October 11, 2019

Disrupsi dan Mobilisasi Zaman Sekarang

Beberapa waktu lalu ketika saya mengikuti kegiatan kantor, saya mendapatkan sebuah buku karangan dari Profesor Rhenald Kasali, seorang guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, yang berjudul “The Great Shifting: Series on Disruption”. Buku tersebut sangat menarik berisi tentang contoh dari perusahaan atau individu yang telah memberikan perubahan bagi masyarakat. Nah saya bersyukur pada tanggal 3 Oktober 2019 di Kementerian Keuangan, saya dapat bertemu dengan Rhenald Kasali secara langsung serta mendapatkan berbagai macam informasi dan pemahaman. Tulisan ini membahas tentang disrupsi bisnis dan mobilisasi massa yang disampaikan oleh Rhenald Kasali.

rhenald kasali, disrupsi dan mobilisasi bisnis, odith adikusuma
Rhenald tampil seorang diri di atas panggung dan mulai berbicara pukul 10.10 WIB. Dia didampingi oleh asisten yang sepertinya sudah 'terkoneksi' dengan Rhenald, sehingga ketika Rhenald sedang membahas suatu tema/kasus maka sang asisten akan segera menyentuh tabletnya untuk menampilkan gambar presentasi yang dibahas oleh Rhenald. Berbeda dengan kebanyakan presenter yang melakukan presentasi didasarkan pada tampilan gambar yang sudah dipersiapkan sebelumnya, dalam hal ini tampilan gambar mengikuti presentasi yang dilakukan oleh Rhenald. Pada kesempatan itu Rhenald mengatakan bahwa setiap perusahaan dan individu harus dapat beradaptasi dengan masa depan dengan melakukan perubahan di masa kini. Bagaimana CEO Nokia terheran-heran karena mereka kalah bersaing dengan smartphone Android dan iPhone, sang CEO mengatakan: ”Tidak ada yang salah dengan produk Nokia, namun bagaimanapun juga kami kalah." Kegagalan terbesar Nokia adalah tidak mampu mengantisipasi para pesaing yang meluncurkan produk yang lebih dibutuhkan konsumen. Dan ini merupakan kesalahan. Ternyata tidak hanya Nokia yang gagal dalam menghadapi perubahan, munculnya Netflix dan Iflix menjadi pesaing bagi industri TV berbayar dimana masyarakat sekarang lebih dimanjakan dapat memilih film yang diinginkan secara real time dan bukan yang disajikan secara terprogram.

rhenald kasali, disrupsi dan mobilisasi bisnis, odith adikusuma

Saya ingat kembali ke tahun awal 2000an ketika tidak ada pilihan kendaraan umum, yang ada hanya Metro Mini dan Bus Damri menjadi pilihan utama. Namun sayang hal ini tidak menjadikan Metro Mini dan Bus Damri memberikan pelayanan yang prima, dan akhirnya ketika muncul bus AC dan bus Trans Jakarta maka mereka pun tergerus. Secara khusus di Indonesia layanan ride sharing Gojek dan Grab juga telah menciptakan disrupsi bisnis transportasi. Jika sebelumnya taksi dan ojek pangkalan cukup berjaya dimana masyarakat yang membutuhkan jasa mereka harus menunggu dan mencari lalu belum diketahui biaya transportasinya, namun dengan adanya Gojek dan Grab maka mereka yang mendatangi konsumen dengan biaya yang sudah disepakati sebelumnya. Slogan konsumen adalah raja adalah slogan abadi yang tidak dapat terbantahkan.

Sekarang lebih dari 170 juta orang di Indonesia menggunakan internet dan sebagian besar aktif menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, Youtube dan Twitter. Sekedar contoh melalui Youtube kita dapat memperoleh berita formal dan informal bahkan gosip tidak jelas. Banyak youtuber yang menampilan diri layaknya artis yang memiliki banyak fans. Para youtuber ini dapat memperoleh penghasilan bulanan yang sangat besar dengan berbagi pendapatan iklan dengan Youtube. Sayangnya tidak semua youtuber menciptakan video yang positif dengan konten menciptakan bermutu dan mendidik. Youtuber adalah salah satu contoh dari mobilisasi yang dapat mengajak massa untuk mengikuti kegiatannya.

Indonesia adalah negara yang kaya, memiliki jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, berlimpah komoditas dan tempat wisata. Indonesia harus dapat memanfaatkan hal itu dengan baik dengan melakukan kegiatan disrupsi dan mobilisasi. Kita dapat mengambil contoh Singapura yang walaupun adalah negara dengan luas wilayah jauh lebih kecil dari Indonesia dan memiliki jumlah penduduk sekitar 6 juta jiwa namun dapat melakukan disrupsi dan mobilisasi untuk mendatangkan turis, pekerja asing dan pelajar asing datang ke Singapura. Tentunya Singapura harus bersusah payah lebih dahulu untuk membangun sarana dan prasarana, seperti Universal Studios, National University of Singapore, dan Nanyang Technological University. Nah Indonesia setidaknya saat ini sudah mulai mengikuti Singapura dengan membangun infrastruktur di berbagai wilayah. Dampaknya terjadi kemacetan dan naiknya hutang untuk infrastruktur, namun demikian jika semua dilakukan dengan tepat guna dan tepat waktu, secara umum akan memberikan hasil yang positif. Ingat perubahan di masa kini untuk kebaikan di masa depan.


Semoga Indonesia dapat berjaya setidaknya di Asia Tenggara lalu Asia lalu Dunia...

No comments: