January 23, 2020

Mbah Gito Pemilik Warung Bakmi Jawa, Jogjakarta: Pebisnis Harus Kerja Keras, Jujur dan Sabar

Smart investor, jika anda penyuka kuliner di Jogjakarta mungkin anda pernah mendengar nama Bakmi Jawa mbah Gito. Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk bertemu dengan mbah Gito, nama panggilan dari Bapak Sugito, beliau adalah pemilik dari Warung Bakmi Jawa tersebut. Pertemuan itu berlangsung dua kali, pertama di pendopo seni Gunung Kidul dimana mbah Gito sedang menyiapkan tempat itu untuk mementaskan kesenian tarian/gamelan dan kedua di Warung Bakmi Jawa Jogjakarta.

bakmi jawa mbah gito
Mbah Gito dan Odith Adikusuma di Gunung Kidul
Ketika saya mengunjungi pendopo seni, bangunannya belum selesai namun saya kira sudah mencapai lebih dari 70%. Hal yang membuat saya terkagum-kagum adalah karena pendopo tersebut dibangun menggunakan pohon-pohon jati yang terkenal kuat dan mahal. Bangunan ini sangat kental budaya Jawanya, saya kira ini sesuai dengan cerita mbah Gito kepada saya bahwa beliau punya kerinduan untuk melestarikan budaya Jawa. Kemudian besok harinya saya kembali mengunjungi mbah Gito di Warung Bakmi Jawa dimana hampir sama dengan pendopo seni, Warung Bakmi Jawa Mbah Gito juga memiliki tingkat seni dan keunikan yang tinggi. Inilah salah satu faktor mengapa orang tertarik untuk makan bakmi jawa di mbah Gito, karena sebenarnya di Jogjakarta banyak terdapat bakmi Jawa lain yang rasanya juga tidak kalah enak.

Di usianya yang sudah mencapai 70 tahun (menurut perkiraan saya), mbah Gito adalah seorang yang optimis, pantang menyerah dan suka berbagi. Karakter inilah yang membuat bisnisnya berkembang sampai saat ini. Padahal menurut cerita, mbah Gito memulai usahanya dari bawah dengan berjualan bakmi Jawa menggunakan gerobak. Dia mengatakan kepada saya pernah merantau ke Jakarta namun tidak berlangsung lama karena tidak betah, kemudian dia kembali ke Jogjakarta. Nah saat kembali ke Jogjakarta, dia sempat melakukan beberapa usaha sampai akhirnya dia memutuskan untuk fokus berjualan bakmi Jawa. Sampai saat ini setidaknya mbah Gito sudah jualan bakmi Jawa selama 30 (tiga puluh) tahun.

Beberapa kali mbah Gito menekankan hal-hal utama dalam berbisnis adalah kerja keras, kejujuran dan kesabaran. Terlihat dari bahasa tubuhnya bahwa mbah Gito tidak hanya berbicara secara teoritis namun juga menjadikan ketiga hal tersebut sebagai value dirinya. Di luar sana ada pebisnis instan yang ingin segera sukses, bahkan untuk itu siap melakukan segala cara. Pebisnis-pebisnis seperti ini ingin menerima banyak tanpa mengeluarkan banyak. Padahal selalu ada keterkaitan antara apa yang dikeluarkan dengan apa yang diterima. Your effort is what you get. Saya mencoba membayangkan mbah Gito ketika merintis usahanya, jualan sampai malam hari mendorong gerobaknya masuk ke kampung-kampung belum lagi ketika berjualan dapat saja hujan turun sehingga dia tidak dapat melanjutkan berjualan.

Apa yang dihasilkan oleh mbah Gito merupakan buah dari kerja keras, kejujuran dan kesabaran yang dia pegang kuat. Dia menceritakan beberapa tahun ketika berbisnis, dia sempat menemui kesulitan sehingga bisnisnya hampir gagal. Pengeluaran usaha tidak sepadan dengan pendapatan dari penjualan. Biaya pegawai dan listrik adalah biaya tetap yang pasti ada tiap bulan, mbah Gito berpikir keras dan mengevaluasi bisnisnya. Jika bisnisnya tutup, tidak hanya keluarganya saja yang tidak dapat makan, tetapi juga karyawannya kena dampak.

Seorang pebisnis tidak boleh hanya memikirkan kepentingan pribadi, namun harus juga memikirkan pegawainya. Seorang pebisnis ketika mengambil suatu keputusan bisnis, harus dipertimbangkan dengan matang dampaknya. Saya mempunyai teman yang sudah lama bekerja dengan pemilik suatu bisnis. Teman saya adalah salah satu orang yang berada di awal bisnis dari pebisnis tersebut. Sampai suatu momen, si pebisnis berani untuk memulai suatu bisnis yang sebenarnya bukan menjadi keahliannya. Dia mulai merekrut banyak pegawai baru, bahkan pegawai asing pun dia kontrak untuk bekerja. Namun kemudian orang-orang tersebut satu demi satu keluar dari perusahaan, dan teman saya kembali sendiri. Masalahnya hampir tiap bulan selalu ada kendala penggajian yang menjadi hak nya namun anehnya walaupun kesulitan tetapi sang pemilik menganggap bahwa ini adalah risiko bisnis sehingga si karyawan harus siap bekerja walaupun belum digaji.

Akhir kata, hal yang penting dalam bisnis selain kita merintis namun juga bagaimana kita mempertahankan bisnis kita. Terkadang ketika bisnis masih ditangani oleh pendiri, bisnis berjalan dengan baik, masalah mulai muncul ketika diwariskan kepada generasi kedua. Maka dari itu pebisnis yang baik adalah pebisnis yang tidak hanya dapat membangun bisnis namun juga mempersiapkan pengganti untuk dirinya.
Bakmi Jawa Mbah Gito, Jogjakarta

No comments: