November 21, 2019

Pasar Saham Indonesia Melemah: Perang Dagang US vs China, Demonstrasi di Hong Kong dan Brexit di Inggris

Beberapa waktu lalu sebuah berita media online memberitakan bahwa terdapat beberapa Reksa Dana Saham yang mengalami penurunan Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit secara year to date (YTD) lebih dari 40%. Penurunan NAB per unit dapat disebabkan oleh beberapa hal, seperti: penurunan efek Saham dari Reksa Dana yang menjadi aset Reksa Dana dan penjualan (redemption) terhadap Reksa Dana secara signifikan.

Secara YTD kondisi Pasar Saham Indonesia sedang mengalami tekanan. Sebenarnya hal ini juga terjadi di sebagian Pasar Saham negara lain, namun Indonesia adalah salah satu yang terburuk di Asia Tenggara. Secara YTD, Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia hanya tumbuh dibawah 1% (terburuk setelah Malaysia yang -5,5%), hal berbeda ditunjukkan dengan indeks composite di Singapura yang tumbuh lebih dari 2,50% dan Filipina (5%). Hal ini memunculkan pertanyaan karena di sisi lain nilai tukar Rupiah terhadap US Dolar dalam posisi Rupiah yang menguat dan penguatannya lebih tinggi dibandingkan negara-negara tersebut.

Sebagian besar ahli ekonomi sepakat bahwa beberapa penyebab terjadinya tekanan di Pasar Modal Saham karena: perang dagang US vs China, demonstrasi massal di Hong Kong dan Brexit di Inggris. Beberapa indikator menunjukkan bahwa terjadi slowing down economy growth dengan penurunan suku bunga, melemahnya Purchasing Managers Index, realokasi pabrik-pabrik dari China ke negara lain (Malaysia, Thailand dan Vietnam).

Menariknya berdasarkan data, dana dari luar sebenarnya masih ada di Indonesia alias tidak terjadi capital outflow. Nampaknya investor lebih melihat Pasar Obligasi sebagai investasi menarik, apalagi dengan suku bunga Indonesia yang rendah akan mendorong harga Obligasi menjadi tinggi. Memang tekanan di Pasar Obligasi tidak sebesar di Pasar Saham, bahkan sepertinya ada shifting dari Pasar Saham ke Pasar Obligasi. Dengan demikian sebenarnya dana investor ya masih ada di Pasar Modal juga.

Kembali ke cerita di atas, apa yang menyebabkan IHSG turun begitu dalam. Perlu diketahui bahwa ekspor Indonesia terhadap GDP hanya sekitar 32%, namun sebagian besar ekspor Indonesia dilakukan ke China. Dalam hal ini Indonesia mengekspor ke China berupa crude palm oil (CPO), karet dan batubara. Nah ketika terjadi perang dagang China dengan US, secara otomatis impor China terhadap komoditas Indonesia akan berkurang. Yang pastinya menekan harga komoditas kita. Lalu jika digabungkan saham-saham perusahaan CPO, karet dan pertambangan di Indonesia memiliki bobot lebih dari 5% terhadap IHSG, dengan demikian wajar jika IHSG turun lebih dalam dibanding indeks composite negara lain.

Sayangnya Indonesia tidak memperoleh kesempatan dengan adanya realokasi pabrik-pabrik dari China yang berjumlah 23 perusahaan yang lebih memilih pindah ke Vietnam, Malaysia dan Thailand. Itu sebabnya Presiden Jokowi terlihat gusar karena di mata investor/perusahaan asing, Indonesia masih belum terlihat menarik. Padahal Indonesia memiliki pasar sebesar 250 juta jiwa. Pembangunan infrastruktur dan kemudahan perizinan/pajak masih belum menarik minat investor untuk berinvestasi. Dengan demikian pekerjaan rumah di kementerian dibawah komando Kemenko Perekonomian dan regulator sektor keuangan (Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia) masih menumpuk.

Pertanyaan yang muncul sekarang apakah Pasar Saham Indonesia masih menarik untuk dijadikan investasi? Tentu saja masih. Dengan adanya penurunan harga saham maka beberapa saham dijual di harga diskon. Bahkan kabarnya salah satu investor handal Indonesia, Lo Kheng Hong, dikabarkan menjual aset propertinya untuk dibelikan saham. Namun tentu tidak semua saham layak untuk dikoleksi. Sekadar clue saja, saham mana yang layak untuk dikoleksi saat ini adalah saham perusahaan CPO. Saat ini harga CPO di pasar Malaysia sedang mengalami pergerakan naik siap menembuh RM.2.700/ton. 

pergerakan harga CPO, odith adikusuma
Pergerakan Harga CPO

Tapi tetap untuk para investor saham diperlukan kehati-hatian ketika investasi, mengingat masih belum jelasnya penyelesaian perang dagang antara US dan China, masalah demonstrasi politik di Hong Kong dan Brexit di Inggris. Dengan demikian untuk beberapa tahun ke depan, kondisi perekonomian masih akan diwarnai oleh sentimen negatif yang tentunya juga akan menekan sektor riil/mikro. Selamat berinvestasi.

(Catatan: Thucydides trap adalah suatu istilah yang dikenalkan oleh Profesor Graham Allison dari Harvard University bahwa ada potensi besar suatu negara besar/adidaya merasa gelisah dan tersaingi oleh kekuatan suatu negara lain yang lebih kecil namun berpotensi mengalahkan kekuatan negara besar/adidaya tersebut.)  

No comments: