December 31, 2019

Kaleidoiskop Indeks Bursa Saham Dunia 2019: Kinerja IHSG

Tanggal 30 Desember 2019 adalah hari terakhir perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia. Hari-hari perdagangan saham sepanjang 2019 dilalui dengan berbagai macam cerita dan dinamika menghiasi, ada yang gembira karena mendapatkan keuntungan dari saham namun ada juga yang kecewa. Sejatinya pasar modal saham dibangun sebagai sarana kerjasama dalam usaha yang nantinya dapat mendistribusikan kesejahteraan. Dengan demikian wajar jika investor mengharapkan adanya keuntungan dari transaksi saham.

odith adikusuma, indeks saham dunia 2019
Kinerja Indeks Saham Dunia 2019
Sepanjang tahun 2019, Bursa Efek Indonesia mencatatkan kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 1,70% (105 points). Di negara ASEAN, Indonesia kalah jauh dengan VN-Index Vietnam yang sebesar 8,12% (72 points) namun masih lebih baik dari FTSE-BM Malaysia sebesar -4,43% (-75 points) dan SETi Thailand sebesar 0,99% (16 points). Jika dibandingkan dengan kinerja indeks di kawasan maka untuk kawasan Asia Pasifik, bursa yang mencatatkan kenaikan tertinggi adalah TAIEX Taiwan sebesar 23,91% (2.325 points), kawasan Amerika tertinggi adalah MERVAL Argentina sebesar 37,60% (11.389 points), kawasan Eropa tertinggi adalah Irlandia sebesar 32,85% (1.800 points).

Dianalisis secara singkat dan sederhana, pasar saham di kawasan ASEAN mengalami tekanan yang lebih besar dibandingkan dengan kawasan Asia Pasifik, Amerika dan Eropa. Ternyata hal-hal seperti perang dagang antara Amerika dan China, penyelesaian Brexit dan demonstrasi di Hong Kong tidak terlalu berdampak buruk terutama untuk negara sekitarnya. Justru sepertinya ketika kondisi pasar saham sedang goyah, dana investasi kembali ke kawasan Amerika dan Eropa.

odith adikusuma
Kinerja Industri IHSG 2019
Jika IHSG dikupas lebih dalam dalam, industri yang mengalami peningkatan paling tinggi adalah industri keuangan dengan kenaikan 15,22% sedangkan yang paling rendah adalah industri consumer goods sebesar -20,11%. Mengapa industri keuangan bisa naik tinggi?? Sepertinya kebijakan Bank Indonesia menurunkan suku bunga berpengaruh signifikan terhadap kenaikan saham-saham keuangan khususnya perbankan. Saham-saham Bank Central Asia (BBCA) dengan bobot 11% terhadap IHSG sepanjang 2019 naik 27,6% lalu Bank Rakyat Indonesia (BBRI) dengan bobot 7% naik 21,9% dan Bank Mandiri dengan bobot 5% naik 4,8%. Kenaikan saham-saham keuangan berbanding lurus dengan indeks saham dunia yang memiliki peran sentral dalam bidang keuangan. Swiss, Jerman, Perancis, USA dan UK mencatatkan kenaikan indeks lebih tinggi dari IHSG. 

Cerita pasar modal saham sepanjang 2019 memang berwarna, tapi cenderung berwarna gelap. Terjadinya kasus-kasus di PT Jiwasraya dan sejumlah Manajer Investasi menambah kesenduan yang mendalam. Apakah ini salah satu penyebab kenapa kinerja pasar modal Indonesia sepanjang 2019 kurang trengginas?? Bisa iya, namun juga tidak. Memang pasar modal adalah tempat investasi yang penuh risiko, dari sejak saya kuliah saya sudah diajarkan oleh para dosen yang berkata: "High return is compensated with high risk." Namun tentu tidak perlu takut untuk mengambil risiko, risiko tetap diperlukan. Bagaimana perusahaan dapat memperoleh keuntungan jika tidak berani mengambil risiko. Bahkan dalam ilmu manajemen risiko di modul Financial Risk Manager, perusahaan dengan rating AAA dan AA dianggap kurang menarik karena berpotensi melakukan investasi yang amat banyak aman dengan menghindari investasi yang amat sedikit risiko. 

Yah maka dari itu sebelum berinvestasi harus dilihat dari berbagai macam sudut analisa dimana salah satunya adalah pentingnya tata kelola perusahaan . Tiap manajemen perusahaan harus punya prinsip dan pengawasan tata kelola yang baik. Investor sekelas Warren Bufett tidak tertarik untuk berinvestasi di perusahaan yang tidak dapat dipahami manajemen dan bisnisnya walaupun memberikan untung yang besar. Saat ini contoh nyata perusahaan besar  yang mengalami babak belur reputasi tata kelola adalah PT Garuda Indonesia Airways (GIAA). Reputasi GIAA rusak bukan karena kinerja perusahaan tapi tindakan dari top level manajemen yang menyelundupkan sejumlah barang masuk Indonesia. Mudah-mudahan dengan terpilihnya Menteri BUMN yang baru, Erick Thohir, dapat memperbaiki reputasi dan kinerja GIAA.

Menutup tulisan ini, saya ingin membagikan daftar 10 saham-saham yang mengalami kenaikan berdasarkan pada bobot terbesar di IHSG sepanjang 2019. Jika kita lihat daftarnya maka sebenarnya masih ada potensi investasi di saham, namun harus tahu memilih saham yang tepat. Berikut daftarnya:
1. PT Pollux Properti Indonesia Tbk (1,2%) naik 549%
2. PT Barito Pacific Tbk (1,8%) naik 213%
3. PT Sinar Mas Multiartha Tbk (1,3%) naik 76%
4. PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (2,5%) naik 72%
5. PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (0,5%) naik 67,9%
6. PT Bank Mayapada International Tbk (0,8%) naik 36,5%
7. PT Bank Mega Tbk (0,6%) naik 29,6%
8. PT Bank Central Asia (11,2%) naik 27,6%
9. PT Adaro Energy Tbk (0,6%) naik 26,9%
10. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (7,4%) naik 21,9%

No comments: