang dipikirkan hanya bagaimana agar portofolio kita naik, sedikit-dikit cek akun posisi portofolio. Cek posisi portofolio kita. Gak usah terlalu berlebihan begitu, bahkan rumornya Warren Buffett dan Lo Kheng Hong setelah membeli suatu efek jarang untuk mencek harganya terlalu sering. Mereka sudah pada tahap yakin sehingga tidak terlalu kuatir terhadap portofolionya. Kabarnya mereka melakukan kontrol portofolio minimal 3 bulan sekali. Selain itu untuk Mr Buffett dan Mr Hong kalau suatu efek sudah tidak memberikan manfaat lagi maka mereka tidak segan-segan melepasnya untuk kemudian investing di efek lain. Nah untuk tidak baper dalam investing itu tidak ada sekolahnya. Jika untuk menjadi ahli keuangan dan investasi ada sekolah dan ujiannya bahkan sebelum diterima harus mendapat nilai GMAT/GRE yang baik sehingga dapat belajar di Universitas Harvard, Universitas Columbia, dll lalu juga ada yang ambil sertifikasi keuangan CFA dan FRM, maka mengendalikan emosi merupakan proses yang berkelanjutan. Kami selalu percaya sukses dalam investing selalu melibatkan proses disiplin, belajar dan sabar, dan hal-hal tersebut akan menjadi indah pada waktunya. Nah menutup tulisan kali ini, izinkan saya membagikan lirik sebuah lagu baper dari Dewa:

"Semua kata rindumu selalu membuatku, tak berdaya...."


3 comments:

tommy Ardianto said...

Saya melihat bahwa investasi dalam jangka panjang, saya tidak peduli apakah sahamnya naik atau bahkan turun dalam jangka pendek. Sejauh masih dalam batas deviasi harga yang dapat saya toleransi saya akan biarkan investasi saya.

Opra Invest said...
This comment has been removed by the author.
Opra Invest said...

Portofolio management menggunakan standar deviasi dan beta memiliki kelebihan dan kekurangan. Standar deviasi hy didasarkan pada efek sedangkan beta dengan market